Connection

Irviene:

Saya menonton Happy Feet 2. Another remarkable hollywood cartoon, menurut saya. You know, di setiap film kartun hollywod, selalu ada pesan moral yang luar biasa menyentuh tanpa harus menyisipkan banyak adegan seks.


Satu pesan yang masih saya ingat dalam Happy Feet 2 adalah bahwa,
"Whatever our decisions is, it will affect the whole world in a way you would never imagine."
Pesan ini diceritakan dengan indah dalam scenes tentang seekor udang yang memutuskan untuk keluar dari fitrahnya menjadi hewan yang selalu berkumpul dengan jutaan udang lain lalu melihat dunia yang lain, yang pada akhirnya, tanpa diduga menyebabkannya menjadi penyelamat kehidupan jutaan Penguin Emperor.

Dunia seperti punya koneksi antara makhluk satu dengan lainnya, antara zat satu dengan zat lain, untuk membentuk causes yang tidak kita sadari. Saya jadi ingat teori "The Butterfly Effect" oleh Lorenz yang menyatakan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menyebabkan badai tornado di Texas. Ini menandakan bahwa memang sebenarnya semua kombinasi peristiwa yang dialami seorang manusia, makhluk, atau zat pada dasarnya merupakan fenomena yang bersifat acak namun saling terhubung satu sama lain. The world is connecting.

Untuk menambah referensi tentang koneksi ini, saya sarankan menonton film dokumeter Al Gore "An Inconvenient Truth" juga.

Mengetahui itu, seharusnya kesadaran saya bertambah. Kesadaran pertama, adalah bahwa kepercayaan kebanyakan orang yang menyatakan bahwa kita hanyalah satu di antara milyaran manusia yang tak berefek apa-apa adalah salah. Kita tidak kecil karena sekecil apa pun keputusan kita, itu dapat mengubah dunia. 

Kedua, karena kita semua terkoneksi, selfish is definitely not the right way to live. Saya selfish, hingga saat ini pun saya masih selfish, egois, saya tahu itu. Saya cuek sama keadaan sekitar, sering tak mau tersenyum kepada sekitar orang, dan tak banyak perhatian kepada orang-orang yang berada di sebelah saya (yang kata Ajahn Brahm notabene adalah orang paling penting di dunia). Tapi cukup sampai di situ. Sudah cukup sampai hari ini saja. Saya mau berubah. Well, Kalau tiap hal tercipta sebenarnya untuk hal-hal yang lain, bukankah itu berarti apa yang kita tiap-tiap manusia ini alami, sebenarnya adalah juga karena adanya keadaan lain di luar sana?

We are all responsible with the world as it is now.

Saya sedih karena saya masih egois. Saya memang masih sering merasa disconnected from the world. 

Tapi saya sedang mencoba untuk tidak tidak lagi. I mean it.

How about you? How about your thought?

Untuk semua aktivis


Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu. 

Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia. 

Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus  mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang  9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.. 

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ? 

Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku.. 

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?

Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu.. 


Entah siapa yang menulis ini. Yang jelas saya speechless.

kadang-kadang

saya penasaran sekali, dia yang entah siapa itu belum datang-datang juga. siapa ya, dia?
tapi saya tahu, sebelum bertanya siapa dia, saya harus bertanya,

"Siapa sih saya?"










karena belahan hatimu hanya seindah jiwamu.

DOREMI

I have been officially in love with Budi Doremi's song since it was played in Dahsyat RCTI for the first time.
Today, I play that song over and over, and it really makes me feel good. The pressure of those papers and those similikitiw prikitiw tests are not strong enough to defeat the happiness of this song! yeea. smile again :)
Thanks, Budi!




Video of Business Negotiation

Irviene:
In this semester I have Business Negotiaion Class. This Mrs. Anita class is soo exciting, because we get movie making project about Business Negotiation. This class give me another passion of mine. Be a movie director! Yay!

Enjoy the amateur video of Irviene, Indah, Ema, Vina, Thalita, Fifie, and Mayang :)

Tikus itu saya sendiri

Irviene:
Kalau saya adalah umat Katolik, mungkin saat ini saya sedang berada di gereja, melakukan sakramen atau pengakuan dosa atas apa yang sudah dua puluh tahun ini saya lakukan.


Hari ini, hati ingin berbicara mengenai satu dosa. Namun, sebaiknya saya mulai dengan sedikit bertutur cerita.


