Hello April! Wishlist is Waiting!

Irviene:

Some things in March's Wishlist were not done yet. I entered none competition now (WTF?!), one book, not-too-active user of Kaskus, not yet committed to healthy living, and my Wikipedia plan were just flown like a feather. But enough of the dissapoinment. At least I've done some good thing in March: New dream, practiced theater routinely, have a not-yet-boiled-but-promising business, and blogged very often! 

And, oh yes. I'm 20 now. Thanks people for making my 20th birthday sweet and memorable. Thanks dormitory friends for the surprise, Anggi for the softy-make-me-sleepy pillow, Hana for the necklace that I were really craving for, Kharisma for the aw-aw-awesome digital collage, Thalita with the very sweet voice note, and all of my friendsies out there. You know, I just can't mention your name one-by-one. But, you're the best-best-best!


Collage by Kharisma Creativani



This is warm April and I am soo ready to catch happiness here!

1. Still ISO-ing in Kaskus. I've gotta be work harder this month!

2. Secret fashion project

3. Successfully run Kafha Organization Management Workshop in this mid-April

4. Touch the violin. Yes, I miss you sooo

5. One a week book: Critical Thinking by Brooke Noel Moore and Richard Parker; Automatic Wealth by Michael Masterson; Dead Poet Society.

6. Still Healthy Living - Green tea one-a-day, Jog 30 mins, sleep well, and Fruits!

7. More serious in absorbing campus lesson

8. American Sign Language! I'm horribly ready!

9. Plan for these later three months holiday: soft skill and hard skill enhancement

10. One competition or achievement to go

10. Laugh, Pay Attention, and Fight for the Truth!


Babbling Lady:

Then, shut up your mumbling mouth and just go!

Memory loss LOL #2: Jogja

Irviene:


(Dibonceng Hydan di motor)

Hydan: Iya, pin. Jadi.. kamu pernah ke Jogja ngga?

Me: Hmm... belum, dan. Cuma sekali banget sih, pas masih TK dulu.

Hydan: Ooh.. gitu.. (terdiam). 

Me: ....





Hydan: Oh, ya pin. Aku ikut UM UGM* loh dulu. Kamu ikut UM UGM juga gak?

Me: Wah.. iya dan! Aku ikut UM UGM juga! Jadi waktu itu aku ngga mau UM UGM di Jawa Timur. Jadi aku sama anak-anak ujian aja di Jogja. Wah, seruu deh!

Hydan: .... LAH ITU KAMU PERNAH KE JOGJA!

Me:....

Hydan:....






Me: Oiya ya, dan.

#timpuksendal

*UM UGM = ujian masuk Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Pulang

Irviene:

Aku tak perduli berapa jumlah mobil yang kau punya.
Berapa nilai intrinsik rumah yang kau miliki.
Atau berapa jumlah dolar yang tersimpan di balik bantalmu.
Kau tahu bahwa aku tak butuh semua itu darimu. 

Aku ingin dirimu saja, hei Ayah dan hei Ibu.

Karena aku sangat rindu merasakanmu dengan titel keluarga di cover depannya.
Ah, persetan dengan semua hal mainstream di dunia ini.
Persetan juga dengan masa lalu atau harapan semu masa depan kita!
Peluklah aku satu kali saja, sekarang juga, hei Ayah dan hei Ibu.

Maka seluruh semesta akan ikut memelukku.
Karena aku merasa memiliki dunia dengan pelukanmu.
Merasakan pulang. Pulang.

Jangan lupa tambahkan tawa bahagia yang lama mengerak karena kemarin dulu lupa kau kembangkan, hei Ayah dan hei Ibu.
Kurasa, itu akan membuat ritual pulang ini tidak akan kutukar dengan apa pun di dunia ini.

Hei Ayah dan hei Ibu. Hei, keluarga.
Please, hanya ini kado ulang tahun yang aku mau.

Terima Kasih Maslow!

Irviene:

Abraham Maslow berargumen bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. 

Gambar ditowel dari sini
 Psikolog Humanis ini mendefinisikan hierarki yang didapatnya sebagai berikut:

1. Kebutuhan Fisiologis, tingkatan paling dasar. Yang termasuk bagian ini antara lain bernapas, makanan, air, seks, tidur, tempat berlindung.
2. Kebutuhan akan rasa aman dan nyaman
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4. Kebutuhan untuk dihargai
5. Kebutuhan aktualisasi diri, tingkatan paling tinggi, di mana di sini seorang manusia bisa mencapai vitalitas, otentisitas, rasa bermain, dan self-sufficiency.

