It has been 5 years...

since my last post in this was-beloved-blog. 

A long night it is today, alongside high energy to just do something that my heart wants me to. 

Turns out...

My heart wants to go back writing through this blog again. 

Writing anything. 

 Five years of dormant makes me ponder. Why did I turn aside from something that I used to love so dearly?

Five years have changed huge chunks of a "Me". 

20 kilos heavier.
Four times of changing jobs. 
Moved to different city after 10 years. 
Roller coaster-like mental health.
Love pink, blue and purple instead of black & white

Yet five years, at the same time, have not changed another chunks of "Me".

Still into fashion, but not as professional work.
Still prefer to receive "Words of affirmation" as love language.
Still a procrastinator. 
Still an ambivert who enjoys company & crowd, yet sometimes is anxious to do so. 

Today, at 2:03 AM, I got a message:

Let's not forget who you are. 
You, who are expressive.
You, who are joyful and loving inside.
You, who are way way way more than your negative self talk and overthinking byproduct thoughts.

You, who write from the heart. 

Hello you. Let us start all over again, shall we?

========

Selangor, 1 December 2019

Chapter 1: Alien yang Tidak Bisa Pulang

Sekotak Rumah Bestari

Chapter 1: Alien yang Tidak Bisa Pulang

Di dalam koper nilon abu-abu 35 kilogram, Bestari menyelipkan celana panjang terakhirnya dengan paksa. Sulitnya menutup resleting koper, ia memasukkan seluruh pakaian yang bisa muat di dalamnya. 

Koper besar, checked. Ransel kuning, checked. Tas travelling suede hitam, checked. Plastik camilan, checked. Bestari mengamati satu per satu barang bawaannya, kemudian tersenyum lega. Semua sudah lengkap. Seakan juga membuat checklist untuk tubuhnya, Bestari juga mengamati kalau-kalau ada yang masih kurang. Lipstick, checked. Eyeliner, checked, sedikit blush pipi, checked. Sepatu sandal andalan, checked. Oke, Bestari sudah siap. 

"Sudah? Nggak ada yang ketinggalan kan, nduk?" dari dapur terdengar suara ibunya, sedikit teriak. "Nggak ada, Ma," jawab Bestari, lirih. Hari ini, ia menghela napas lebih sering dari biasanya, seakan meminta penguatan di setiap tarikan dan hembusannya. Seorang perempuan keluar dari dapur, berkeringat tipis. Diulurkannya bungkusan plastik bentuk kotak untuk Bestari. 

"Nduk, ini bekal makan di kereta. Kamu hati-hati. Di sana banyak kejahatan. Jadi orang biasa-biasa saja, rak usah mencolok," kemudian perempuan itu mencium pipi dan kening Bestari. Ia membantu Bestari menaikkan barang bawaan ke bagasi sedan Corolla DX berwarna merah, bersama ayahnya. Akhirnya.

Bestari memandangi rumahnya. Rumah di Jalan Kamboja bersatu lantai yang dicat kuning muda itu tampak sayu. Sebagian besar dindingnya berjamur. Pagar yang sudah berkarat berdecit setiap dibuka. Oh, rumah ini, tempat 25 tahun lamanya Bestari hidup. Hidup? Ia risih menggumamkan kata hidup. Apa iya, di sini aku benar-benar hidup?, pikirnya.

Sudah lama Bestari merasa seperti alien. Merasa asing dan terasing dalam rumah sendiri. Ayah dan mamanya pun juga tampak seperti alien-alien dari planet yang berbeda, dan secara kebetulan ditempatkan dalam satu rumah. Memangnya dua makhluk yang berbeda bisa berkomunikasi? Memakai sandi morse pun tak mampu. Bestari bertanya-tanya, akankah kepergiannya akan membuat Bestari ingin kembali pulang ke rumah ini?

