Paper Crown: Lauren Conrad's New Line

Irviene:


Normally, when I see new collection of a clothing line, I just love a few of them. But this Conrad's is friggin' awesome! I love love love love every single look. When I first saw it, I'm just starting liking it. Second sight, I'm wondering that this collection is like made just for me. #gigglingsatirely 

 I know myself best, that I like vintage and androgyny looks. But, this soft fabrics, feminine, its pastel colors. I JUST CAN'T STAND IT AND I DON'T KNOW WHY. Maybe my style got its revolution.









Complete Lookbook here

Yo-Heave-Ho!


Babbling Lady:

Beli ma, beli ma, beli ma, beli ma!

*Beli duite mbahmu!

ini ngomongin PACAR, bukan ngomongin HENNA

Irviene:

"Pin, sekarang pacarmu siapa?"

Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan terhadap saya. Gak ngerti juga kenapa mereka suka tanya hal itu sama saya. Apa muka saya ini muka orang yang suka ganti pacar kayak ganti celana dalam? saya juga bingung. 

Jujur, saya ini lugu. Masih lucu-lucu guoblok kalau menyangkut ilmu pengetahuan perpacaran (IPP). Pacaran juga baru satu digit kali. Itu pun gak pernah bertahan lama. Miris juga kalau melihat sejarah kehidupan percintaan saya. Kok gak ada manis-manisnya kaya tetangga sebelah. Berharapnya sih kisahnya kayak Acha sama Irwansyah, romantis-romantis manis. Eh, malah romantis-romantis najis.

Kalau pacaran identik dengan cinta, well, berarti kisah saya tidak masuk hitungan definisi pacaran karena, well lagi, saya belum pernah jatuh cinta (sama lawan jenis). Jatuh sih sering (kemampuan motorik jelek), tapi untuk jatuh cinta ... rasanya perlu dikaji ulang, kalau perlu riset mendalam.

Ngga make sense bagi saya kalau dengan mudah saya mengatakan "Saya cinta kamu" sama pacar saya. Ngomong begitu sama Tuhan saya yang notabene lebih dekat dari diri sendiri saja saya sering lupa, kok. Saya percaya kata 'cinta' itu ngga sedangkal sungai di Jakarta. Saya percaya cinta itu tidak berada dalam pandangan pertama, pandangan kedua, atau pandangan ketigaratustujuhpuluhtujuh. Saya percaya kalau cinta itu ada justru saat pandangan itu tidak ada. Saat mata dibungkam oleh apa yang hati sebut kemurnian. Bukan, bukan susu murni. Ah, sulit dijelaskan, tapi... eh, hey, tadi topiknya pacaran. bukan cinta!

Kembali ke laptop.

Jadi yang namanya titel pacar ini sungguh meracuni kehidupan para remaja-remaji. Serba POKOKNYA. Pokoknya kalau ngga punya pacar ngga gaul. Pokoknya kalau ngga punya pacar hidup hampa. Pokoknya kalau ngga punya pacar mending hidup di hutan terus ngelamar Tarsan.

Padahal kalau ditanya, "Emang lu pacaran ngapain aja?" Ya sayang-sayangan, kangen-kangenan, cinta-cintaan, traktir-traktiran. Lah, kalau cuma gitu aja, sama emak gue juga bisa!

Sedih juga kalau pacaran hanya dipakai sebagai pembenaran untuk sayang-sayangan, kangen-kangenan, cinta-cintaan, traktir-traktiran. Kadang malah dipakai sebagai pembenaran untuk menyalurkan nafsu aja. Saya rasa, esensi pacaran ngga sedangkal itu. 

Saya bukan ukhti-ukhti yang mengharamkan pacaran, juga bukan anggota Front Pembela Agama yang taroh spanduk "PACARAN = KAFIR" di Bundaran HI. Namun, saya sependapat jika ada orang yang bilang "dalam agama saya, pacaran itu... ya ta'aruf."  

Ta'aruf itu (versi saya, ya) adalah pendekatan/silaturahmi antara laki-laki dan perempuan untuk memperbincangkan hal-hal yang penting tapi di sisi lain juga enjoying hal-hal sepele bersama dalam proses meyakinkan diri masing-masing untuk menikah. Sepatutnya sih, ta'aruf itu ya ngga boleh terlalu cepet tapi juga jangan kelamaan.