Menurut pandangan pribadi terhadap diri sendiri, selama ini saya adalah orang yang cukup lurus. Jalan saya tidak banyak belokan. Hidup sebagai anak sekolah biasa yang menjalani kehidupan umumnya anak seusia saya. Saya tidak pernah membunuh, merampok, mengedarkan pistol secara ilegal, atau narkobaan di tempat dugem. Mungkin sering jalan saya melenceng, selayaknya manusia yang maha khilaf. Namun secara garis besar, belum  ada (dan semoga tidak ada) 'dosa luar biasa' yang membuat saya harus beser bertahun-tahun di penjara.

Satu dosa yang saya akui ini, adalah satu belokan kecil, tetapi saya lakukan bertahun-tahun.

Saya MENYONTEK.
Sejak SMA hingga kuliah.

Dari kelas satu SMA, saya selalu mengandalkan orang atau hal lain dalam mengerjakan ujian saya. Mulai dari bertanya kepada teman, membaca buku paket, membuat rangkuman dengan ukuran font 2 di sobekan kertas, catatan yang fotokopi diperkecil, wah tekniknya ada banyak sekali!

Bagi saya, mata pelajaran di SMA itu mendzholimi. Saya harus mempelajari secara mendalam hal-hal yang tidak menarik minat saya. Saya kurang peduli mengenai bagaimana resistor bisa mempengaruhi arus listrik dalam pelajaran Fisika. Saya tidak bisa tertarik menghapalkan jembatan keledai untuk tabel periodik unsur Kimia. Saya heran seheran-herannya mengapa saya harus belajar begitu banyak mata pelajaran yang bisa membuat kepala saya pecah. Hanya ada tiga hal yang saya sukai waktu SMA: Pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Istirahat. Tapi saya tidak akan lulus SMA jika saya sekolah hanya untuk tiga hal itu.

Saya mau bebas dari segala hapalan-hapalan itu! Tapi saya tidak mau masa depan saya dipertaruhkan oleh penurutan atas kemauan saya.

Akhirnya saya menyontek. Pikiran saya bertitah, "Yang penting lo lulus. Apa yang lo pelajari hari ini, segala tabel periodik dan resistor itu, gak bakal ada di kehidupan yang akan lo jalani nanti."

Kebetulan teman-teman saya banyak yang pintar. Si anu pinter Fisika. Si unu pinter Kimia. Si ono pinter Biologi. Well, saya harus memanfaatkan sumber daya manusia sebaik mungkin demi nilai rapor dan hasil ujian yang maksimal, dong! Namun, khusus untuk mata pelajaran kesukaan saya, saya bisa menyombong dengan memberi contekan kepada teman-teman.
Itulah yang diajarkan pada saya. Bahwa yang penting sekolahmu haruslah menghasilkan satu lembar ijasah "LULUS", and you're gonna be success.

Ijasah itu kemudian menjadi momok bagi saya dan teman-teman. Kata "TIDAK LULUS" menjadi aura ketakutan yang berlebihan bagi sekolah saya. Kami melalui berpuluh istighosah, berpuluh try out, beratus kali pertemuan bimbel. Bahkan saat Ujian Nasional, karena ada banyak sekali bocoran kunci jawaban, saya harus menuliskan semuanya agar bisa 'selamat'. Dua bocoran di belakang kartu ujian, dua bocoran dituliskan di meja ujian, dan dua terakhir di-tatto temporer pakai bolpoin di kulit tangan. Saat itu prinsip saya, "Sesudah dosa menyontek gue bisa tobat, tapi kalau gak lulus, tamatlah riwayat di dunia!".

Saya sudah lulus SMA sekarang. Tapi yang dahulu tidak saya sadari, seiring dengan itu, saya juga menjadi Irviene Maretha S.cn. atau dengan kata lain Irviene Maretha Sarjana Contek.


Gelar sarjana contek memberi saya CV yang bagus. Well, bagaimana tidak, hasil ujian nasional enam mata pelajaran saya waktu SMA adalah 52.85 (dengan nilai maksimal 60.00). Which means, nilai saya rata-rata hampir mendekati 9.00. Dan bahkan, pelajaran Fisika dan Kimia yang bagi saya lebih menyeramkan dari Suzanna masing-masing mendapat nilai 9.75!


Shit happens, huh?



Keahlian itu, saya terapkan juga pada tahun pertama kuliah saya di Paramadina. Saya mencontek dan dicontek, walaupun tidak parah. 