"Sudah siap, Bes?" tanya Ayah, membuyarkan lamunan Bestari. "Siap," 

Mobil Corolla milik ayah dinyalakan, terbatuk-batuk. Bestari menatap nanar rumahnya yang semakin menjauh. Kamu tidak bisa pulang, Bes. Oh iya, kamu memang tidak pernah punya tempat untuk berpulang, bukan?

Sekotak Rumah Bestari: Prolog


Prolog

Saya mengetik sedikit, kemudian meng-klik backspace - kejadian yang sama terjadi berulang kali. Tampaknya hampir dua tahun tanpa tulisan yang bermakna membuat tubuh saya resah saat dipaksa memproduksi karya tulisan yang berasal dari hati, didukung dengan rasa kantuk yang sudah berada pada angka 70%. Mati aku. Sungguh, untuk menulis tanpa embel-embel pekerjaan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Jika sering menyelami kata-kata bersama saya, kita mungkin seperti duduk-duduk di kafe terdekat, minum kopi hangat, dan mengobrol tentang berbagai hal random. Namun, kali ini saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Saya ingin bertutur melalui manifestasi tokoh dan kisah mengenai pandangan yang sangat personal mengenai sebuah rumah.

Rumah?

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar kata rumah? Rumah sering diasosiasikan dengan kata hangat - aman - rileks. Definisi umumnya adalah satu atau sekumpulan ruangan dalam satu petak tempat hidup, berlindung, dan berpulang. Memang terdengar biasa saja. Namun, bagi saya rumah adalah kata yang tercantik dalam kamus KBBI. Menurut perspektif saya dalam memandang lanskap dunia, rumah bukan hanya sepetak tanah dan sebangun bidang yang didekorasi supaya terkesan menarik. Apakah rumah di Pondok Indah lebih baik daripada rumah di pinggir stasiun Manggarai? Apakah benar bahwa definisi rumah dari Anda didapat dari iklan properti dan apartemen di televisi? 

Di dalam rumah yang sebenarnya, Anda bisa kentut sekeras-kerasnya tanpa harus khawatir akan penilaian orang terhadap nilai diri setelahnya. Di dalam rumah yang sebenarnya, Anda tidak perlu was-was sebelum tidur karena mengetahui Anda pasti akan mendengkur dengan keras dan membuat orang lain mentertawai Anda. Di dalam rumah, Anda bisa sesuka-suka bernyanyi dangdut koplo dan baik-baik saja jika terlihat kampungan. Di dalam rumah, Anda adalah Anda, seperti yang dikatakan oleh Maya Angelou: “I long, as does every human being, to be at home wherever I find myself.”

Lalu, apakah Anda benar-benar memiliki rumah?

Terkadang, rumah tidak serta-merta dimiliki, tetapi perlu dicari. Sebuah rumah yang sebenar-benarnya, sangat layak untuk menghabiskan waktu Anda mencari dalam perjalanan yang bermakna. Melalui tulisan ini, saya akan mengisahkan pencarian sebuah rumah dari seorang perempuan bernama Bestari.

Melepaskan

Melepaskan itu kata yang simpel tapi luar biasa berat.

Melepaskan adalah isu yang saya miliki selama belasan tahun, dan baru saya sadari sekarang kalau saya memilikinya.

Apa yang terjadi kalau kita melepas baju? Telanjang.

Begitulah rasanya melepaskan diri dari pikiran dan keinginan. Telanjang.

Selama bertahun-tahun saya ingin menjadi Irviene yang lain karena tidak puas dengan Irviene saat ini.

Saya ingin jadi lebih cantik.
Lebih cerdas.
Punya bakat yang cemerlang.
Lebih baik hati.
Lebih disukai.
Lebih langsing.
Lebih percaya diri.
Punya lebih banyak prestasi.
Lebih tidak suka bengong.
Dan banyak lagi.

Saya menyadari bahwa saya penuh dengan kekurangan, karenanya keinginan itu tidak bisa saya lepaskan. Malah daftarnya semakin panjang.

