Menemukan Pemimpin (updated)

Irviene:

Saya memang pembangkang dari SD kalau menyangkut soal pendidikan. Dulu waktu mau masuk SMP, saya ngga mau masuk SMPN 3 Malang, SMP unggulan di sana. Saya sampe nangis-nangis depan orang tua, ngga mau masa depan saya suram karena merasa terintimidasi oleh perbandingan kemampuan otak + isi dompet antara saya dan anak-anak di sana (SMP 3 terkenal SMP-nya si anak cerdas, unggul, dan berpunya). Akhirnya orang tua saya setuju saya di SMPN 1 Malang saja. Si sekolah nomor dua.





Lulus SMP dengan hasil yang lumayan dan tak lumanyun, saya juga masih saja ogah disuruh masuk SMA unggulan, SMAN 3 Malang. Alasannya sama. Saya itu tidak sepintar itu. Saya itu tidak seunggul itu. Dan saya itu tidak kaya sekaya itu. Akhirnya dengan kecewa lagi, orang tua saya setuju saya masuk SMAN 1 Malang saja. Si SMA nomor dua.

















SMA alhamdulillah juga lulus dengan nilai yang cukup bisa dipertanggungjawabkan. Keberhasilan ini dibentuk dari tekanan harus lulus + les-tiap-hari-kaya-kerja-rodi di bimbingan belajar NEUTRON + contekan yang tersebar di seluruh penjuru meja ujian. Eh, ngga dinyana alhamdulillah lagi juga lulus di universitas ini, universitas inu, universitas ono. Heran, padahal saya  ngerjain semua ujian masuk universitas cuma berdasarkan firasat. SUERRRR. Saya jadi percaya kalau Tuhan emang baik sama hambanya yang lagi tertekan lalu sholat tahajud tiap hari. hahaha.


Eh, tapi Paramadina itu bagaikan pilihan sambilan. Saya mendaftar di sana karena kata sebuah blog beasiswa, sekolahnya gratis. dikasih ini, dikasih itu. ya saya coba-coba saja. Paramadina apa? Rektor Anies Baswedan siapa? Di belahan mana? Sumpah deh, saya emang udik. Saya ngga pernah tahu ada kampus seperti itu di bumi ini. Gak disangka kok ya keterima, sama si Ema juga, temen seperjuangan. Oalah, dunia ini emang aneh. Saya lebih aneh lagi. Apply di universitas yang saya tidak kenal sama sekali, diterima di sana, dan ... memilihnya sebagai masa depan perkuliahan saya! Padahal ayah tidak menyetujui. Tapi... namanya juga pembangkang. Kapan lagi saya bisa punya kesempatan untuk membuktikan bahwa dunia memang tak selebar Kota Malang? Ini kesempatan saya buat melihat dunia dengan perspektif baru.


Sekarang, terhitung sudah lebih dari satu setengah tahun saya di sini, dan saya, alhamdulillah lagi untuk kesekian kalinya, tidak menyesal sudah memilih Universitas Paramadina Jakarta sebagai tempat saya melanjutkan sekolah.


Kenapa?


Penjabarannya akan membutuhkan beberapa halaman cerbung. Namun, salah satu alasannya adalah: Saya menemukan orang-orang yang saya tak pernah berkhayal akan menemukannya di sini. Pemimpin-pemimpin yang entah bagaimana seperti punya sinar-sinar putih sebagai background kalau mereka datang.


Ini adalah beberapa dari pemimpin yang saya kenal cukup dekat...


Marijo: Pelatih teater. Ini orang pertama kali melatih saya teater kok mukanya kaya om-om senang. Serem. Item. Bentuk gak jelas. Suka nyuruh-nyuruh. Tapi, setelah lama ikut Kafha: Laboratory for Humanity and Culture dan Teater Kafha, saya jadi lebih mengenal orang ini. Satu hal yang perlu ditekankan. Ternyata dia bukan om-om senang (walau sering ngomong mesum, hahaha). Kalau bisa dibilang, dia adalah salah satu orang paling berdedikasi dalam bidangnya di antara orang-orang dalam address book hidup saya. Dia pendiri Kafha enam tahun lalu dan sampai sekarang menjadi core person organisasi ini. Saya yakin, anak-anak Kafha pernah berpikir dalam hatinya masing-masing, "Kalo gak ada orang ini, Kafha gak seru!", "Kalo gak ada Marijo, kegiatan Kafha tewur!", "Kalo gak ada dia, gimana jadinya Teater ya?". Tanpa disadari, kehadirannya dibutuhkan, dicari, dirindukan.


