Cantik dan Jelek

Irviene:

 Kata 'cantik' tidak ditemukan dalam Wikipedia Indonesia. Tidak mengherankan, bagi saya kata 'cantik' memang terlalu absurd. Begitulah ia bagi makhluk Tuhan bervagina yang digadang-gadang paling sempurna. Perempuan.


 'Cantik' adalah bahasa universal yang melambai-lambai di otak mereka setiap hari. Mau feminim, mau tomboi. Mau anak gedongan, mau pedagang tempe mendoan. 'Cantik' itu penting.







Banyak yang bilang mbak Megan Fox yang tenar media infotainment barat ini cantik. Cuuuantik. Tapi ada juga yang gak sepakat, bilang kalau mukanya kayak bencong. 



Nah, kalo yang ini namanya Tirani Dwitasari. Terkenal di forum dunia maya macam Kaskus karena kecantikannya. Banyak yang setuju kalo dia cantik. Tapi, kalau yang ditanya orang Perancis atau Kepulauan Madagascar belum tentu juga hitungannya Neng Tirani ini cantik. 

Jadi cantik itu relatif. Yah, baiklah, AGAK RELATIF, dengan mempertimbangkan kelakuan para kapitalis atau pihak-pihak tertentu yang entah siapa itu yang agaknya berhasil mencuci otak manusia jaman sekarang dengan serentetan kriteria cantik: putih, mancung, kulit mulus, kurus-kurus seksi, rambut lurus. Tetep aja cantik itu tergantung. Tergantung budaya, lingkungan, influence, dan hidayah.

Ya, cantik itu (agak) relatif. Sayangnya...

Jelek itu juga (agak) mutlak.

Adakah yang bilang presenter Bukan Empat Mata itu cakep?
Adakah yang bilang kalau Budi Anduk itu ganteng?
Kita semua sepakat menjawab (dengan perasaan tidak enak): Tidak.

Saya tidak akan memberi contoh lebih banyak lagi untuk membuktikan bahwa jelek itu mutlak.  Tapi coba saja kulik hati diri sendiri untuk membuktikannya. Saya yakin jawabannya tidak berbeda. Deviasi tentunya akan ada, maka dari itu saya bilang dari awal. AGAK mutlak.


'Cantik' dan 'Jelek'. Ini adalah penilaian sosial yang mematikan di jaman sekarang. Karena nilai-nilai yang dimiliki manusia jaman sekarang mengenai mana hal yang penting dan mana yang tidak penting sudah jauh berbeda dibandingkan dekade lalu. Jaman sekarang, bego ngga papalah, asal putih, mancung, kulit mulus, kurus-kurus seksi, rambut lurus terburai-burai. Beda sama yang dulu. Cantik urutan sekian-sekian deh. Yang penting hidup tenteram kayak keluarga cemara.


Kenapa hal ini menjadi suatu kemutlakan ya? Saya juga ngga tahu pasti. Entah karena sudah kodratnya kita suka sama hal yang indah-indah, entah karena ulah media yang sudah memberi batas-batas penilaian kecantikan, entah karena emang sekarang jamannya aja yang sudah berubah?


Imbas penilaian beauty and the beast ini beracun, lho. kayak global warming yang jangka pendek kelihatannya vague, samar-samar tapi jangka panjangnya bisa timbul kiamat. Kalau konteksnya penilaian ini, jangka pendeknya ekstrimitas status diri (rendah diri atau malah tinggi diri) dan diskriminasi. Tapi, jangka panjangnya bunuh diri. Saya pribadi, sebal sekali dengan jaman ini. Edan. Tapi siapa yang tinggal di jaman ini? Ya saya. Berarti sayalah yang edan. Jangan menyalahkan jaman, jangan menyalahkan kapitalis, jangan menyalahkan iklan, apalagi menyalahkan Yang Maha. Berkaca dulu. Tampar diri sendiri dulu, biar sadar. Baru boleh koar-koar.


Jadi saya melatih diri saya supaya back on the track. Saya telaah lagi apa yang terjadi saat saya menilai seseorang. Ternyata skemanya seperti ini.




Mulut: Muke gile, Taylor Swift cantik bangeet 
asalnya dari...


Otak: Barbie itu cantik. Ciri-ciri Barbie itu ciri-ciri cantik. Taylor Swift mirip Barbie. Taylor Swift cantik. Orang cantik itu untung. Saya harus mirip Barbie.


padahal dari jauh, ada yang menasehati...


Nurani: Mau usaha kaya gimana biar mirip Barbie? Operasi plastik kresek? Botox? Beli krim dokter? Kok mau-maunya hidup di bawah ketek Ruth Handler. Ada yang lebih penting dari menjadi cantik. Dan itu gak bisa didapatkan dengan menakar diri sendiri dengan patokan kondisi hal lain, karena gak akan ada habisnya


Jadi, saat saya melihat Taylor Swift lagi, saya cuma akan bilang, "Taylor Swift itu mirip Barbie." Cukup. Titik. Karena embel-embel keinginan begini dan begitu memudar begitu saja. Karena saya sadar bahwa cantik dan jelek itu adalah penilaian yang tidak akan masuk dalam Kartu Hasil Studi kehidupan saya di depan Yang Maha.


 Lalu sebenarnya, apa yang diisi Yang Maha dalam KHS kita?


Tampar-tampar muka dulu. Sadar dulu woi.
Nanti juga dapet jawabannya sendiri, kok.


Babbling Lady:


Gue diet bukan berarti pengen langsing, tapi pengen sehat.
Gue dandan bukan berarti pengen cantik, tapi pengen pantas.
Life's more beautiful when eyes see that way :)

6 Responses so far.

  1. Vina says:

    Baca posting ini jadi mikir I've to learn to love my self. ^^

    Tapi,
    Kalo gue ping..pengen dandan supaya jadi manis dan sedap dipandang, kasian juga orang klo liat wajah butek gue.
    Diet, bukan pengen langsing, tapi pengen baju-baju yg kecil cukup lagi..biar gak perlu buang uang **karena lagi gak ada uang,untuk beli baju.

    Thx postingnya ya Ping

  2. yes, learn to love yourself no matter what is one of the most important thing before you die.

    hahaha .. bener banget lo na. tumben pinter

  3. Erlangga says:

    Kereeeeen..

    Sumpah aku ngefans blogmu..

  4. maatih erlanggaaaa *kecupppppppp hahahaha

    sering2 mampir yeeee

  5. Unknown says:

    Keren Gan....!!!!

  6. 'DINHO' says:

    nah gw pkir lo jg trmasuk cntik itu...,hahaha

Leave a Reply