Hari ini saya menyadari, berkat cerita seorang kawan. Ia menikah dengan orang yang mencintainya apa adanya. Dan menurut testimoninya, setelah menikah rasanya sangat bahagia. Ia yang berwatak keras tapi tidak mau jadi dominan menemukan sosok yang langka: Tidak keras tapi dominan. Kecocokan karakteristik itu yang menurut saya membuat mereka bisa saling menerima. Dan akhirnya membebaskan dan membahagiakan. Penerimaan itu membahagiakan.

Saya banyak membaca mengenai hal ini, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda tapi memiliki satu keinginan yang sama: Ingin menjadi diri sendiri yang utuh dan jujur. "Aku melihat diriku di matamu" adalah hal yang krusial pada pernikahan. Dengan menjadi apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, kemunafikan, atau kebohongan. Menjadi rentan di hadapan pasangan menjadi hal yang lumrah, karena kita tidak harus menjadi sesuatu yang bukan kita di hadapan orang yang menerima diri kita apa adanya.

Jika saya melihat pada diri saya sendiri, saya kemudian bertanya: Apa teori itu bisa digunakan tanpa pasangan/kekasih?

Saya jawab: Harus.

Tuhan beri kita masing-masing pengalaman dan DNA yang sama sekali berbeda. Hal itu menyebabkan wajah, bentuk tubuh, dan sifat yang sama sekali berbeda juga. Sering keberbedaan itu membuat kita berkeinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik dari hidup yang saat ini dijalani. Hidup orang lain yang tampaknya lebih-lebih-lebih bersinar.

Yang lebih sukses, yang lebih bahagia, yang lebih kaya.

Saya pun seperti itu, walaupun saya tidak secara spesifik mendambakan hidup seperti milik orang yang saya kagumi, tapi saya ingin "lebih". 

Keinginan ini tanpa saya sadari memenjarakan saya.  Membuat saya merasa, "Aku tidak bahagia kalau aku segini segini saja."

Cerita teman saya menyadarkan bahwa menerima diri yang tidak sempurna adalah pengertian dari mencintai diri sendiri. Bahwa tidak apa-apa menjadi seorang Irviene yang tidak cantik, belum menemukan bakatnya, tidak begitu prestatif, dan sering bengong kalau mendengarkan pelajaran. 

Kita berusaha memperbaiki kekurangan diri sendiri, tapi juga menerima ketidaksempurnaan yang ada. Persis seperti pasangan suami-istri.

Hubungan kita dengan diri sendiri juga patut diberi perhatian berporsi besar. 

Sudahkah kamu berdamai dengan dirimu sendiri?

Menjadi Wanita

Malam ini menulis di blog tidak termasuk dalam daftar prioritas saya, tetapi saya tergelitik untuk menulis tentang topik wanita.

You can't choose life, you live one. Saya tidak memilih untuk menjadi bagian dari wanita Indonesia, but here I am. Mingling with complexity in the new generation of Indonesia.

Jika saya disuruh menilai, lebih mudah mana menjadi wanita atau laki-laki... sepertinya saya pilih abstain. Saya sudah berpengalaman selama 22 tahun menjadi wanita dan itu tidak mudah. Namun, saya juga mengerti bahwa menjadi laki-laki sama tidak mudahnya, dengan tantangan yang sama sekali berbeda.