me and oom senang



Di mata saya, hal itu timbul karena dedikasinya terhadap apa yang dia cinta. Saat dia cinta Kafha, ya dia akan bekerja sepenuh hati untuknya. Saat dia cinta teater, ya dia akan mengajar anak-anak bermain teater walaupun ngga pernah dibayar. Tidak seperti orang kebanyakan yang oportunis yang melakukan sesuatu agar dirinya untung secara materiil, atau malah melakukan sesuatu karena ngga mau ketinggalan tren (yang bekerja demi uang dan membeli hape beri-beri karena ingin terlihat 'mahal'). Dia melakukan sesuatu karena dia cinta. Kejujuran ada dalam kontribusinya dan dia berani berada di barisan depan untuk membela kejujuran itu.


Hal lain yang saya kagumi adalah sifatnya yang mingle sama semua orang. Saya tidak heran kalau Kafha menjadi organisasi yang kaya akan perbedaan. Ada tukang riset, tukang filsafat, tukang band, tukang nari, tukang kelebihan duit, tukang ngutang, tukang orasi, tukang ngurus administrasi, dan tukang-tukang aneh lain. Mungkin keragaman itu salah satunya ya karena orang ini.


Vina: Sahabat. Pertama kali saya notice anak ini adalah saat pertemuan PF 2009 pertama. Saat diminta untuk menceritakan pengalaman seleksi masuk Paramadina, dia cerita tentang saudara kembarnya yang gagal masuk Paramadina sampe nangis dengan logat sunda-bikin-ngakak-yang vina-banget itu. Hal itu bikin saya ikutan nangis juga.





Ternyata dia satu prodi sama saya. Manajemen dan Bisnis. Mau ngga mau saya jadi sering berinteraksi sama dia. Lama-lama jadi akrab juga karena kita satu UKM. Istilahnya, senasib sepenanggungan. Kayaknya sih saya bisa cocok sama vina karena dia orangnya 'nyocot aja' alias cereweeeet. Saya kan pendiem lembut-lembut alim gimana gitu. Hahaha.


Tapi dia emang berbeda. 


Siapa orang yang paling sering menanyakan apakah saya sudah makan apa belum? Dia. Yang paling sering mengingatkan untuk tidak lupa kuliah? Dia. Yang paling mau tahu saya mau ngapain aja? DIA! Perhatiannya itu lho, mengalahkan peran pacar. Ngga heran para kumbang banyak yang suka sama kembang perawan macam dia (jadul mode). Pernah, waktu dia lagi suka-sukanya sama *tiiiiiiit*, dia sampe khawatir apakah si *tiiiiiit* itu kalau tidur pakai autan apa tidak. Karena malu, jadinya saya yang jadi tumbal buat menanyakan kepada orang yang bersangkutan. "Hai *tiiiiiiiit*, apakah sudah pakai autan? Jangan lupa sebelum tidur dioleskan!".  


 Selain itu, dia sangat berkepala dingin dan pemberani kalau sedang menghadapi masalah, kecuali untuk beberapa masalah menyangkut perlaki-lakian. "Kemarahan bukan penyelesaian masalah, selalu ada alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu." Dia dewasa. Itu juga yang membuat saya nyaman berada di dekatnya. 


Tapi akhir-akhir ini gara-gara saya, kayaknya dia jadi suka ngomong kasar. fak fak dog gitu deh. Hahaha.


Riri dan Shintya: Bomber. Paramadina bakal sepi tanpa dua anak ini. Prestasinya selangit: Juara debat, ketua UKM, vokalis, menari sampai Polandia, IPK alamak; tapi energinya ngga pernah habis. Salut saya. Minum jamu apa, ya? Yang seperti ini harusnya tiap kampus punya banyak. Encourage jadi tumbuh dalam diri saya untuk selalu semangat melangkahi mimpi-mimpi saya.





















Arya, Ricky, Keken, Benni, Ihsan, dkk: Senior 2008 Kafha. Wah, lima ribu jempol sama mereka. Kalau dibuat update status di facebook, mungkin 31.000 orang menyukai ini. Mereka berani punya prestasi di bidang masing-masing, tapi ngga pernah lupa sama organisasi yang jadi rumah mereka. 




















