Saya Alay, Kamu Alay. Kita Semua.

Irviene:

Kata 'ALAY' sepertinya jadi salah satu trending topic tahun 2010. 

Bagi sebagian orang, 'alay' bisa dilihat dari kemampuan ekonomi. Bagi orang lain, 'alay' mungkin berupa gaya seseorang, tak peduli dia kaya atau ngga (huruf gede kecil = alay, penonton Dahsyat = alay, kacamata Ray Ban palsu = alay, dll). 
Semua orang punya takaran alay yang berbeda, tapi saya rasa semua memiliki reaksi yang sama saat menemukan manusia lain bersikap 'alay' menurut takaran mereka.

"Iuuuuh.. yeks" begitu kira-kira dalam hati mereka. Jijik.

Saya juga jijik begitu.
Dulu.

Takaran 'alay' saya adalah: seseorang yang profile picture facebook-nya bergaya hormat a la upacara bendera dengan kemiringan kamera 45 derajat membentuk sebuah foto close up sempurna, mengedipkan sebelah mata dengan imutnya lalu mengedit foto itu dengan bintang-bintang bersinar sebagai framenya, efek shiny, dan tulisan "pHi17n4 cU3tZCMoeTss". Tak lupa ternyata namanya di facebook tiba-tiba berubah menjadi "siPhi17n4 OdoNkOdoNk HanY4 miLLicHqAmUuwhsEoR4nggk" tanpa persetujuan orang tua atau penggantian akte kelahiran.

Iuuh. Itu adalah semacam dosa di mata saya. Sangat mengganggu kehidupan saya.
Dulu.

Namun, waktu memang mengubah saya. Pengalaman mengajari saya bahwa ternyata
Hei, Sayalah yang selama ini ALAY! Bukan si "siPhi17n4 OdoNkOdoNk HanY4 miLLicHqAmUuwhsEoR4nggk" itu!

Pencerahan itu datang tiba-tiba saat saya memahami bahwa 'alay' hanyalah satu segmen kehidupan dalam proses belajar menuju kedewasaan. Saya mengalaminya. Bahkan, saya rasa, kita semua mengalaminya. Indikasinya? Saat kita bilang, "Iuuh... yeks! Gue pernah kaya begini ya? hahaha"

Bisa dibilang, 'alay' adalah kebelumdewasaan. Dan saya, orang yang jijik sama si "siPhi17n4 OdoNkOdoNk HanY4 miLLicHqAmUuwhsEoR4nggk", adalah sejatinya orang yang paling tidak dewasa. Karena? Karena saya tidak menghargai fase kehidupannya. Saya tidak memanusiakannya dengan rekasi saya. Saya tidak menghormati kebebasannya. Saya tiba-tiba mengkastakan seseorang hanya karena ada kosakata baru bernama 'alay' dalam kamus saya!

Saat ini, jika memang hal yang dilakukan seseorang benar-benar mengganggu kehidupan orang lain, tentunya akan sangat baik sekali jika kita punya keberanian untuk menegur dan bukannya membicarakan di belakang. Jika memang ada beberapa nama facebook yang benar-benar membuat orang lain kesulitan dan pusing untuk membacanya, akan lebih baik, untuk kebaikannya, kita mengatakan langsung kepadanya, "halo ... , sepertinya namamu di facebook susah dibaca. Siapa nama aslimu? Saya khawatir temanmu tidak mengenali namamu :)"

Sudah jadi kewajiban untuk menolong orang lain. Membantu orang lain mempercepat proses pendewasaan adalah pertolongan yang luar biasa. Kalau hidup tidak tolong-menolong, saya rasa saya tidak akan masuk Universitas Paramadina, saya tidak tahu arah pulang menuju rumah saat tersesat, saya tidak bisa beli handphone, bahkan saya tidak akan lahir! (terima kasih bu bidan yang menolong Ibu melahirkan saya)

Jadi ...
Saat ini, saya memproklamirkan diri saya sebagai Front Pembela Alay (FPA). ahaha. 

Jangan hujat 'Alay'!



Notes: sebagai feature, saya tampilkan sebuah ke-alay-an milik saya pribadi. 
Kelas 2 SMA kira-kira, blog pertama saya sepertinya. ahaha.





Selengkapnya di sini :)

Juga ada Screen Shoot profil dari Situs Social Networking kesukaan saya dulu. hehehe


Sebenarnya saya lelaki, lihat deh. :maho

Diharapkan wudlu, istighfar, dan tahan banting melihat foto maho ini

Rambut Rihanna dulu ngetren kayaknya

Yang ini, penghasilan pertama saya. sombong mode.

Profil lengkap di sini


Babbling Lady:

Kalo aku sih, dari balita langsung loncat dewasa. week.

2 Responses so far.

  1. masya Alloh.... astagfirullah hal adzimmm...

    nyidam apa nak... dulunya...
    hahaha... kelebihanmu pin...
    btw, ampe hari pan kamu masih alay... 4L@Y :*

  2. ibuku ngidam nonton dahsyat kaynanya seuuu .. hahaha

    hari pan apaan? woo sok betawi luuu haha

Leave a Reply