Pertama, wanita itu indah. Physically. Yang saya mau sampaikan adalah bahwa keindahan wanita secara fisik sering menjadi bumerang bagi dirinya. Sudah kodratnya menjadi indah menjadi tantangan tersendiri. Punya tubuh seksi atau gendut, bagi saya sama saja penderitaannya. Tubuh seksi harus ditutupi sedemikian rupa untuk menghindari munculnya nafsu dari lawan jenis (which has a bad effect for us). Secara baju-iah, I can say bluntly bahwa hidup wanita jauh-jauh-jauh lebih ribet daripada pria. Punya tubuh gendut pun harus berkutat dengan penilaian-penilaian orang yang negatif. Selain itu, wanita yang memiliki berat badan di atas rata-rata seringkali dianggap tidak menarik dan memiliki kesempatan yang lebih sedikit daripada wanita lain yang standar tubuhnya mendekati barbie

Di samping tubuh, kecantikan wajah pun menjadi tantangan yang cukup menghebohkan di dunia persilatan wanita. Siapa wanita yang nggak ingin wajahnya cantik? Well, bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan wanita ingin cantik dengan berbagai alasan: kesempatan yang lebih banyak, jodoh yang lebih baik, feel better about ourselves. Tentu kita juga tidak bisa memilih mau wajah yang seperti apa (kecuali yang punya uang berlebih sehingga bisa operasi plastik di Korea Selatan). Namun, jika wanita Indonesia boleh memilih, kebanyakan akan memilih wajah putih merona, dengan kulit mulus tanpa jerawat dan komedo, well, mungkin persis seperti di iklan krim pemutih itu (yang sebenarnya merupakan pembodohan, karena muka si artisnya sudah diedit-edit sehingga menjadi artifisial).

Kedua, wanita dianggap sebagai orang yang multitasking. Come on, we all know that research about the bad idea of multitasking. Tapi by nature, we are all juggler. Mungkin otak wanita berevolusi sedemikian rupa sehingga kita bisa menjadi juggler yang lebih baik dari laki-laki. Kenapa begitu? Karena kita cenderung memiliki identitas yang lebih beragam. 

Sering tahu tentang topik dilema wanita karir? 
Saat berkeluarga, wanita akan menjadi ibu. And being a mother means you MUST make your child  as your priority. Penelitian McKinsey tentang wanita karir ini menarik. I forget the number, tapi lebih dari 50% wanita memutuskan untuk berhenti mengembangkan karir mereka for family matters. Because being a mother, wife, daughter, and also part of community can be pretty exhausting. Dilemanya, we realize that sense of achievement is pretty important. And also, we can be a better family member if we an support family financial matters. Karena itu, banyak dari wanita yang memutuskan untuk work harder as a mom and career woman. Ada satu kutipan menarik tentang ini yang saya dapat dari seorang wanita karir yang sukses, "Anak adalah amanah, pekerjaan adalah komitmen, suami adalah pengabdian. Jika ada bola yang jatuh, satu-satunya bola yang boleh jatuh adalah saya."

Ketiga, wanita itu cukup kompleks secara emosional. Berbeda dengan laki-laki, wanita lebih menginginkan perhatian dan kasih sayang daripada pengakuan dan kepercayaan. But, we, Indonesian women, live in a "modesty". Katakanlah, I love a man. I can't be so bluntly say that I love him. There's an unseen rule that a woman should keep her love in her deepest heart. It can be pretty complicated if I may say. Tidak hanya itu, masih banyak contoh kasus lain yang membuat perasaan wanita menjadi complicated. The secret is, sometimes, we just don't know what we want.

Rasa-rasanya menjadi wanita itu pekerjaan yang berat ya? Indeed. 

Tapi bukan berarti saya pesimis dan tidak suka akan kodrat saya menjadi wanita. 

Di balik segala tantangan, berada dalam tubuh wanita ini adalah hal yang sangat saya syukuri. Karena berbagai kesempatan. Kesempatan untuk menjadi ibu, kesempatan untuk menjadi keindahan dalam keluarga, and also becomes a special part in community. Terlebih lagi, kesempatan untuk melihat dunia dengan porsi kasih sayang yang besar. Apalagi di era sekarang, wanita tidak dipandang sebelah mata lagi. Banyak cerita kepemimpinan yang menginspirasi dari wanita-wanita Indonesia. 

