ini ngomongin PACAR, bukan ngomongin HENNA

Irviene:

"Pin, sekarang pacarmu siapa?"

Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan terhadap saya. Gak ngerti juga kenapa mereka suka tanya hal itu sama saya. Apa muka saya ini muka orang yang suka ganti pacar kayak ganti celana dalam? saya juga bingung. 

Jujur, saya ini lugu. Masih lucu-lucu guoblok kalau menyangkut ilmu pengetahuan perpacaran (IPP). Pacaran juga baru satu digit kali. Itu pun gak pernah bertahan lama. Miris juga kalau melihat sejarah kehidupan percintaan saya. Kok gak ada manis-manisnya kaya tetangga sebelah. Berharapnya sih kisahnya kayak Acha sama Irwansyah, romantis-romantis manis. Eh, malah romantis-romantis najis.

Kalau pacaran identik dengan cinta, well, berarti kisah saya tidak masuk hitungan definisi pacaran karena, well lagi, saya belum pernah jatuh cinta (sama lawan jenis). Jatuh sih sering (kemampuan motorik jelek), tapi untuk jatuh cinta ... rasanya perlu dikaji ulang, kalau perlu riset mendalam.

Ngga make sense bagi saya kalau dengan mudah saya mengatakan "Saya cinta kamu" sama pacar saya. Ngomong begitu sama Tuhan saya yang notabene lebih dekat dari diri sendiri saja saya sering lupa, kok. Saya percaya kata 'cinta' itu ngga sedangkal sungai di Jakarta. Saya percaya cinta itu tidak berada dalam pandangan pertama, pandangan kedua, atau pandangan ketigaratustujuhpuluhtujuh. Saya percaya kalau cinta itu ada justru saat pandangan itu tidak ada. Saat mata dibungkam oleh apa yang hati sebut kemurnian. Bukan, bukan susu murni. Ah, sulit dijelaskan, tapi... eh, hey, tadi topiknya pacaran. bukan cinta!

Kembali ke laptop.

Jadi yang namanya titel pacar ini sungguh meracuni kehidupan para remaja-remaji. Serba POKOKNYA. Pokoknya kalau ngga punya pacar ngga gaul. Pokoknya kalau ngga punya pacar hidup hampa. Pokoknya kalau ngga punya pacar mending hidup di hutan terus ngelamar Tarsan.

Padahal kalau ditanya, "Emang lu pacaran ngapain aja?" Ya sayang-sayangan, kangen-kangenan, cinta-cintaan, traktir-traktiran. Lah, kalau cuma gitu aja, sama emak gue juga bisa!

Sedih juga kalau pacaran hanya dipakai sebagai pembenaran untuk sayang-sayangan, kangen-kangenan, cinta-cintaan, traktir-traktiran. Kadang malah dipakai sebagai pembenaran untuk menyalurkan nafsu aja. Saya rasa, esensi pacaran ngga sedangkal itu. 

Saya bukan ukhti-ukhti yang mengharamkan pacaran, juga bukan anggota Front Pembela Agama yang taroh spanduk "PACARAN = KAFIR" di Bundaran HI. Namun, saya sependapat jika ada orang yang bilang "dalam agama saya, pacaran itu... ya ta'aruf."  

Ta'aruf itu (versi saya, ya) adalah pendekatan/silaturahmi antara laki-laki dan perempuan untuk memperbincangkan hal-hal yang penting tapi di sisi lain juga enjoying hal-hal sepele bersama dalam proses meyakinkan diri masing-masing untuk menikah. Sepatutnya sih, ta'aruf itu ya ngga boleh terlalu cepet tapi juga jangan kelamaan.

Yes, bagi saya, pacaran itu ada titik akhirnya. Menikah. Sekali lagi sodara-sodara. MENIKAH.

Kalau sekarang lagi pacaran dan saat memikirkan dia, kamu bilang, "Gue mau terus berada di samping orang ini selama yang gue bisa. Ketawa bareng, mewek bareng, sholat jama'ah bareng sama dia. Bahkan gue gak akan ilfil untuk terus cinta kehadirannya saat gue menemukan hari di mana bulu keteknya lebat, tidurnya ngorok, upilnya keluar-keluar, dan ada tahi lalat berbulu di ujung hidungnya"

Congratulations, you deserve the right track of having a relationship.

Itulah pacaran. Saat yang tepat untuk menentukan apakah kalimat di atas pantas atau tidak pantas dilayangkan untuk seseorang itu. 

Makanya, saya gak pacaran waktu SD dan SMP. Para pria beranjak remaja dulu gak siap mental berhadapan sama si gadis yang pesona kewanitaannya berkabut gara-gara kopros dan betisnya kayak tabung gas. Hahaha.

Babbling Lady:


Jeng Pipin, kalimat yang dicetak miring itu, pernah terlintas di otak lo ngga waktu masih sama si pacar?


:hammer

2 Responses so far.

  1. Unknown says:

    Alasan terbahagia gue milih pacaran waktu SMP, adalah karena Pacar gue udah pengen nikah sama gue ketika lulus kuliah nanti.
    Taunya dia malah "pulang" duluan.
    Alasan gue pacaran waktu SMA, karena kami punya 1 misi - MENIKAH. ujungnya malah gak juga karena orang tua gak ngizinin.
    Dan ketika kuliah gue milih pacaran lagi, BANGSAT..malah nemu cowo SIALAN. yg msih anak2.

  2. wasik. yang penting pacaran harus ada tujuannya. dan tujuan itu sebaiknya sesuai hati nurani.

    wakakaka. bangsat bangsit aje lu na.

Leave a Reply