Yes, bagi saya, pacaran itu ada titik akhirnya. Menikah. Sekali lagi sodara-sodara. MENIKAH.

Kalau sekarang lagi pacaran dan saat memikirkan dia, kamu bilang, "Gue mau terus berada di samping orang ini selama yang gue bisa. Ketawa bareng, mewek bareng, sholat jama'ah bareng sama dia. Bahkan gue gak akan ilfil untuk terus cinta kehadirannya saat gue menemukan hari di mana bulu keteknya lebat, tidurnya ngorok, upilnya keluar-keluar, dan ada tahi lalat berbulu di ujung hidungnya"

Congratulations, you deserve the right track of having a relationship.

Itulah pacaran. Saat yang tepat untuk menentukan apakah kalimat di atas pantas atau tidak pantas dilayangkan untuk seseorang itu. 

Makanya, saya gak pacaran waktu SD dan SMP. Para pria beranjak remaja dulu gak siap mental berhadapan sama si gadis yang pesona kewanitaannya berkabut gara-gara kopros dan betisnya kayak tabung gas. Hahaha.

Babbling Lady:


Jeng Pipin, kalimat yang dicetak miring itu, pernah terlintas di otak lo ngga waktu masih sama si pacar?


:hammer

Cantik dan Jelek

Irviene:

 Kata 'cantik' tidak ditemukan dalam Wikipedia Indonesia. Tidak mengherankan, bagi saya kata 'cantik' memang terlalu absurd. Begitulah ia bagi makhluk Tuhan bervagina yang digadang-gadang paling sempurna. Perempuan.


 'Cantik' adalah bahasa universal yang melambai-lambai di otak mereka setiap hari. Mau feminim, mau tomboi. Mau anak gedongan, mau pedagang tempe mendoan. 'Cantik' itu penting.







Banyak yang bilang mbak Megan Fox yang tenar media infotainment barat ini cantik. Cuuuantik. Tapi ada juga yang gak sepakat, bilang kalau mukanya kayak bencong. 



Nah, kalo yang ini namanya Tirani Dwitasari. Terkenal di forum dunia maya macam Kaskus karena kecantikannya. Banyak yang setuju kalo dia cantik. Tapi, kalau yang ditanya orang Perancis atau Kepulauan Madagascar belum tentu juga hitungannya Neng Tirani ini cantik. 

Jadi cantik itu relatif. Yah, baiklah, AGAK RELATIF, dengan mempertimbangkan kelakuan para kapitalis atau pihak-pihak tertentu yang entah siapa itu yang agaknya berhasil mencuci otak manusia jaman sekarang dengan serentetan kriteria cantik: putih, mancung, kulit mulus, kurus-kurus seksi, rambut lurus. Tetep aja cantik itu tergantung. Tergantung budaya, lingkungan, influence, dan hidayah.

Ya, cantik itu (agak) relatif. Sayangnya...

Jelek itu juga (agak) mutlak.

Adakah yang bilang presenter Bukan Empat Mata itu cakep?
Adakah yang bilang kalau Budi Anduk itu ganteng?
Kita semua sepakat menjawab (dengan perasaan tidak enak): Tidak.

Saya tidak akan memberi contoh lebih banyak lagi untuk membuktikan bahwa jelek itu mutlak.  Tapi coba saja kulik hati diri sendiri untuk membuktikannya. Saya yakin jawabannya tidak berbeda. Deviasi tentunya akan ada, maka dari itu saya bilang dari awal. AGAK mutlak.


'Cantik' dan 'Jelek'. Ini adalah penilaian sosial yang mematikan di jaman sekarang. Karena nilai-nilai yang dimiliki manusia jaman sekarang mengenai mana hal yang penting dan mana yang tidak penting sudah jauh berbeda dibandingkan dekade lalu. Jaman sekarang, bego ngga papalah, asal putih, mancung, kulit mulus, kurus-kurus seksi, rambut lurus terburai-burai. Beda sama yang dulu. Cantik urutan sekian-sekian deh. Yang penting hidup tenteram kayak keluarga cemara.