Sungguh, sebenarnya jika wanita berfokus pada berbagai kelebihannya, we can be happier and contribute more.

You choose. Whether you worry too much about the weakness, or simply get over it and strengthen your special power as woman. 

If you ask me, I choose to be inspiration, with all things I've got in my imperfect body.
:)

Love what you do or do what you love?


Disclaimer: Beberapa percakapan dalam tanda kutip tidak persis sesuai kata-katanya, karena saya lupa-lupa ingat dan juga percakapannya ada yang pakai bahasa Jawa. Tapi intinya insya Allah sama, kok. :)

Beberapa hari yang lalu saya bertemu kawan SMA di kafe dan terlibat dalam pembicaraan cukup menarik. Tentang mau jadi apa kita ke depan. Ini adalah pembicaraan khas fresh graduate dan mahasiswa tingkat akhir. Siapa sih anak umur 20-an yang gak membicarakan ini? :)

Saya berkata, “Aku mau kerja apa aja, yang penting halal.” Lalu tatapan teman saya kemudian menjadi aneh. Well, that’s the truth. Saya memang mau kerja apa saja di Jakarta asalkan halal dan sesuai dengan tingkat gaji yang saya inginkan.

Teman saya tidak setuju dengan saya. Mungkin karena dia tahu saya tipe pemimpi, ia berkata, “Omku kerja di Bank bertahun-tahun dan menyesal.”

Teman saya sendiri (yang saat ini sedang menyusun skripsi) punya rencana yang berbeda. Ia ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari pekerjaan yang ia sukai, lalu mengejar impiannya untuk profesi yang sangat ia idam-idamkan. Dalam bayangan saya, sepertinya ia akan bekerja di perusahaan Event organizer (karena ia suka organize acara), tapi sebenarnya pekerjaan itu adalah milestone-nya untuk jadi.. entahlah. Mungkin musisi. Dia ngga mau bilang, sih. :)

Saya bilang, “Itu bagus. Lanjutkan aja.” Tapi ia tetap tidak setuju dengan rencana yang saya miliki. Lalu saya berkata, “Katamu hidup itu seperti kereta, kan? Kita ada dalam kereta masing-masing, dengan jalur yang berbeda-beda dan jalur itu ternyata mengantarkan kita pada destinasi yang menjadi jauh berbeda. Aku tetap seperti ini, kamu tetap seperti itu. Kita lihat nanti, bagaimana tujuan akhir kita.”

Kita pulang ke rumah masing-masing dan perdebatan itu masih ada dalam kepala saya.
Saya rasa, this is all about passion.

Dalam postingan saya sebelumnya, saya berkata bahwa saat ini setiap orang selalu bilang passion, passion, passion. Ikuti kata hati, ikuti lentera hati. Maka kamu akan sukses dan berkarya secara luar biasa.

Ada banyak sekali contoh orang-orang yang berani mengikuti passion-nya. Wahyu Aditya, Diana Rikasari, Sonia Eryka Moe, Mas Erwin Parengkuan, dan lain-lain. Yes, they are succeed in what they love. The do what they love.

Namun saya pikir, jika itu satu-satunya jalan untuk menjadi bahagia dan sukses, ngga juga.
Mana ada orang muda seperti saya (dan mungkin Anda) yang berkata, “Kebab adalah passion saya”. Tapi pemilik Kebab Baba Rafi bisa sukses menjadi entrepreneur kebab di Asia Pasifik.
“Resleting adalah passion saya…” Saya jamin ngga akan ada. Tapi lihatlah YKK, perusahaan resleting nomor satu di dunia yang bisa besar hanya dari jualan resleting.

Saya rasa, jika semua orang ingin mengejar passion-nya, kebanyakan orang ingin berprofesi sebagai musisi, tukang gambar, guru TK, pekerja seni, pekerja film, artis, traveler, arsitek, fotografer dan profesi-profesi impian banyak orang.