Kadang saat benar-benar stuck dengan satu soal, saya bertanya kepada teman sebelah saya. Kadang saat teman saya terlihat kesulitan mengerjakan soal, saya bantu dia dengan tangan terbuka.

Kedoknya sih solidaritas. Tapi sebenarnya hati saya tidak pernah merasa seperti itu. 

Hati saya berkata, "Pin, kamu sering mengolok-olok koruptor, tapi tidakkah kamu sadar kalau tikus yang divisualisasikan dalam stiker-stiker KPK itu adalah kamu sendiri?"

"Pin, kamu mendukung pemberantasan korupsi. Kamu sebal, kan, kalau banyak polisi yang ambil untung di jalan, kamu sebal kan kalau kondisi jalan banyak yang rusak. Tapi kenapa kamu sendiri korupsi nilai ujian?"

Tikus itu saya sendiri.

Kenapa saya korupsi? Saya benci sistem pendidikan berbasis hasil akhir, mungkin karena itu saya korupsi nilai dengan menyontek. Saya balas kedzholiman dengan kedzholiman. Tapi pada akhirnya, saya sendirilah yang tersakiti dua kali. Masa sekarang dan masa depan sayalah yang saya sakiti sendiri. 

Gila, saya tidak percaya saya bisa menangis saat menulis ini.

Saya korupsi sekarang, maka saya akan korupsi nanti. Saat saya jadi pengusaha nanti, mungkin saya akan mendzholimi tiap kendaraan yang berjalan di atas jalan yang rusak karena pajak yang tidak saya bayar. Saya turut andil dalam mendzholimi para Ibu di NTT yang tidak punya akses kesehatan memadai atas anak-anak mereka karena kewajiban yang tidak saya bayar penuh. 

Sekarang saya sedang berusaha kembali menyusuri belokan-belokan kecil yang telah saya lalui di masa lalu, dan mendongak lurus, ke depan. Saya tahu ini pasti akan sulit, sulit sekali. Pada saat saya lemah, mungkin nanti saya bisa berbelok lagi. Tapi saya akan berusaha mengingat tangisan ini saat saya lemah.

"Yang penting lo berproses, apa yang lo pelajari hari ini, segala tabel periodik dan segala resistor, mungkin memang gak bakal ada di kehidupan yang lo jalani nanti. Tapi ada yang lebih penting yang harus lo pelajari saat lo belajar tentang resistor dan tabel periodik. Yaitu








 pelajaran memilih hati nurani."


Babbling Lady:
"Hanya ada satu yang menjadi negaraku. Negara yang dibangun dengan perbuatan, yaitu perbuatanku."

Featured on StreetHijab



One day, I met Dhatu Rembulan in a mall in Jakarta. Kharisma Creativani is the one introduce me to her. Dhatu is a Yogyakartans hijaber that also be a model in Casa Elana. She makes a website named StreetHijab. 

streethijab.com adalah kumpulan cerita, gambar dan biografi hijabi dari berbagai latar belakang yang saya temui.bukan hanya tentang fashiontetapi juga tentang keberanian dan keyakinan merekadan itulah mengapa saya mengagumi merekaterinspirasi oleh keluarga saya, teman-teman, dan pekerja seni yang selalu inspiratif.saya berharap blog ini dapat memotivasi wanita Muslim untuk memperkaya diri kita sendiri

It's awesomeness and I'm pretty inspired by her movement. I feel so honored can contribute to this movement.
Please enjoy my story here! :)

Hijabers all over the world, READ THIS!

Irviene:

Several months ago, I knew Maria Elena, from her blog. Maria is a Malaysian blogger and also hijabers that makes the new trend of fashion in veil in Malaysia with her hijaber blogger friends (called The Scarflets). When I first knew her blog, I was like... loving her at the first sight. She is one of my role model. In my eyes, she has a great life, because she is living it with never ending learning. And one thing that I admire from her is... she is very funny in an original way!
Her latest post is the most mesmerizing post of her blog, entitled "Tentang Hijab", about the way Malaysian muslimah have become nowadays (and also, Indonesian muslimah, in my opinion). It's about fashion, that become kind of obsession in hijabers eyes. This post kick me in a very modest way. Enjoy!

fashion becomes an obsession. modelling becomes a passion.beautification becomes a necessity.
muka bogel takde eyeliner pun dah rasa resah. dapat gambar photoshoot, rasa bangga sampai upload merata-rata (blog, tumblr, facebook, twitter, etc) expecting people to tell you how good you're looking. parallel to that, jadi riak, and riak is salah satu attributes yang Allah SWT hina.*slaps myself real hard*
how la like that?
what will happen if the younger generations who wears the hijab terjebak with all this craze and influenced by it, thinking that looking good, being fashionable and photoshoots are more important than learning/improving? how about when they start to crave for fame?i worry that they will spend more energy on being beautiful and getting noticed, hence become more materialistic and self-obsessed than they should be, forgetting the fact that whatever were given naturally, are blessings from Allah SWT. ~MARIA ELENA

Apa Cita-citamu?