Mengapa saya membahas teori Hierarki Maslow?
Saya teringat teori ini berkat suatu maghrib yang padat merayap di suatu perempatan di Jakarta. Saya saat itu tengah duduk di Metro 'Mini' nomor P20 sambil bergumul dengan asap knalpot kendaraan yang bergerak dengan kecepatan 1 cm/menit ditambah kebombastisan manuver-manuver supir bus ini yang hobi serempet sana serempet sini.

Saya melihat sesuatu itu di bus ini. Seorang pengamen perempuan yang membawa bayinya lalu menendangkan lagu paling hit di Dahsyat, entahlah apa judulnya. Berbekal baju seadanya, ditambah sebuah kecrekan, dia bernyanyi seadanya pula sambil sesekali mengipas-kipas bayinya yang terlihat gerah kepanasan.

 Saya ikut gerah. Bukan karena asap knalpot lagi, tapi karena pemandangan itu. Hati saya bergumam, "Enaknya saya kasih receh, ngga ya?"

 Katanya ngamen doang bisa dapat empat juta tiap bulan? Ah, ngga deh.
Tapi bayinya kasihan, susu bayi sekarang mahal! Ah, iya deh.
Tapi saya bakal mendidik ibu itu mengamen terus! Ngga jadi, deh.
Kamfret. Gue kasih duaratus aja, deh. Fair.  
Duaratus ngga akan cukup untuk mendidik pengamen untuk terus mengamen, pikir saya.

Akhirnya saya kasih recehan duaratusan untuk ibu itu. Namun sebenarnya dalam hati saya, saya ingin berteriak, "Ibu! Please jangan bawa anak lagi! Kalo bisa malah please jangan mengamen lagi!!"

 Saya mengerti dilemanya. Harus ada harga yang dibayarkan untuk sekaleng susu bayi. Dan harga yang dipilih ibu tersebut adalah risiko keselamatan bayinya. Karena dengan membawa anaknya, rasa kasihan bertambah. Rasa kasihan biasanya berbanding lurus dengan recehan yang akan dikeluarkan penikmat musik yang ia bawakan, kami-kami para penumpang ini.

Bukan gambar sebenarnya, towelan dari sini
Kejam, ya? Itulah cara kerja kemiskinan. Itulah perpaduan antara uang dan kapitalisme. Itulah penerapan teori Hierarki Kebutuhan Maslow.

Si Ibu, berada dalam tingkat dasar teori ini. Ia harus bekerja sedemikian keras untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya dan bayinya, karena itu, ia mengorbankan tingkatan lain yang tersisa dari dirinya. Ia mengorbankan rasa aman dan nyamannya dan bayinya (tingkat dua). Malah saya rasa, ia juga merasa lebih baik menghabiskan saja perasaan ingin dihargai yang ada pada tingkatan keempat teori ini. (Tak percaya? Ayo mengaku, siapa yang acuh, bermuka masam, lalu menganggap rendah pengamen jalanan?) 

Si Ibu mengorbankan tabungan yang ia punya di tingkat kedua dan tingkat-tingkat di atasnya, karena ia harus bisa mempertahankan kedudukannya di tingkat satu! Jika kebutuhan fisiologis tidak tersedia, maka secara otomatis, tidak ada waktu untuk mengurusi tingkat kedua, ketiga, dan tingkat terakhir. Ini berarti, tidak akan pernah ada waktu untuk si Ibu untuk merealisasikan mimpinya, mengaktualisasikan dirinya, mengembangkan harga dirinya karena untuk beli susu kaleng saja ia harus empot-empotan!

Saya lalu merasa saya benar-benar memuakkan. Mengapa untuk mengeluarkan sejumlah recehan saja saya berpikir sebegitu peliknya?

 Lebih memuakkan lagi saat saya menyadari bahwa saya sebenarnya sangat beruntung bisa loncat tingkat dalam hierarki ini tanpa harus bersusah payah memikirkan cara bertahan dalam tingkatan fisiologis. Saya punya kos-kosan yang nyaman, saya bisa makan the-super-enak-iFood (Indonesian Food, tempe), saya bisa tidur sampai ngiler-ngiler, dan saya masih bisa bernapas (huh-hah-huh-hah, hmm masih oke pula).

Saya kurang bersyukur dan itu adalah tindakan manusia normal yang paling gila, menurut saya.