Gimana dengan profesi HRD, sales, technical manager, bankir, sekretaris, PNS, administrator dan profesi-profesi lain yang tampaknya, “What the hell, I don’t care” dan “It’s so boring”? Walaupun tampak boring dan tidak sesuai dengan passion yang dimiliki, admit it, pekerjaan-pekerjaan itu dibutuhkan dan selalu ada pengisinya dalam dunia kerja.

Mungkin karena itu, Tuhan juga menciptakan, “Love what you do” dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Saya pikir, perdebatan saya dan teman saya tidak akan ada habisnya, karena tidak ada yang salah.

Saya memilih jalan mencari profesi yang nantinya akan saya sukai dan berkontribusi di bidang itu. I will “love what you do”, first. Iya sih, saya memang juga akan picky sama pekerjaan saya, tapi pemilihan itu berdasarkan beberapa kriteria yang tidak banyak hubungannya dengan passion saya. Namun, saya juga “do what you love”, bukan dalam bentuk profesi, tapi dalam bentuk hobi. Saya suka musik, menyanyi, dan fashion. Saya pribadi, tidak berkeinginan punya profesi sebagai violinist atau designer, karena simply saya ngga mau main biola atau beli baju unik sambil mikirin duit.

Teman saya memilih untuk “do what you love”, first. Dan itu sangat bagus, karena ia tidak perlu banyak adaptasi dan akan total mengerjakan hal yang ia sukai. Dan dengan visinya yang sudah ia bangun selagi muda, ia adalah the next raising star.

Kedua jalan tersebut telah terbukti mendatangkan pemenuhan jiwa dan pemenuhan materi. Selama tidak melanggar etika, moral, dan kata hati, saya rasa keduanya akan menjadi jalur berbeda tetapi sama-sama menantang dan menyenangkan. Amen for that. :p

One more thing, you can see the word ‘passion’ as a concept or as a tool. Maksud saya, jika Anda melihat passion sebagai tool, maka hal itu akan menjadi sangat spesifik, dan menjurus pada profesi, contohnya: Biker, Skateboarder, Football player. Namun jika Anda melihat passion sebagai konsep, maka hal itu menjadi sangat luas, contohnya: “Passion saya adalah membuat hidup orang lebih berarti melalui pengajaran yang diberikan”, maka mau jadi tukang sampah pun, sudah bisa memuaskan passion Anda selama Anda memberikan pengajaran cara distribusi sampah pada tukang-tukang sampah junior.

Saya rasa, setiap orang memang punya jalur yang berbeda-beda, tetapi bermuara pada beberapa keinginan terdalam yang sama, seperti kebebasan, kelimpahan, kebahagiaan, keamanan, atau aktualisasi diri. Selama profesi Anda bermuara pada hal-hal tersebut, saya rasa profesi apa pun tidaklah menjadi soal. Teori Maslow hebat dalam menjelaskan hal itu.

Yang penting, mengutip kata Dhani Irawan (yang selalu jadi panduan saya hingga sekarang), “Nikmatilah!” 

Cinta Ibu


Aku ingin mencintaimu layaknya cinta seorang Ibu
Yang tetap mencintai anaknya dengan sepenuh hati apa pun yang terjadi di antara keduanya
Aku tidak ingin mencintaimu seperti seorang anak
Yang selalu ingin merasa dicintai
Sehingga ketiadaan perasaan itu akhirnya hanyalah bisa membuatnyamenderita