Irviene:
Seberapa sering pertanyaan ini diajukan padamu?
Tiga ratus kali? Lima ratus kali? Tak bisa menghitungnya?

Baru kemarin kakak saya menanyakan ini pada saya,
"Kamu pengen jadi apa, Pin?"

Well, saya pengen jadi apa? Saya berpikir terlalu lama, sehingga hanya menjawab suatu profesi yang ingin ia dengar saja. Yah, saya menjawab sekenanya.

Sejak saya masih minum susu Dancow pakai dot, hingga sudah mahasiswi tingkat tiga seperti ini, pertanyaan itu masih membayangi saya.

"Apa cita-citamu, Pin?"

Saya sendiri, terkadang juga menanyakannya pada beberapa teman saya. 
Sekarang, saya merasa seharusnya saya tak menanyakan itu, pada siapa pun.

Di dunia ini, memang segalanya perlu dilabeli suatu takaran, agar manusia lain mengerti apa yang kita mengerti. Saya beri contoh, seperti gambaran neraka dan surga di buku-buku bacaan. Saya masih ingat (tumben), neraka di buku saya waktu saya masih kecil isinya sangat menyeramkan. Si setan yang bermuka monster, bertelinga panjang, berwarna merah sedang menyetrika punggung manusia yang konon dulunya tidak suka sholat lima waktu memakai setrika raksasa (Entah setrikanya disponsori merek apa). Ada lagi gambaran manusia yang dipotong tangannya, lalu tangannya tumbuh lagi, dipotong lagi, tumbuh lagi. Konon dulunya manusia ini suka mencuri. Ada lagi yang memakan sayur busuk terus-terusan karena dulunya suka menghardik anak yatim.

Surga? Wah, tentu saja 180 derajat sama sekali berbeda. Di surga kita semua muda, cantik, dan ganteng. Banyak buah-buahan, air jernih mengalir deras, lalu banyak sekali bidadari yang melayani kemauan kita, dengan baju-bajunya yang indah-indah dan mukanya yang subhanallah itu. Tak lupa di sana kita juga akan bertemu dengan Rasulullah, Nabi Muhammad S.A.W. 

Apa iya surga dan neraka seperti itu? Tentu saja TIDAK!

Memang saya tidak bisa memberikan bukti, tapi saya yakin sekali surga dan neraka tidak seperti itu. Menurut saya, itulah kekuatan analogi. Kita, para manusia yang kreatif ini, berusaha menggambarkan rasa sakit luar biasa yang ada di neraka dengan hal-hal yang bisa kita ukur, bisa kita takar. Well, kalau kamu tahu rasa panas setrika di jarimu, kamu akan bisa membayangkan bagaimana setrika itu menggosok-gosok punggung mulusmu, kan? Begitu juga dengan surga. Anggur, bidadari, air jernih, kecantikan, itu semua adalah hal yang membahagiakan. Itulah analogi surga. Sesuatu yang sangat membahagiakan. (padahal, kalau saya di surga saya mah maunya bidadara, bukan bidadari. Huahaha) 

Lalu bagaimana sebenarnya surga dan neraka itu? 
Maaf ye Pak, Bu. Tema hari ini gak ngebahas itu. Hehehe.

Nah, jika analogi ini dihubungkan dengan isu cita-cita, saya menjadi lebih mengerti mengapa manusia menanyakannya pada manusia lain. Mari kita simak sejenak demo ini.

Demo #1:










Kalau kita jawab suatu profesi yang menjamin keamanan finansial, muka Si Penanya Cita-Cita (SPCC) jadi sumringah dan penuh harapan.


Demo #2:










Kalau kita jawab sesuai dengan visi misi hidup, SPCC jadi bingung. Linglung.

Demo #3:










Kalau kita jawab profesi yang aneh dan gak flamboyan, muka SPCC jadi SumpeLoSumpeLoSumpeLo

Demo #4:
 









 Kalau kita gak bisa jawab... SPCC jadi hopeless sama masa depan kita.

