Achievement

Irviene:

Beberapa waktu yang lalu saya mengalami kesedihan sepanjang hari. Tumben, karena biasanya jika sedih, kesedihan itu tidak akan saya remas berlarut-larut. Tapi kali ini, dari pagi hingga pagi lagi, saya masih remas-remas rasa sedih itu.

Kesedihan dimulai pada suatu sesi di mana saya sharing dengan orang-orang yang luar biasa di bidangnya masing-masing. Ada yang sudah menjadi entreprenenur, ada yang sering menang lomba skala nasional, ada yang sudah pernah pertukaran budaya ke luar negeri, ada juga yang sudah diterima pertukaran pelajar ke negara asing idaman, ada lagi yang lolos seleksi skala internasional begini dan begitu. Wah, Alhamdulillah bisa sharing dengan orang-orang yang luar biasa, pikir saya.

"Si A begini, si B begitu, si C ke sini, si D ke situ. Wah, semua sudah terlihat fokus mereka di mana. Bagaimana denganmu, Pin? Apa rencanamu?" tanya moderator.

Kesedihan saya dimulai dari pertanyaan ini. 

"Hmm.. saya ingin berbisnis sih, tapi masih berupa angan-angan. Slow aja.. hehehe"

Sejujurnya hati saya sama sekali tidak slow. Saya merasa gagal secara komparatif. Pertanyaan yang sebenarnya sangat baik dan encouraging itu di pikiran saya berputar-putar menjadi seperti ini.

~~ Orang lain sudah berhasil semua, tapi kamu ke mana aja wooi... Ayo cepetan bikin achievement atau bakal ketinggalan kereta kamu! ~~

Oh, pikiran itu adalah hal yang sangat menusuk-nusuk harga diri saya. Saya menjadi seorang yang lemah dan berpikir bahwa until now, I'm bullshitting. Nothing. And freakably unnecessary. Jadi yang selama ini gue lakuin sebenarnya apa?


Pencapaian saya memang super kecil jika dibandingkan dengan orang lain. Wah, saya pernah menang lomba apa sih? Saya pernah lolos seleksi apa sih? Saya pernah pergi ke mana sih? Tapi entah kenapa, saya merasa  tidak ter-encourage dan justru sedih dengan keberhasilan teman saya yang dibanding-bandingkan dengan saya.


Saya mengerti jawabannya saat berdiskusi dengan teman sekamar saya, Asfiyah Fadhillah


"Ingat nggak, kata-kata di film Step Up 3D kemarin? It's not about the arrival. It's about the journey. Berhasil itu berbeda dengan sukses, Pin. Saat kamu berhasil pergi ke luar negeri atau menang lomba, itu bukan berarti kamu sudah sukses. Sukses itu saat kita bisa berkontribusi untuk kehidupan orang lain.


Kamu, masih tetap bukan kamu, saat ada dan tidaknya kamu itu tidak ada bedanya."


Itu yang saya cari selama ini. Kesuksesan dan bukan keberhasilan. Journey and not the arrival. 
Makanya saya bahagia terhadap mereka yang menang lomba, tapi tidak merasa terlalu menginginkannya.
Makanya saya senang melihat teman pergi ke luar negeri tapi tidak menginginkan pencapaiannya.


Bukan karena saya malas, sungguh. Tapi saya sungguh lebih mencintai pengalaman daripada pencapaian. Saya ingin berada di puncak Teori Motivasi Maslow di mana pengakuan tak lagi fokus utama saya, tapi bagaimana mengaktualisasikan diri saya dalam bentuk kontribusi untuk dunia.


Achievement is important. Tapi sekarang, saat saya mencoba mengejar achievement itu, saya akan menanyakan lagi kepada diri saya, "Apa yang  bisa saya lakukan setelah memperoleh achievement itu?"


Karena saya mau menjadi seperti udara, yang membuat dunia menjadi berbeda atas ada dan ketiadaan saya.


PS: Terima kasih ya, Ase, sudah bantu saya mendefinisikan perasaan saya. :)


Babbling Lady:


Mengisi CV memang penting, tapi mau di bawa ke mana CV itu, itu jauh lebih penting!

4 Responses so far.

  1. oalah kemaren gara2 ini toh sedih nya?
    ayo bungkuss segera sedihnya ;D

  2. ooh sudah kaaakaaa, sudah dibuang jauh-jauh ke TPA, trus diuraikan oleh plankton-plankton di laut pasifik sana. sekarang sudah sangat bahagia, alhamdulillah :)

    makasih makasih kak agung :)

    (malu iih, ketahuaaan guee)

  3. Pin, ak ngisi CV dibagus2in, gmna mnrt km? hahaha...

  4. hihihihi .. no comment deeh (desy ratnasari mode)

Leave a Reply