Karena Maslow, saya mempunyai kesadaran baru. 
Dan juga....
Mimpi baru
Untuk senantiasa membantu manusia yang masih terperangkap dalam jerat tingkat pertama agar paling tidak dapat naik untuk menggapai tingkat selanjutnya. Saya ingin paling tidak manusia bisa tidur, makan, minum, dan bertempat tinggal agar ia bisa bermimpi lebih tinggi. Tidak lagi mandeg pada mimpi membeli susu kaleng saja.

Bismilah. Dunia, bantu saya untuk mimpi ini!



Babbling Lady:

Gambar ditowel dari sini
Terima kasih Maslooow
Untuk segalanya...
Kau berikan lagiii ...
Kesempatan ituuu...

(Afgan - Terima Kasih Cinta Maslow)

Repost from Facebook Notes #3: Siapa yang Bilang?

Irviene:

Jumat, 7 Januari 2011, 5:28 PM



Siapa yang bilang kita tidak bisa menilai diri sendiri?

Hari ini saya belajar satu hal dari sebuah momen yang mencerahkan:

Kita semua bisa menilai diri sendiri.

Pernahkah, merasa berada di tempat yang seharusnya kamu tidak di situ?
Ramai, tapi terasa sangat asing. Karena kamu merasa kamu tak layak berada di tempat itu.
Hati merasa tertekan, ingin segera keluar dari tempat itu. Tiba-tiba merasa sedih, tak berharga .. atau sebaliknya. Tiba-tiba merasa tinggi dan tak ingin disentuh.

Itu adalah saat di mana seseorang sedang menilai dirinya menurut parameter tempat di mana ia berada. 
Kadang ia merasa terlalu rendah untuk berada di sana. Atau sebaliknya, merasa terlalu tinggi untuk berada di sana.
Seperti sebuah gedung bertingkat. seorang manusia tahu di lantai mana ia berada sekarang, karena semua pekerjaan, pengalaman, segala apa yang ia tahu benar ada di lantai itu.
Saat menekan tombol lift di lantai lain, kita menemukan divisi yang berbeda. 
"Ups, salah jurusan!" si manusia kembali menekan lantai yang benar, dan bertahan di lantai itu.

Saya sendiri tahu, saya ada di lantai berapa. Siapa yang ada di bawah lantai saya. Siapa yang ada di atas lantai saya. Saya tahu betul semua itu. 

Bagaimana bisa tahu?
Teman baik saya, si ego sudah buat arsitektur dasar gedung bertingkat saya!
Si ego tahu benar bagaimana cara mengklasifikasikan manusia-manusia yang menempati setiap lantai.
Katanya sih, urutkan saja berdasarkan 5K: Ketampanan, Kecantikan, Kesuksesan, Kekayaan, Kepemilikan.

Saya sih nurut-nurut saja apa mau dia. 
Saya bikin lah blue printnya. Saya warnai sedemikian rupa. Abu-abu dan hitam - si gloomy. Magenta - si feminim. Electric Blue - si anak g4h03L. Biru dongker - si berwawasan. dan lain-lain-lain.  Saya kotak-kotakkan gedung saya berdasarkan biodata manusia-manusia dunia saya!

Dan lalu, saya berdiam di ruangan saya. Bergumul dengan manusia-manusia yang satu lantai dengan saya.
"Asyiknya .."
Saya cinta mati sama lantai ini! Saya gak mau pisah dari lantai ini barang sedetik pun!

Tapi tahun demi tahun berlalu.
Dan saya tetap berada di lantai yang sama.
Dengan orang-orang yang hampir sama. 
Dengan warna yang masih satu keluarga, hanya dibedakan tingkat saturasinya.

Lah, saya kok jadi merasa mandeg?

Saya ingin keluar sesekali. 
Tapi saya juga gak mau berada di lantai lain!
"Udah beda level!" kata ego saya.

Peribahasanya sih,
Hidup segan, mati pun tak mau. 

Gimana ya?

Saya sih maunya pindah rumah. Gak mau tinggal di gedung lagi.
Tinggal di padang rumput aja.
Meadow.
Emang sih ngga nyaman. Banyak nyamuk, gak ada fasilitas.
Tapi hidup saya gak terbatas oleh lantai.
Karena meadow itu luas sekali, semua orang bisa hidup di sana.
Lalu kita semua, si hitam, si biru dongker, si electric blue, semua bisa menikmati pemandangan padang rumput yang luar biasa ini, sama-sama.
Kayak mimpi ya?

Bisa jadi nyata sih, masalahnya ..
Hei, manusia.
Pada bersedia ngga, kita bersama-sama pegang satu palu kecil.
Menghancurkan gedung bertingkat kita.
Lalu bersiap digigit nyamuk, gak punya meja kerja, gak bisa nonton televisi.
Tapi punya satu padang rumput luas yang teduh untuk kita nikmati gairah hidupnya bersama? 