SPCC punya kecenderungan menganalogikan profesi yang mapan dan necis dengan cita-cita yang tepat. Bagi mereka, profesi dokter tampak lebih elegan dibandingkan jawaban-jawaban abstrak seperti visi misi atau pekerjaan tak lazim. Dan yang terakhir, bagi yang tidak mengetahui cita-citanya, dianggap sebagai orang kelas dua yang sudah bisa dipastikan gak akan jadi 'orang' di masa depannya nanti.

Kok kesannya jadi menghakimi ya? Apa iya sebegitu pentingnya cita-cita sehingga kita pantas untuk menghakimi? Saat pertanyaan itu saya ajukan kepada diri sendiri, saya jawab... tentu saja TIDAK!


Bagaimanapun nampak indahnya masa depan di mata kita, masa depan masih menjadi hal yang semu. Satu-satunya masa yang kita hadapi bersama sekarang ya...  masa sekarang. 


Jika cita-citamu adalah musisi, lalu suatu hari tangan kakimu kena strooke sehingga tidak bisa main gitar lagi, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia. 
Jika cita-citamu adalah orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, lalu suatu hari ternyata nusa atau bangsamu perang saudara dan menjadi negara yang terpecah belah, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia.
Bahkan jika cita-citamu adalah seorang tukang sampah penghilang semua kotoran di kampung,  lalu suatu hari kamu diperkosa dan merasa jadi orang paling kotor di kampungmu, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia.


Saya sama sekali tidak bermaksud menyumpahi. Saya pribadi berdo'a agar kebaikan selalu menyertai kita. Namun, seberapa seringkah dalam hidup kita, si masa depan ini menjadi suatu hal yang sama sekali berbeda dengan yang kita bayangkan, karena ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah?


Saya tidak menganjurkan untuk tidak mempunyai cita-cita. Bukan itu tujuan saya menulis hal ini. Saya hanya ingin, agar kita bisa terbuka atas segala kemungkinan yang ada dan menikmati segala fluktuasi hidup yang diakibatkannya. Cita-cita adalah arah yang kita takar sendiri. Mungkin ramuannya terdiri atas passion, kemauan orang tua, pengaruh artis, dan sebagainya. Namun, sepertinya yang harus disadari adalah, tidak ada jalan setapak dalam hidup manusia. Arah tetaplah arah, tetapi itu bukanlah yang sebenarnya. Kenyataannya, mungkin saja kita jadi berbelok, karena memang harus, atau karena memang kita sendiri yang mau berbelok. 


Bagaimana pun, kesadaran ini penting untuk dimiliki, sehingga kita mampu memperjuangkan hal yang bisa kita ubah, menerima hal yang tidak bisa kita ubah, serta mengetahui perbedaan keduanya.


Cita-cita? Hanyalah bagian dari perjalanan kita yang tiada duanya ini.


Jika ada lagi yang menanyakan cita-cita kepada saya, saya akan jawab..
"Tak terbatas, teman!"


Babbling Lady:
Susan susan susan, kalau gede, mau jadi apa?
Aku kepingin pinter biar jadi dokter
Kalau, kalau, kalau jadi dokter kamu mau apa?
Aku mau nyuntik orang lewat, njus njus njus...
-Ria Enes & Susan, Aku Punya Cita-cita-


Bahkan Susan bisa lebih realistis daripada kita! :)

SAYA .


Irviene Maretha. Hanyalah seseorang dengan bekal dari lahir wajah biasa saja, tingkah wajar-wajar saja dan tampilan fisik seadanya. Hidupnya, jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga juga sangat ordinary. Hanya terdiri dari bangun pagi, gosok gigi, kuliah pagi-pagi, tidur malam hari, lalu bangun pagi lagi. Bisa dibilang ia adalah tipikal ‘the girl next door’.  Tipikal yang jika orang-orang bercerita sesuatu tentang dirinya mungkin saja akan diembel-embeli kalimat ‘si anak yang siapa itu ya, namanya... aku lupa’. Namun tidak, orang-orang tidak pernah melabelinya dengan ‘Idiih, si antisosial yang –plis deh- gak tahu dimana Monas’. Ia juga bukan “si pagi-kuliah-malam-dugem” serta stereotype-stereotype lainnya. She’s not a geek, nor an it girl. Ia hanya remaja-beranjak-dewasa yang biasa. Biasa, biasa, dan biasa saja.