Kenapa hal ini menjadi suatu kemutlakan ya? Saya juga ngga tahu pasti. Entah karena sudah kodratnya kita suka sama hal yang indah-indah, entah karena ulah media yang sudah memberi batas-batas penilaian kecantikan, entah karena emang sekarang jamannya aja yang sudah berubah?


Imbas penilaian beauty and the beast ini beracun, lho. kayak global warming yang jangka pendek kelihatannya vague, samar-samar tapi jangka panjangnya bisa timbul kiamat. Kalau konteksnya penilaian ini, jangka pendeknya ekstrimitas status diri (rendah diri atau malah tinggi diri) dan diskriminasi. Tapi, jangka panjangnya bunuh diri. Saya pribadi, sebal sekali dengan jaman ini. Edan. Tapi siapa yang tinggal di jaman ini? Ya saya. Berarti sayalah yang edan. Jangan menyalahkan jaman, jangan menyalahkan kapitalis, jangan menyalahkan iklan, apalagi menyalahkan Yang Maha. Berkaca dulu. Tampar diri sendiri dulu, biar sadar. Baru boleh koar-koar.


Jadi saya melatih diri saya supaya back on the track. Saya telaah lagi apa yang terjadi saat saya menilai seseorang. Ternyata skemanya seperti ini.




Mulut: Muke gile, Taylor Swift cantik bangeet 
asalnya dari...


Otak: Barbie itu cantik. Ciri-ciri Barbie itu ciri-ciri cantik. Taylor Swift mirip Barbie. Taylor Swift cantik. Orang cantik itu untung. Saya harus mirip Barbie.


padahal dari jauh, ada yang menasehati...


Nurani: Mau usaha kaya gimana biar mirip Barbie? Operasi plastik kresek? Botox? Beli krim dokter? Kok mau-maunya hidup di bawah ketek Ruth Handler. Ada yang lebih penting dari menjadi cantik. Dan itu gak bisa didapatkan dengan menakar diri sendiri dengan patokan kondisi hal lain, karena gak akan ada habisnya


Jadi, saat saya melihat Taylor Swift lagi, saya cuma akan bilang, "Taylor Swift itu mirip Barbie." Cukup. Titik. Karena embel-embel keinginan begini dan begitu memudar begitu saja. Karena saya sadar bahwa cantik dan jelek itu adalah penilaian yang tidak akan masuk dalam Kartu Hasil Studi kehidupan saya di depan Yang Maha.


 Lalu sebenarnya, apa yang diisi Yang Maha dalam KHS kita?


Tampar-tampar muka dulu. Sadar dulu woi.
Nanti juga dapet jawabannya sendiri, kok.


Babbling Lady:


Gue diet bukan berarti pengen langsing, tapi pengen sehat.
Gue dandan bukan berarti pengen cantik, tapi pengen pantas.
Life's more beautiful when eyes see that way :)

Kungfu Komang: Wajib Hukumnya untuk Download

Irviene:


Mulbuldosa is back!

Hahaha, saya orang yang pelupa, tapi saya gak akan lupa gimana saya bisa ngakak sampai nangis, terpipis-pipis, dan lupa makan pagi-siang-malam cuma gara-gara nih komik laknat!

Jadi ceritanya, ada sebuah perguruan kecil yang dipimpin oleh Mulbuldosa, pertapa yang konon turun dari langit. Ia memiliki murid-murid yang sama gak beresnya sama si doski (berasa Aneka Yess abis gue): Komang (tokoh utama), Kulpang (babi bisu yang bisanya ngerusuhin doang), Ninjaring (ninja, paling warasdi perguruan), Gwedopang (pencuri terkenal), Kongja (cewek pemarah), dan Mekanin (robot). Dari sinopsis di internet perguruan ini gak punya nama, dan saking kecilnya bisa disebut keluarga. Perguruan ini sering ikut turnamen atau tes jadi pegawai kerajaan, tapi apa pun yang mereka lakukan (yang selalu bikin ngakak) selalu gagal.

Baru nemu link download komiknya. Thanks to narutobleachlover.blogspot.com saya jadi bisa ngakak lagi setelah (hampir) nangis nonton Emak Ingin Naik Haji. :)

Bagi yang KHS-nya bikin hati tersayat cutter
Bagi yang habis dikhianati cintanya oleh orang ketiga (Cinta Fitri Season Idul Adha)
Bagi yang pengen tobat nyimeng sama dugem
Dan bagi siapa aja deh yang dulunya maniak komik tapi sekarang stuck karena alasan ini dan itu yang menghimpit kehidupan (like what happen to me, lately)

Link download happiness di sini, baby!
(Buku 5, 6, 7 gak ada)
(Buku 20 gak ada)

Sumber link unduh dari sini.