Ainun Chomsun, Kartini Masa Kini


Peringatan Hari Kartini selalu mengingatkan Indonesia akan adanya kesetaraan. Perempuan kelahiran Jepara ini adalah seseorang dari kalangan priyayi yang dengan gigih mendirikan sekolah wanita di beberapa daerah di Indonesia di saat di mana wanita memiliki status sosial yang rendah sehingga tidak dianggap pantas untuk mendapat pendidikan yang layak. Tidak hanya itu, buah pikiran Kartini semasa hidupnya juga dibukukan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini adalah kumpulan surat-surat Kartini pada sahabatnya di Belanda mengenai pemikirannya terhadap kondisi sosial perempuan pribumi. Gugatan dan kritikan dilayangkan pada budaya yang menghambat kemajuan perempuan. Terbitnya buku yang semula berasal dari surat-surat Kartini pada rekannya di Belanda membawa inspirasi bagi masyarakat Indonesia dan dunia mengenai kesetaraan pendidikan. Sebagai seorang yang berjuang dan percaya bahwa perempuan pribumi pantas mendapatkan pendidikan layak di negeri ini, Kartini memang pantas dianugerahi predikat pahlawan nasional Indonesia.


Saya percaya setiap orang memiliki Kartini-nya masing-masing, yaitu para perempuan hebat yang menginspirasi mereka melalui semangatnya dalam memperjuangkan apa yang dianggap benar. Sebagian besar orang, termasuk saya, tentu menganggap bahwa sosok ibu masing-masing adalah Kartini sejati. Ibu adalah simbol dari kasih sayang dan dan tentunya juga simbol atas perjuangan terhadap kesetaraan, bahwa anaknya berhak mendapatkan hidup terbaik melalui aksi-aksi nyatanya yang penuh pengorbanan.


Saya ingin mengenalkan satu buah nama yang saya rasa juga sangat layak disebut Kartini dalam hati Anda selain sosok Ibu. Ialah Ainun Chomsun (@pasarsapi), seorang pejuang kesetaraan pendidikan di Indonesia masa kini. Saya tidak mengenalnya secara personal, tetapi berikut adalah sepak terjangnya dalam membuat pendidikan di Indonesia terasa lebih horisontal untuk semua masyarakat.














Ainun Chomsun adalah pendiri Akademi Berbagi (@akademiberbagi), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen untuk menyebarkan pengetahuan dan pendidikan melalui kelas yang terbuka untuk siapa pun yang ingin mendaftar. Ia adalah ‘kepala sekolah’ dari sebuah tempat belajar untuk semua. Tanpa batasan biaya, tanpa batasan strata. Visi dari Akademi Berbagi seperti yang dikutip dalam situsnya adalah: “Menjadi sebuah wadah pembelajaran, yang menghubungkan orang-orang yang berilmu dan berwawasan dengan orang-orang yang ingin belajar dengan mudah, dan akan ada di setiap kota di seluruh Indonesia.” (www.akademiberbagi.com, 2013)

Akademi Berbagi dilatarbelakangi oleh keadaan sekolah Indonesia masa kini yang semakin berjarak dengan dunia karya (atau sering disebut dunia ‘nyata’). Dengan tembok yang tinggi dan pagar yang tertutup, sekolah seakan hanya untuk kalangan orang yang mampu secara intelektual dan finansial. Tidak lulus seleksi, tidak bisa masuk. Tidak punya uang, jangan bermimpi untuk sekolah tinggi-tinggi. Padahal, selepas mengenyam pendidikan formal, seringkali para lulusan menjadi canggung dengan dunia yang akan dihadapinya karena, simpel saja, tidak terbiasa. Malahan, banyak di antara mereka yang bingung mau menjadi apa setelah lulus. Sudah terlalu banyak cerita mengenai jumlah pengangguran terdidik, atau pun pekerja terdidik yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tepat dengan pekerjaannya. Dengan Akademi Berbagi, setiap orang dari berbagai usia dapat belajar secara gratis melalui para ahli di bidangnya masing-masing. Subyek pelajaran yang diajarkan pun bervariasi, mulai dari ilmu periklanan, fotografi, keuangan, teknologi, dan masih banyak lagi.