Sejarah pendidikannya sama seperti kebanyakan remaja seumurannya. Ia pernah melewati masa-masa taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, SMA,  dan sekarang sedang berusaha keras menyeimbangkan kehidupan eksternal dan internal perkuliahannya agar tetap berada di jalur yang benar. Ia tidak pernah tinggal kelas, tetapi juga tidak pernah meraih predikat bintang kelas. Ia pernah mengikuti beberapa lomba. Sebagian menang, sebagian lagi kalah. Seperti yang sudah disebutkan. Sebenarnya ia hanya biasa, biasa, dan biasa saja.

Ia suka mendengarkan musik. Ia gemar membaca buku. Menyanyi di kamar mandi juga salah satu yang paling disukainya. Ia kadang-kadang masih kalah dengan nafsu ‘menyontek sedikit lalu mendapat nilai lumayan bagus’ daripada ‘jujur tetapi mendapat nilai nol koma lima’. Ia penganut paham bahwa penghargaan diri sendiri sangatlah penting, salah satu media penyalurannya adalah kamera. Ia sangat suka menonton film dan antisinetron. Ia menyukai dan membenci hal-hal yang disukai dan dibenci remaja-beranjak-dewasa seumurannya. Oh... sepertinya ini adalah kali terakhir kalimat ‘Ia biasa, biasa, dan biasa saja’ dilontarkan.

Lalu apa yang membuat ‘si biasa’ ini memberanikan diri menulis profil dirinya?
Karena ada satu hal yang pada akhirnya membuatnya tidak biasa. Satu hal simpel yang dilakukannya, tetapi tidak banyak dilakukan oleh banyak remaja seumurannya, bahkan sering tidak dilakukan oleh orang-orang dengan umur jauh di atas dirinya.
Ia berani bermimpi, berkembang, dan membuat perbedaan yang jauh lebih besar daripada besar tubuhnya. Muluk-muluk memang kata orang-orang. Tapi bukankah mimpi itu bukan hanya sekedar imaji atau bahkan hanya ilusi? Dan bukankah perkembangan adalah hal yang seharusnya diperbolehkan masuk ke dalam kehidupan setiap manusia?

Banyak sekali mimpi yang ada di kepalanya juga hatinya. Banyak juga perkembangan yang ingin ia alami dalam perjalanannya, baik untuk hati, pikiran, tubuh, atau ruhnya. Baik untuk dirinya, manusia di sekitarnya, dan alam semesta. Baik untuk passion-nya maupun untuk hubungannya dengan  Tuhannya. Ia membuat blue print untuk itu semua jikalau suatu saat nanti ia lupa.

Untuk saat ini mimpi itu sedang ia raih, perkembangan itu sedang ia alami. Mungkin karena blue print ini jugalah sekarang pengalaman berarti yang ia alami tak sedikit jumlahnya. Dan itu menuntunnya untuk terus menambah file pengetahuan dan kebaikan yang ada dalam directory-nya. Begitu banyak SKS akan pelajaran-pelajaran hidup karena universitas bernama pengalamannya, mulai dari mata pelajaran komitmen, kekuatan, pilihan, kasih, hingga keberanian. Sampai meninggal nanti, katanya, mungkin ia tidak akan lulus dari mata pelajaran hidup yang ia ambil, tetapi ia tidak pernah menyesal.  

Cukuplah itu saja yang dirasa pantas disebut sebagai prestasi dan kebanggaan dari ‘si biasa’. Tidak kecil tetapi juga sama sekali tidak berlebihan. Satu hal yang membuatnya tetap berada dalam jalur yang benar, sampai sekarang dan Insya Allah hingga meninggal nanti.

Sekian.

Quotes in Mind #5

Irviene:
"Work like you don't need money. Love like you've never been hurt. Dance like no one's watching."


Babbling Lady:
I'll challenge myself to implement this word. If I act like I'm not, you may say to me, "You're such a coward!"
Take my word!

Quotes in Mind #4

Kalau kita ini kambing, penggembala kita ini sungguh tidak biasa. Sang penggembala sudah memagari padang rumputnya menjadi petak-petak rumput. Satu petak untuk satu kambing dengan luas yang sangat adil dan luar biasa presisi. Memang, tiap petak jumlah maupun kualitas rumputnya tidak sama. Ada yang subur dan banyak, ada juga yang sedikit dan gersang. Namun, bukan menjadi masalah jika kambing 1 makan lebih banyak dari kambing 2. Karena tujuan besar Sang penggembala bukan seberapa adil ia bisa menggemukkan kita. Tujuannya adalah seberapa hebat para kambing bisa beradaptasi di mana pun lingkungannya. Yang para kambing tidak banyak tahu, rumput yang banyak atau sedikit, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beradaptasilah, kambing. Maka kau bisa bebas dan berbahagia.



