Satu setengah tahun

Irviene:

Satu setengah tahun bagi saya itu waktu yang cukup lama. Yah, kalau satu setengah tahun adalah waktu mengenal teman, maka kita akan sudah tahu bagaimana sifat baik dan buruk mereka secara garis besar. 

Satu setengah tahun itu adalah masa pertemanan saya dengan si Jakarta. Bukan, tidak ada laki-laki yang saya taksir yang bernama Jakartawanto. Itu semata-mata nama salah satu ibukota negara tempat saya tinggal sekarang.

Karena satu setengah tahun, saya menjadi cukup tahu dan cukup mengenal kota ini. Sayangnya, seperti zodiak Virgo dengan Leo, saya sepertinya tidak pernah berjodoh sama kota ini. Saya tidak bisa bilang benci, karena kata itu terlalu negatif, tapi ya... mungkin saya memang agak sebal.

Saya benar-benar gak habis pikir sama kota ini. Kota paling aneh. kalo orang Malang bilang, UUAAANEEEH TENAN.

Mau skydining atau cuma ngesol sepatu aja nabungnya sampai menggebu-gebu.
Transportasinya, biyuung. Kayak labirin di Jawa Timur Park yang menggiring kita entah ke mana.
Udaranya kayak ketek, apalagi kalau pas berdiri di belakang Metro Mini (yang sama sekali tidak 'mini').
Orang-orangnya hebring, gak nyantai. Bawaannya marah-marah melulu setiap jam pergi ke kantor, jam makan siang, dan jam pulang kantor gara-gara macet. Pas ngantor, kok ya grusa-grusu karena harus appointment ini appointment itu. 




Tapi kok orang-orang berloma-lomba ya datang ke sini?
Saya paham benar dan saya mengakui memang Jakarta ini penuh dengan hal-hal super. Orang-orang super yang berseliweran di media, organisasi-organisasi skala nasional yang hebat dan enerjik, perusahaan-perusahaan multinasional, serta serentetan puncak gunung memikat lainnya yang membuat orang bernafsu untuk mendakinya.

Tapi .. plis deh. Delapan dari sepuluh orang juga sepakat kalau hidup di sini itu ngga tenang! Hidup itu harus dinikmati, maka bisa dihikmahi. Karena itu, kita juga harus pilih lingkungan yang nikmat juga untuk kita tinggali.

Untuk saat ini, saya memang benci sebal sama Jakarta. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya sangat bersyukur karena saya memiliki kesempatan untuk hidup di sini di masa muda saya. Hikmahnya, saya yang masih berapi-api ini bisa bersemangat berkali-kali lipat untuk selalu memuliakan hidup saya dengan terus maju, bergerak ke depan. (yes, Jakarta is taft. Orang yang gitu-gitu aja, sori dori mayori. Tidak diterima)

Selain itu, hikmah lainnya adalah ...



Saya jadi bisa menentukan bahwa ...




Kota Jakarta resmi saya coret dari daftar calon kota idaman untuk ditinggali bersama suami sampai tua keladi nanti. Titik.


#Catatan saat naik TransJakarta selama tiga jam berdiri non stop dua kali transit salah arah pula

Babbling Lady:

Hikmah lainnya, jadi gak egois ye. Berasa banget, kan di sini kalau orang egois itu menyebalkan ? 
XD

4 Responses so far.

  1. Tangerang dong pin...
    sama ajaaaa.. :))
    suami km siapa pin?

  2. hahahaha .. masa sih sama aja ? kirain jakarta paling parah ..

    suami akyuuu .. iiiih .. sapa aja boleeh .. ahaha

  3. sp aja boleh yg ptg sholeh.. :p

    jalan di tangerang tuh Lebar2.. jd gak macet..
    Tangerang itu kota berhias.. walikota-nya Wahidin Halim T.O.P Begete.. :D

  4. wooo sombong sombooong ..

    orang tanggerang congkak2 .. ahahaha

Leave a Reply