Long Term Memory Loss - Disease

Irviene:

Hari ini saya dikejar deadline pengumpulan berkas sebuah acara pelatihan. Namun, saya benar-benar tidak bisa menahan untuk menulis sesuatu hal mengenai judul di atas.

Saya mempunyai penyakit itu. Long Term Memory Loss Disease. Bahasa Indonesianya 'Penyakit hilangnya memori jangka panjang'. Saya sudah sadar akan hal itu sejak SMA, dan sudah dibenarkan pula oleh Kepala Keamanan universitas saya. Saya sering lupa akan hal-hal di masa lalu. Jadi jangan tanya saya bagaimana masa taman kanak-kanak saya, siapa nama guru SMP saya, pengalaman paling berkesan apa yang saya alami sepanjang saya masuk sekolah dasar, kapan Bapak-Ibu saya ulang tahun... please jangan tanya saya tentang hal itu karena saya tidak tahu jawabannya.

Hari ini saya menyadari satu hal bahwa saya mempunyai satu lagi penyakit. Saudaranya judul postingan ini juga. Namanya Short Term Memory Loss. Ternyata saya juga punya 'Penyakit hilangnya memori jangka pendek'. Saya sering sekali melupakan detil-detil kecil yang sebenarnya berarti dalam hari-hari yang saya lalui. Contohnya, di mana flash disk saya, saya mau melakukan apa, tadi sudah melakukan apa, jalan ini jalan apa, siapa namanya orang itu. Ini gila, tapi saya benar-benar sering sekali melupakan hal-hal seperti itu.

Saya sedih sekali. Karena itu saya menangis, benar-benar menangis saat menulis hal ini di blog saya. Kenangan itu hal yang benar-benar berarti bagi saya. Sangat penting, tidak akan tergantikan oleh apa pun. Karena itu saya marah sekali saat tante saya membuang diari-diari masa sekolah dasar saya yang jumlahnya sangat banyak. Karena itu saya cinta sekali sama agenda kuliah tahunan saya yang berisi rencana-rencana satu bulan ke depan saya dan tugas-tugas saya. Dan karena itu juga saya sayang sekali sama blog saya ini. Mereka menyimpan semua kenangan saya, saat otak saya begitu tumpul untuk mengingat semuanya, sehingga saya sedikit demi sedikit kembali teringat akan pengalaman-pengalaman saya, obsesi saya, dan objek-objek di sekitar saya. Atau paling tidak, saat benar-benar tidak bisa mengingat, saya masih membuat fatamorgana untuk itu dengan benar.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan saya lima, sepuluh, dua puluh tahun ke depan. Bisa jadi skenarionya ternyata saya mengidap alzheimer atau Neurodegenerative illness yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada saya. Atau mungkin akhirnya akan happy ending dengan semakin meningkatnya daya ingat saya dengan minum obat peningkat daya ingat dan sering mengaji (kata sahabat saya, mengajilah maka daya ingat bertambah). Atau mungkin bakal super duper luar biasa seperti mendapatkan Guiness World of Records dengan titel 'Perempuan yang Bisa Menghapalkan Nama Seluruh Penduduk di Kota Jakarta beserta Makanan Favoritnya'. Saya tak tahu yang mana yang cocok untuk skenario saya. Saya hanya berdoa, semoga apa pun yang terjadi pada saya, saya tetap dilimpahi kebahagiaan tak terbatas.

Yah, paling tidak saya sekarang mau mencoba menikmati keadaan diri saya. Menertawai sampai menangis segala kebodohan saya. This is how I am. I'm not afraid of being too different than you, people. I will stand in the front line to get my right for being me.

Babbling Lady:

Be happy for being different.
Memory loss LOL series, begin! :)


3 Responses so far.

  1. Banyak-banyak bersyukur..

  2. Unknown says:

    kalau soal pelajaran-pelajaran disekolah, rumus-rumus dan teori yang dijelaskan oleh guru, apa kamu juga tidak bisa ingat?

Leave a Reply