Tenang aja, ngga ada rumput yang palsu seperti di iklan rokok itu, kok. :p

Quotes in Mind #3

"Now I know why I'm not really a fan of Twitter. Twitter allows me to compare the amount of my friend's followers. It makes me comparing someone to another. And it sucks."

My high school boy

Irviene:
Tahu ngga, tanda-tanda seorang penulis lagi galau?
Dia akan mengedit terus tulisannya sebelum mengakhiri titiknya yang pertama.
Dari mana saya tahu? Hahaha, saya sedang mengalami fase itu sekarang.

Feel like remembering the old days when I was young and restless, when I was liking someone in high school without any guts to say to him for almost... two years? Hahaha. At the end, I said to myself it's time to stop. It's time to surrender from this kind of feeling. So, I started to forget him. But, you know, you never really really forget someone if you have a plan to do it. It's like, "Okay, I have to forget him... I have to forget himmm..." but actually your mind kept thinking about his name at the same time you try!

When you want to forget someone, just don't. You'll failed. My experiences guarantee it.

It's okay to feel that thing, even he doesn't like or love you back. Accept that you like him. Accept that your ego doesn't want the feeling of being a girl who like the boy that doesn't like you. Accepting is very important part of releasing. When you accept it, you'll see that condition is become your friend, not your problem.
When I accept that I like him, days gone brighter to me. And many beautiful things come around. Nope, it's not come actually. It's exist for so long, but I ain't recognized it because I was so busy looking my problem, so I can't see my beautiful things around me.

You know what, I said that I liked him when times had gone by and I can release him from my heart. And I feel so sorry to myself. 

Why don't I do that early?

It's not about his acceptance. Actually, he didn't even say any single thing of my confession, because he never like me. Hahaha.
After I do that, I was like, removing a giant rock behind my back that I brought for a loooong time. Knowing his feeling about me, whatever it is, is more relieving than just wondering his feeling, for so long. 
The best part of this act is, you'll feel you're the bravest man on earth...

Releasing you feeling is so damn good for your life and your health, truly.

Hey peeks, if you like someone right now. Say it. It's better knowing the truth than never.
Have a braveheart. a hero always have a braveheart. Be a hero to yourself!

Babbling Lady:
Thanks my high school boy. You know what, in teaching me things... you're so amazing!

Ternyata Dulu Aku...

Irviene:

















Pernah dilamar!
Well, cinta monyet emang selalu meng-ababil-kan laki-laki dan perempuan. :p

Babbling Lady:
Kamu jawab insya Allah, lho Pin. Hayoloh. Hahaha.

Mohon Maaf Lahir Batin?

Irviene:


Bulan Ramadhan saya yang kedua puluh diawali dengan sedikit berbeda. Entah kenapa, ada banyak SMS masuk di awal bulan untuk meminta maaf dalam rangka memulai hari "Ramadhan yang suci" ini. Tahun-tahun lalu sih, SMS seperti ini bakal datang saat hari raya Idul Fitri. 


SMS seperti apa sih?


Ya... sms seperti ini:
"Mohon Maaf kalau ada sikap atau perkataan yang menyakitkan di hati kalian. Semoga Ramadhan kali ini membawa berkah. 
XXX dan keluarga."


atau berpantun,
"Ada gula ada semut. Tapi Anpanman tetep paling kiyut. 
Manusia kadang banyak salah dan luput. Mohon maaf lahir batin ya, semoga dosa kita semakin imut-imut"


atau malah tiba-tiba puitis,
"Lisan kadang tak terjaga, janji kadang terabaikan, hati kadang berprasangka. Khilaf, ini semua khilaf saya, sobat. Marhaban Ya Ramadhan. Mohon Maaf Lahir Batin."


Saya pribadi, senang mendapat SMS seperti ini. Bagi saya, hal ini menunjukkan itikad baik teman, sahabat, atau saudara untuk bersilaturahmi dan memulai bulan yang baik dengan hal yang baik pula. 
Tapi... jujur saja.. dan maaaf sekali...
 Saya tidak terlalu serius menganggap SMS-SMS ini sebagai permintaan "maaf". 