Masalahnya lagi, 
Banyak yang ngga punya tenaga lo, pin, untuk hancurin gedung. Berat lo.
Emangnya njebol gedung kaya minum ale-ale pake sedotan?

Masalahnya lagi, emang kamu punya duit, pin, buat ngegantiin peranti-peranti mahal yang rusak gara-gara menghancurkan ruangan-ruangan punya manusia di tingkat atas?





Haduh. Dunia ini, rumit juga ya?

Babbling Lady:

Udah deh. Slaaaw aja, gak usah dibawa rumit. Buset deh.

Repost from Facebook Notes #2: Malam hari ini terasa romantis

 Irviene:

Sabtu, 15 Januari 2011 1:47 a.m
sehingga membuat saya tak ingin tidur. tak kunjung tidur. tak bisa tidur.

malam ini sungguh, sungguh romantis karena ..












tuhan sedang terasa dekat. 

saya merasa kamu sedang mencoba bicara lewat sebuah tanda sama saya malam ini.

Lewat sebuah thread di lounge kaskus yang mendekatkan perasaan dan pengalaman masa lalu saya kembali.
segala flashback yang bertubi-tubi itu, seperti mengajak saya untuk menegosiasikan subjek-subjek yang masih setengah matang pikiran saya pahami.
Namun, bedanya saya bernegosiasi langsung dengan kamu, tuhan. Seakan kamu sedang mengajak saya minum kopi di angkringan dan diskusi santai bersama saya yang dari negeri asing ini.

'Saya ngga mau jatuh ke selokan yang sama!' kata saya.
Saya dulu terjerembab di sana hingga terluka.
Lukanya tidak sembuh-sembuh. Jadi saya pikir mungkin saya terkena Hemofilia.
Setiap saya lihat luka saya, saya merasa terjerembab untuk kedua kalinya.
Berkali-kali seperti itu hingga luka saya berkembang. Makin besar, makin banyak kotoran selokannya!


Kau hanya terkekeh, lalu berkata, 'Selama ini sudah saya katakan berkali-kali tepat bahkan di lubang telingamu agar semakin keras omongan saya itu. Jangan begini. Jangan begitu. Sebaiknya kamu begini, karena saya mengharamkan yang itu.
Haha, saya sih sudah menduga kamu tak akan begitu menggubrisnya. Saya sangat tahu, bahwa bagimu omongan saya tak lebih penting daripada pengalamanmu. Experience adalah segalanya, bukan?'

'Jadi saya biarkan kamu jatuh. Beberapa kali kalau perlu, sayangku. Saya biarkan kamu terluka agar kamu mengerti esensi omongan saya. Larangan saya. Perintah saya. Saya pun biarkan kamu, si kecil satu byte, masih kotor.
agar kamu mengerti ... alasan mengapa masih ada satu terrabyte orang yang jatuh lebih dalam dari kamu. Dan baju mereka jauh lebih kotor.
Kamu jadi tahu rasanya berada di selokan itu, bukan?

Kamu mengerti. Lalu kamu menciptakan satu terrabyte manusia yang utuh dalam pikiran dan hatimu. Bukan hanya kepingan parsial yang kamu dapat dari mencomot satu bagian kehidupan yang tertonjolkan saja.





Wuah, malam ini kamu sudah tolong saya keluar dari selokan itu. Alhamdulilah.
Masih kotor, masih terluka. Namun saya sekarang tahu teknik untuk bermanuver menghindari selokan itu.
Kalau ada selokan baru, saya akan berusaha untuk tetap open minded kok.
Tapi kalo saya masih misuh-misuh, merasa paling menderita, lalu masih putus asa juga, tolong getok dikit kepala saya, ya!

Selamat datang selokan baru! Saya menghadapimu lagi, tapi kali ini saya punyaaaaaaa

PETA!


Price Tag - Jessie J feat B.O.B

Irviene:

Instantly and deeply fall in like with this song!

PRICE TAG - Jessie J. Feat. B.O.B



Okay, Coconut man, Moon Heads and Pea 
You ready 

Seems like everybody's got a price, 
I wonder how they sleep at night. 
When the sale comes first, 
And the truth comes second, 
Just stop, for a minute and 
Smile 

Why is everybody so serious 
Acting so damn mysterious 
Got your shades on your eyes 
And your heels so high 
That you can't even have a good time 

Everybody look to their left (yeah) 
Everybody look to their right (ha) 
Can you feel that (yeah) 
We're paying with love tonight 
It's not about the money, money, money 
We don't need your money, money, money 
We just wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag 
Ain't about the (uh) Cha-Ching Cha-Ching. 
Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling 
Wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag. 

