Terima Kasih Maslow!

Irviene:

Abraham Maslow berargumen bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. 

Gambar ditowel dari sini
 Psikolog Humanis ini mendefinisikan hierarki yang didapatnya sebagai berikut:

1. Kebutuhan Fisiologis, tingkatan paling dasar. Yang termasuk bagian ini antara lain bernapas, makanan, air, seks, tidur, tempat berlindung.
2. Kebutuhan akan rasa aman dan nyaman
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4. Kebutuhan untuk dihargai
5. Kebutuhan aktualisasi diri, tingkatan paling tinggi, di mana di sini seorang manusia bisa mencapai vitalitas, otentisitas, rasa bermain, dan self-sufficiency.

Mengapa saya membahas teori Hierarki Maslow?
Saya teringat teori ini berkat suatu maghrib yang padat merayap di suatu perempatan di Jakarta. Saya saat itu tengah duduk di Metro 'Mini' nomor P20 sambil bergumul dengan asap knalpot kendaraan yang bergerak dengan kecepatan 1 cm/menit ditambah kebombastisan manuver-manuver supir bus ini yang hobi serempet sana serempet sini.

Saya melihat sesuatu itu di bus ini. Seorang pengamen perempuan yang membawa bayinya lalu menendangkan lagu paling hit di Dahsyat, entahlah apa judulnya. Berbekal baju seadanya, ditambah sebuah kecrekan, dia bernyanyi seadanya pula sambil sesekali mengipas-kipas bayinya yang terlihat gerah kepanasan.

 Saya ikut gerah. Bukan karena asap knalpot lagi, tapi karena pemandangan itu. Hati saya bergumam, "Enaknya saya kasih receh, ngga ya?"

 Katanya ngamen doang bisa dapat empat juta tiap bulan? Ah, ngga deh.
Tapi bayinya kasihan, susu bayi sekarang mahal! Ah, iya deh.
Tapi saya bakal mendidik ibu itu mengamen terus! Ngga jadi, deh.
Kamfret. Gue kasih duaratus aja, deh. Fair.  
Duaratus ngga akan cukup untuk mendidik pengamen untuk terus mengamen, pikir saya.

Akhirnya saya kasih recehan duaratusan untuk ibu itu. Namun sebenarnya dalam hati saya, saya ingin berteriak, "Ibu! Please jangan bawa anak lagi! Kalo bisa malah please jangan mengamen lagi!!"

 Saya mengerti dilemanya. Harus ada harga yang dibayarkan untuk sekaleng susu bayi. Dan harga yang dipilih ibu tersebut adalah risiko keselamatan bayinya. Karena dengan membawa anaknya, rasa kasihan bertambah. Rasa kasihan biasanya berbanding lurus dengan recehan yang akan dikeluarkan penikmat musik yang ia bawakan, kami-kami para penumpang ini.

Bukan gambar sebenarnya, towelan dari sini
Kejam, ya? Itulah cara kerja kemiskinan. Itulah perpaduan antara uang dan kapitalisme. Itulah penerapan teori Hierarki Kebutuhan Maslow.

Si Ibu, berada dalam tingkat dasar teori ini. Ia harus bekerja sedemikian keras untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya dan bayinya, karena itu, ia mengorbankan tingkatan lain yang tersisa dari dirinya. Ia mengorbankan rasa aman dan nyamannya dan bayinya (tingkat dua). Malah saya rasa, ia juga merasa lebih baik menghabiskan saja perasaan ingin dihargai yang ada pada tingkatan keempat teori ini. (Tak percaya? Ayo mengaku, siapa yang acuh, bermuka masam, lalu menganggap rendah pengamen jalanan?) 

Si Ibu mengorbankan tabungan yang ia punya di tingkat kedua dan tingkat-tingkat di atasnya, karena ia harus bisa mempertahankan kedudukannya di tingkat satu! Jika kebutuhan fisiologis tidak tersedia, maka secara otomatis, tidak ada waktu untuk mengurusi tingkat kedua, ketiga, dan tingkat terakhir. Ini berarti, tidak akan pernah ada waktu untuk si Ibu untuk merealisasikan mimpinya, mengaktualisasikan dirinya, mengembangkan harga dirinya karena untuk beli susu kaleng saja ia harus empot-empotan!

Saya lalu merasa saya benar-benar memuakkan. Mengapa untuk mengeluarkan sejumlah recehan saja saya berpikir sebegitu peliknya?

 Lebih memuakkan lagi saat saya menyadari bahwa saya sebenarnya sangat beruntung bisa loncat tingkat dalam hierarki ini tanpa harus bersusah payah memikirkan cara bertahan dalam tingkatan fisiologis. Saya punya kos-kosan yang nyaman, saya bisa makan the-super-enak-iFood (Indonesian Food, tempe), saya bisa tidur sampai ngiler-ngiler, dan saya masih bisa bernapas (huh-hah-huh-hah, hmm masih oke pula).

Saya kurang bersyukur dan itu adalah tindakan manusia normal yang paling gila, menurut saya.

Karena Maslow, saya mempunyai kesadaran baru. 
Dan juga....
Mimpi baru
Untuk senantiasa membantu manusia yang masih terperangkap dalam jerat tingkat pertama agar paling tidak dapat naik untuk menggapai tingkat selanjutnya. Saya ingin paling tidak manusia bisa tidur, makan, minum, dan bertempat tinggal agar ia bisa bermimpi lebih tinggi. Tidak lagi mandeg pada mimpi membeli susu kaleng saja.

Bismilah. Dunia, bantu saya untuk mimpi ini!



Babbling Lady:

Gambar ditowel dari sini
Terima kasih Maslooow
Untuk segalanya...
Kau berikan lagiii ...
Kesempatan ituuu...

(Afgan - Terima Kasih Cinta Maslow)

One Response so far.

  1. Anonim says:

    Teori ini sekarang udah lama gak dipakai mbak.... hehe.
    tapi tulisannya bagus mbak...

Leave a Reply