Awal mula Akademi Berbagi adalah bulan Juni 2010, yaitu pada saat Ainun memiliki keinginan memperdalam ilmu periklanan dan dengan ‘iseng’ me-mention akun Twitter Bapak Subiakto CEO Hotline Advertising untuk mengajarkan Copywriting. Beliau secara mengejutkan membalas, “Saya mau dengan syarat bisa mengumpulkan 10 orang untuk diajari”. Ainun segera mencari teman belajar melalui Twitter dan berhasil mendapatkan 25 rekan. Sejak saat itu, Ainun semakin rajin menggelar kelas gratis dengan mendatangkan praktisi-praktisi terkenal karena passion-nya bahwa pengetahuan adalah milik semua orang. Akademi Berbagi kemudian dibentuk dengan beberapa volunteer yang membantu Ainun. Nama-nama besar seperti Boediono Darsono, Yoris Sebastian, Clara Ng, Anies Baswedan, Handry Santiago, dan Rene Suhardono dengan senang hati membagikan ilmunya di Akademi Berbagi tanpa dibayar. Kebanyakan pemateri di Akademi Berbagi menganggap bahwa kepuasan dari memberikan manfaat bagi orang lain adalah bayaran yang setimpal.

Saat ini, Akademi Berbagi sudah ada di 36 kota dengan ribuan siswa dan ratusan volunteer dengan latar belakang yang sangat beragam. Berkembangnya internet dan media sosial adalah satu titik tolak penting dalam menjadikan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang. Ainun sendiri mendapatkan berbagai penghargaan berkat komitmennya untuk kesetaraan pendidikan melalui Akademi Berbagi. Salah satunya adalah penghargaan dari Bubu Award sebagai Digital Community Leader pada tahun 2011.

Sosok Ainun Chomsun adalah bukti bahwa semangat RA Kartini untuk menyetarakan pendidikan berkembang begitu pesat berpuluh-puluh tahun setelah ia wafat. Pendidikan sebagai pilar penting bagi kemajuan bangsa patut untuk diperjuangkan masing-masing dari kita dan kontribusi Ainun Chomsun adalah salah satu bagian yang bersejarah bagi perjuangan tersebut.

Menurut saya, saat ini, kita dianugerahi masa yang sangat mendukung kemajuan pendidikan. Internet menjadikan pengetahuan sebagai milik bersama dan dapat diakses siapa pun dan kapan pun. Jika pun belum memiliki waktu dan tenaga untuk kemajuan pendidikan orang lain seperti yang dilakukan Ainun Chomsun, adalah tanggung jawab bagi diri sendiri untuk memiliki pendidikan setinggi-tingginya melalui segala sarana yang dipunya. Bagaimana pun, saya percaya bahwa life is all about learning, then sharing. Jika Anda juga percaya hal ini, lakukanlah... layaknya Kartini dan Ainun.

Selamat Hari Kartini. :)

Living a black and white life

Hidup hitam putih?

Hidup monokrom. Terkotak-kotak. Membosankan. Living in a box. Diam-diam mengecewakan.

Hidup penuh pengandaian. Takut-takut. Malu-malu. Meragu. Dan tidak percaya diri.

Hidup dalam diam. Mempertanyakan hanya di balik resleting. Tidak nyaman dengan diri sendiri. Berharap sebaiknya diri tidak pernah ada di dunia.

Rutinitas yang disesali tetapi tidak berani didobrak.

Hitam putih.

Satu jenis kehidupan yang tidak patut diberi penghidupan. Tak layak berdesakan dalam barisan waktu hidup yang hanya satu kali ini.

Namun, kamu mengalaminya, bukan?

Kamu tahu mana hidup yang benar yang seharusnya pantas kamu jalani, tapi kamu tetap memilih hidup hitam putih?

Para manusia teori, hidup-hidupilah teorimu. 

Beranilah.

Anyway..

Melihat degradasi jumlah postingan blog dari tahun 2011 hingga 2013, bisa dipastikan saya ingin berkomitmen untuk menulis lagi. :)

Bismillah.