Okay! 
We need to take it back in time, 
When music made us all unite 
And it wasn't low blows and video hoes, 
Am I the only one getting tired 
Why is everybody so obsessed 
Money can't buy us happiness 
Can we all slow down and enjoy right now 
Guarantee we'll be feeling Alright. 

Everybody look to their left (yeah) 
Everybody look to their right (ha) 
Can you feel that (yeah) 
We're paying with love tonight 
It's not about the money, money, money 
We don't need your money, money, money 
We just wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag 
Ain't about the (uh) Cha-Ching Cha-Ching. 

Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling 
Wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag. 

[B.o.B] 
Yeah yeah 
Well, keep the price tag 
And take the cash back 
Just give me six strings and a half stACK. 
And you can keep the cars 
Leave me the garage 
And all I.. 
Yes all I need are keys and guitars 
And its with in 30 seconds I'm leaving to Mars 
Yeah we leaping across these undefeatable odds 
Its like this man, you can't put a price on the life 
We do this for the love so we fight and sacrifice everynight 
So we aint gon stumble and fall never 
Waiting to see this in the sign of defeat uh uh 
So we gon keep everyone moving their feet 
So bring back the beat and then everyone sing 

It's not about the money, money, money 
We don't need your money, money, money 
We just wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag 
Ain't about the (uh) Cha-Ching Cha-Ching. 
Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling 
Wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag. 

It's not about the money, money, money 
We don't need your money, money, money 
We just wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag 
Ain't about the (uh) Cha-Ching Cha-Ching. 
Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling 
Wanna make the world dance, 
Forget about the Price Tag. 

[Jessie J -Outro] 
Yeah, yeah 
Oo-oooh 
Forget about the price tag



Babbling Lady:

Ayolah orang-oraang. Sadarlah. Hidup tidak cuma sekadar punya Blackberry dan obsesi jadi anak gaul.
Forget about the price tag. Just forget about ALL the tags you've sticked  for people around you.

ALL THE TAGS.

dan berkenalanlah dengan semua jenis kehidupan di dunia. 

Kalo cuma pilih yang tag-nya paling mahal, gue jamin seratus persen gak akan pernah live to the fullest :)

Having Fun

Irviene:

From Asfiyah Fadhillah 


Hahahahahaha, funny !!

Hijabers Community Launching: March 19, 2011 - The Event

Irviene:

March 19 that I've been waiting for has already came!

It's Hijabers Community Launching!

So, I was there three hours late because I was too D.O.D.O.L. I used TransJakarta from Mampang to Pondok Indah Lestari and got the wrong way. I supposed to be going north, but I'm going south. So, it was like a veeery looong jooourneeey rounding every edge of Jakarta in three hours with a 'lovely' TransJakarta. By the way, I'm all alone at that moment and I always get lost when I'm going somewhere by myself. Hahaha. 

When I was so confused in searching Pondok Indah Lestari, two beautiful hijabers came by and I was straightly asked them, "Hijabers Community?" They smiled and show me the right way to PIL. They are Kak Yuni and Kak Rani. Very kind of them, they seemed understand my hopeless lonely face, so they asked me to join with them. Whaa, what a lovely hijabers :)

Top: Kak Yuni
Bottom: Kak Rani
When we came, PIL was very crowd with awesome Hijabers! It was the first time for me seeing soo many Hijabers that had so many different awesome style and beauty. My heart was beating up. Inspiration everywhere! Yay!

Hijabs as long as your eyes could see

Ria Miranda's Shabby Chic Fashion Show

The awesome Ina Rovi sang "Pelangi  Hati"

Beauty in Hijab everywhere

Great Bazaar

Overall, I enjoyed this event very very satisfiedly (unless the TransJakarta's problemotico.) ! Can't wait for Hijabers Community's next event ! 


With HC Committee

Top: Hana Faridl and Fifi Alvianto from Hijab Scarf



What a Day ! 
Thanks Hijabers Community for making such a nice event !



What I wore:










Babbling Lady:

Funny thing happen when Irviene met Mrs. Hana Faridl. She was very excited mixed with  not-straight-brain-having. She said, "Are you Hana Tajima?" Mrs. Hana laughed and said, "Noo, Hana Tajima is still in London!"

Haha, another stupidity of you!
 :D