Amrin & Rona: Satunya mantan junior waktu SMP yang tidak pernah saling kenal yang menjadi junior lagi di Paramadina, satu lagi junior yang ternyata mantan PILDACIL (da'i cilik di TPI). Mereka berdua bikin saya merasa junioritas semakin merajalela. Kagum. Itu yang saya rasakan waktu saya dekat sama bocah-bocah ini. Saya masih ingat bagaimana Rona pasang muka stres saat rundown acara puncak Imunisasi Puisi dan Paramadina Bakti Negeri belum kelar. Gayanya tomboi-tomboi slenge'an. tapi ternyata dalamnya sabar, bertanggung jawab, dan selalu berpikir maju ke depan. Dan cara ketawanya itu lho. Kalau saya laki-laki, pasti sudah jatuh cinta sama ketawanya yang luar biasa. Amrin hampir sama seperti Rona. Saat saya tahu bahwa dia berani mencalonkan diri sebagai ketua pelaksana sebuah acara, saya jadi tahu juga bahwa dia punya keberanian yang dibutuhkan untuk mengambil tanggung jawab. Keberanian seorang pemimpin.

















Ai Nurhidayat: Mantan Sekjen Serikat Mahasiswa. Ini orang pertama kali saya kenal waktu Akselerasi Kafha di mana dia jadi pendamping kelompok saya. Aneh. Sumpah ini orang aneh banget. Gondrong gak jelas, ngomongnya politik, suka berpose aneh dan mesum. Apalagi waktu saya tahu dia hobi demo di Bundaran HI. Kaget juga saya beberapa bulan ternyata dia mendirikan SEMA dan menjadi sekjen. Tetep aja ngga ada yang berubah dari dia. Ya begitu itu pokoknya Ai Nurhidayat. Jabatan tinggi tidak membuatnya jaga image. Dia adalah padi yang merunduk karena banyak sekali isinya, dan menaungi semut-semut di bawahnya karena sikap merunduknya.

















Masnur: Banyak cerita tentang dia. Namun, satu kualitas penting yang saya highlight darinya: ketulusan. Saya rasa kualitas seorang pemimpin harus dimulai dari sini. Basic. Percuma deh jabatan selangit, tapi ternyata tujuan dasar kepemimpinannya melenceng. Saat tulus, seseorang akan jujur dengan dirinya sendiri. Saat itulah, memimpin diri sendiri dapat dimulai. Saya senang pernah mengenalnya cukup dekat. Saya belajar menjadi diri sendiri dan menciptakan rasa tulus darinya.  


Masih banyak sekali orang-orang berkualitas pemimpin di sini. Kalau saya bilang banyak sekali, memang berarti BANYAK SEKALI. Sayangnya saya bakal kram tangan kalau menceritakan mereka satu per satu. 


Hmm, tapi saya menemukan banyak pelajaran baru untuk saya hikmahi gara-gara mereka. Alhamdulillaaaaah.


Babbling Lady:


Academy Award untuk mereka semua!


:shakehand 

7 Responses so far.

  1. Anonim says:

    Aaaahh.. itu mah perasaanmu saja , Sayang..
    MEnggantikan peran pacar gimana, kan kita pacaran?? hahahaha.. **Niiiitt.. fak fak fak sit sit sit

  2. dan satu lagi, saya temukan pemimpin disini. Namanya Irviene Maretha. Atau biasanya saya panggil Pipin! ato kak Pipin! kalo lagi insyaf. hhaha.
    Serius ini kak, bukan sebuah pong balasan ping dalam permainan ping pong. Aku seneng lo kalo lg ngobrol sama kak pipinn.. :P

    *ralat, lativi, bukan TPI atuhh, wakakak

  3. vina: ya allah beri saya pacar secepatnya agar hubungan in tidak mengarah ke ujung maksiat ya allah

    rona: wakakaka, iya ya lativi ya, kalo tpi mah kdi, wakaka
    wasiik .. enak aje manggil aku kak pipin .. mulai sekarang panggil ane NYONYA

  4. Anonim says:

    masukin semua dong fotonya, gimana sih mukanya, penasaran eke

  5. boljug tuh ..

    pembaca adalah raja.

    your wish is my commaaaand beibeeeh .. :)

    nantikan update selanjutnya (kayak acara tipi aja)

  6. Anonim says:

    akhirnya ada juga potonye, ketahuilah aku termasuk dalam salah satu orang yang kau sebut disini, khe khe khe khe

  7. Anonim says:

    ini pasti amrin -___-

Leave a Reply