Ini kata Dewi "Dee" Lestari tentang SMS permintaan maaf saat hari raya. 
Apakah kita sempat berhenti sejenak untuk memahami arti "maaf" tersebut? Ketika kita sibuk membalas puluhan bahkan ratusan SMS dengan kata-kata indah yang berintikan maaf, apakah dalam hati kita benar-benar berproses dan memaafkan orang tersebut? Ataukah ini hanya bagian dari ritual dan kebiasaan yang ada dalam suasana saja? Suatu "mata uang" sosial yang kita gunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.


Hei, this woman is so darn right! Saat saya mengetik SMS seperti itu di hari raya lalu, saya tak benar-benar meminta maaf kepada mereka. Yah, saya hanya... ikut-ikut saja! Embrassing, eh?


Ramadhan tahun ini, akan saya mulai dengan belajar kata "meminta maaf" dan "memaafkan"
Apa yang akan kamu pelajari di Ramadhan tahun ini?
Apa pun itu, semoga keberkahan selalu menjadi milik kita! 


Babbling Lady: 
Intermezzo sedikit, saya sangat suka satu SMS yang datang pada saya pada hari itu. Bunyinya kurang lebih identik dengan SMS-SMS yang datang sebelum dan setelahnya. Namun, ada satu perbedaan:


Ia menyapa saya. Memanggil nama saya. Itu hal yang menyenangkan lho, mengetahui bahwa teman saya tidak serta merta mem-forward SMS itu dalam address book handphone-nya, dan lalu sedikit berusaha menambahkan nama panggilan dalam setiap SMS yang ia kirim. Everybody wants to be special, indeed. Terima kasih lho, Mayung.


Yah, you don't need to work hard to fulfill this need. You know, little things always MATTER.

Be Ready for Cashion Invasion!

Irviene:



Mariska Estelita, student of Paramadina University is on the block!

Make sure to be ready for Cashion's launching!

CASHION is a platform of fashion consciousness movement that believe fashion as one of the self-expression media belongs to every people in the world. Fashion belongs not just for the one who can buy expensive branded things, but also belongs for the one who doesn’t. 


On the contrary of many people’s thought, CASHION believes that money or cash is not a border to express ourselves in fashion. Cash, surprisingly, is a trigger for fashion exploration. Simply, if we don’t have enough cash to buy fashion items, we could explore what we have now to create it.


We support two basic things: Secondhand shopping and Do-It-Yourself project related to fashion.

Secondhand Shopping
 Secondhand fashion items shopping is a consumer behavior that prefer buying things that not new or secondhand. It allowed us reduce the impact of our wardrobe for environment and of our wallet. It is also an adventurous therapy for those who like the question, “What am I going to find today? Is it going to be my size?” 

Do-It-Yourself Project
Do-It-Yourself project is a project for crafty people that encourage to create new things from any capital they have. It is environment-friendly and also creativity booster. 
____________________________________________________

CASHION adalah media yang memfasilitasi gerakan kesadaran fashion yang percaya bahwa fashion sebagai salah satu media ekspresi diri adalah milik semua orang di dunia. Fashion bukan hanya milik orang-orang yang mampu membeli barang-barang bermerek yang mahal, tetapi juga milik mereka yang tidak mampu melakukannya.

Berkebalikan dengan pemikiran orang-orang umum, CASHION percaya bahwa uang (cash) bukan batasan untuk  mengekspresikan diri melalui fashion. Uang justru menjadi pemicu eksplorasi fashion. Jika kita tidak mempunyai cukup uang untuk membeli fashion items yang kita inginkan, peran kita adalah menciptakannya.

Kami mendukung dua proyek: Secondhand shopping dan Do-It-Yourself Project yang berhubungan dengan fashion.

Secondhand Shopping
Berbelanja barang-barang fashion yang seken adalah perilaku konsumen yang lebih menyukai pembelian barang-barang bekas daripada barang baru. Selain ramah lingkungan dan murah, secondhand shopping juga merupakan terapi yang menantang jiwa petualang Anda. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Barang apa yang akan aku dapat hari ini? Apakah sesuai dengan ukuranku?” menjadi satu pengalaman berbelanja yang berbeda dengan berbelanja biasa.

Do-It-Yourself Project
Do-It-Yourself Project adalah proyek yang diperuntukkan untuk orang-orang kreatif yang menyukai menciptakan barang baru dari segala modal yang sekarang ia punya. Selain ramah lingkungan, proyek ini juga menjadi peningkat kreativitas.