Babbling Lady:

So, shall we take a break from the hecticness of being too monotone for a while with Mulbuldosa?

Ciaaaaaat !! B)





Saya Alay, Kamu Alay. Kita Semua.

Irviene:

Kata 'ALAY' sepertinya jadi salah satu trending topic tahun 2010. 

Bagi sebagian orang, 'alay' bisa dilihat dari kemampuan ekonomi. Bagi orang lain, 'alay' mungkin berupa gaya seseorang, tak peduli dia kaya atau ngga (huruf gede kecil = alay, penonton Dahsyat = alay, kacamata Ray Ban palsu = alay, dll). 
Semua orang punya takaran alay yang berbeda, tapi saya rasa semua memiliki reaksi yang sama saat menemukan manusia lain bersikap 'alay' menurut takaran mereka.

"Iuuuuh.. yeks" begitu kira-kira dalam hati mereka. Jijik.

Saya juga jijik begitu.
Dulu.

Takaran 'alay' saya adalah: seseorang yang profile picture facebook-nya bergaya hormat a la upacara bendera dengan kemiringan kamera 45 derajat membentuk sebuah foto close up sempurna, mengedipkan sebelah mata dengan imutnya lalu mengedit foto itu dengan bintang-bintang bersinar sebagai framenya, efek shiny, dan tulisan "pHi17n4 cU3tZCMoeTss". Tak lupa ternyata namanya di facebook tiba-tiba berubah menjadi "siPhi17n4 OdoNkOdoNk HanY4 miLLicHqAmUuwhsEoR4nggk" tanpa persetujuan orang tua atau penggantian akte kelahiran.

Iuuh. Itu adalah semacam dosa di mata saya. Sangat mengganggu kehidupan saya.
Dulu.

Namun, waktu memang mengubah saya. Pengalaman mengajari saya bahwa ternyata
Hei, Sayalah yang selama ini ALAY! Bukan si "siPhi17n4 OdoNkOdoNk HanY4 miLLicHqAmUuwhsEoR4nggk" itu!

Pencerahan itu datang tiba-tiba saat saya memahami bahwa 'alay' hanyalah satu segmen kehidupan dalam proses belajar menuju kedewasaan. Saya mengalaminya. Bahkan, saya rasa, kita semua mengalaminya. Indikasinya? Saat kita bilang, "Iuuh... yeks! Gue pernah kaya begini ya? hahaha"

Bisa dibilang, 'alay' adalah kebelumdewasaan. Dan saya, orang yang jijik sama si "siPhi17n4 OdoNkOdoNk HanY4 miLLicHqAmUuwhsEoR4nggk", adalah sejatinya orang yang paling tidak dewasa. Karena? Karena saya tidak menghargai fase kehidupannya. Saya tidak memanusiakannya dengan rekasi saya. Saya tidak menghormati kebebasannya. Saya tiba-tiba mengkastakan seseorang hanya karena ada kosakata baru bernama 'alay' dalam kamus saya!

Saat ini, jika memang hal yang dilakukan seseorang benar-benar mengganggu kehidupan orang lain, tentunya akan sangat baik sekali jika kita punya keberanian untuk menegur dan bukannya membicarakan di belakang. Jika memang ada beberapa nama facebook yang benar-benar membuat orang lain kesulitan dan pusing untuk membacanya, akan lebih baik, untuk kebaikannya, kita mengatakan langsung kepadanya, "halo ... , sepertinya namamu di facebook susah dibaca. Siapa nama aslimu? Saya khawatir temanmu tidak mengenali namamu :)"

Sudah jadi kewajiban untuk menolong orang lain. Membantu orang lain mempercepat proses pendewasaan adalah pertolongan yang luar biasa. Kalau hidup tidak tolong-menolong, saya rasa saya tidak akan masuk Universitas Paramadina, saya tidak tahu arah pulang menuju rumah saat tersesat, saya tidak bisa beli handphone, bahkan saya tidak akan lahir! (terima kasih bu bidan yang menolong Ibu melahirkan saya)

Jadi ...
Saat ini, saya memproklamirkan diri saya sebagai Front Pembela Alay (FPA). ahaha. 

Jangan hujat 'Alay'!



Notes: sebagai feature, saya tampilkan sebuah ke-alay-an milik saya pribadi. 
Kelas 2 SMA kira-kira, blog pertama saya sepertinya. ahaha.





Selengkapnya di sini :)

Juga ada Screen Shoot profil dari Situs Social Networking kesukaan saya dulu. hehehe


Sebenarnya saya lelaki, lihat deh. :maho

Diharapkan wudlu, istighfar, dan tahan banting melihat foto maho ini

Rambut Rihanna dulu ngetren kayaknya

Yang ini, penghasilan pertama saya. sombong mode.

Profil lengkap di sini


Babbling Lady:

Kalo aku sih, dari balita langsung loncat dewasa. week.

Jogja: Never Ending Asia, Jakarta: Never Ending Hecticness

Irviene:

Opportunity strikes me again. Yogyakarta I'm coming, honey! Backpacked with Oksidea Riveta, Tika Emmawati, and Latifa Dini Archam after take a rest in my hometown. 
Yeah, you're right. Exploring Jogja is really a never ending story!

1. Vreederberg Fortress
Vreederberg is great for taking a rest because of its shady trees and benches. Want to have a history tour? It has diorama about Yogyakarta history towards its freedom from colonialist. 

At Vreederberg Fortress


2. Mirota Batik
Heaven in the city for those who craving for shopping 'till drop like me. Arts, Batik Dresses, Souvenirs, Paintings, and even middle-high rooftop restaurant are in Mirota Batik. The price is awesome, and I guarantee you will not satisfied in first arrival, because .. you want more! you want more! ahaha

Batik everywhere

Local Tobaccos and Cigarettes

Don't forget to enjoy this delicacy!



3. BNI Intersection

Great place to take picts with some old buildings (BNI, Bank Indonesia, Pos Indonesia, etc.). It also place for hanging out and sometimes the meeting spot for the Yogyakarta old bicycle community.








4. Taman Sari
Years ago, this place is a bathing place for sultan's mistresses. When he want to enjoy the moment with one of them, he will throw something while they were bathing. The one who get that 'something' must serve her 'husband', the Sultan. 

Very interesting view. No wonder some couples enjoy the romantic atmosphere there by .. hemm you know laah :) 


5. ALKID (Alun-alun Kidul)
This is where the two legendary Banyan Trees live. There is local wisdom that said if someone could walk passing area between those tree with closed eyes, he/she will get anything what he/she want. I don't believe it, indeed. But, I'm kind of proud to myself that I can pass those Banyan Trees in fifth trial. ahaha. In Alkid, local residents rent fun bike for IDR 5000/lap rotating the Alun-alun. I tried it with Kharisma Creativani, my dormitory friend in Paramadina that spend her holiday in her hometown (Jogja). It was my first time to ride two seated bicycle, and it's soo damn fun!


Me, Oksi, Tika, Billy, Heru, Ive

Oh my, love is in the air! Heru and Ive. haha








One thing that I admire about Jogja is it really pay attention to details. As a city with huge amount of artist, arts is really everywhere!




Our trip to Jogja is over, now .. exploring Jakarta!

What are you loking at, dude!

1. Central Park
Just another Mall trip. But we are having fun J.Coing and take picts :)

Mbadhog iki cak!
 2. Monas
Monas is fun. We were playing kites (It was my dream so long ago to play kites in Monas, thanks God), taking picts (as usual), and see the dancing fountain. Fun fun fun!



3. Kota Tua (Old Town)

No exception to say, "This place is awesome!"
ehm, okay, except some of people, I guess. We don't like to judge people as alay or something similar, but .. I don't know, they seems 'different'. 




Our trip is over!
Ciao!


Babbling Lady:

lalalalala, liburan wes mari cak! saiki belajar yo!

We Are Golden!

Irviene:

Having a good time entering this competition. Just took the second round in the pocket, but we are as happy as the winner! Yeah, we are golden! 








Babbling Lady:


Cieeeh, pose sok gak liat kamera ya ituh?