Sedekah: Iya.. Ngga... Iya... Ngga...

Irviene:

Pardon me for being such a baaaaad blogger! It's been like years I didn't write anything or share any single thought. Padahal satu bulan ini, begitu banyak pembelajaran yang saya dapatkan. *sigh*

UAS beres dan liburan tiga bulan menghantui saya. What am I going to do in these three months! Eh, tapi to be honest sebenarnya saya tidak terlalu pusing dengan hal itu. It's like, there's a loooot of things waiting for me to be done. Dan saya sangat sangat menikmatinya! You know, having tasks from passion or causes we concerned about is not like doing the tasks. It's like a joyful holiday holy-day! Dan saya excited sekali bisa meliburkan diri sebentar dari perkuliahan yang lebih sering bikin saya tidur ngantuk daripada melek. Haha. Ampun Pak Dosen!

Satu mata kuliah hidup yang saya pelajari bulan ini adalah tentang memberi sedekah. Pelajaran ini saya dapat dari speech Jessica Jackley dalam salah satu seminar TED tentang pendirian Kiva, sebuah organisasi non-profit yang menggerakkan orang-orang untuk memberi pinjaman sebesar $25 untuk dipinjamkan kepada pengusaha kecil yang tidak punya cukup modal yang membutuhkan dana tersebut. Kiva terinspirasi oleh Grameen Bank-nya Muhammad Yunus. Gak tau Muhammad Yunus? Sorai dorai mayorai, ente berarti gak gaul! Hehe.





Memberi sedekah kepada pengemis pernah saya bahas di postingan ini. Saya sempat mengalami dilema dalam memberi uang untuk pengemis (Kasih ngga yaa... ngga ah... iya ah... sambil hitung kancing). Saya tidak mau mereka mengemis, tapi saya juga merasa kasihan atas kehidupan mereka. 

Sekarang saya mengerti alasan yang tersembunyi kenapa saya merasa sebagian diri saya tidak mau mengeluarkan uang untuk pengemis.

Apa yang Anda pikirkan mengenai orang miskin?
"Mereka" yang mengalami keputusasaan, penderitaan, dan kehancuran yang membutuhkan pertolongan "kita".
Lalu tiba-tiba muncul iklan-iklan di media yang mengatakan bahwa "Harga Tiga Cangkir Kopi Dapat Menyelamatkan Hidup Orang Miskin". Lengkaplah.

Hal yang saya prediksi adalah, Anda mulai merasakan ketidanyamanan atas kekayaan yang Anda punya. Lalu menyedekahkan sebagian harta benda Anda untuk mereka. 

But, guess what, sebenarnya.. Anda tidak sedang mencoba meringankan penderitaan mereka. Anda sedang mencoba meringankan penderitaan Anda sendiri!
Memberi sedekah seperti ini bukan sebagai kemurahan hati dan sikap altruis, tapi sebagai transaksi, semacam perdagangan, untuk membeli hak Anda untuk dapat menjalani hari-hari tanpa rasa bersalah karena telah membeli secangkir kopi yang harganya dapat menyelamatkan hidup orang!

At least, itu terjadi pada saya, dan Jessica Jackley. (yah, walaupun saya tidak benar-benar mampu dan mau untuk membeli The Oh-So-Expensive Starbucks Coffee, haha)
Dan itu sebenarnya sangat mengganggu hal yang sebenarnya benar-benar ingin saya lakukan, yaitu untuk menjadi berarti dan benar-benar berguna bagi kehidupan orang lain. 


Jessica Jackley, co-founder of Kiva. Comot di sini.

Apa yang Jessica Jackley lakukan untuk mengubah hal ini? Kiva. Ia membuat sebuah sistem di mana bersedekah bukan menjadi hal yang aneh dan membuatnya merasa tidak enak. Bersedekah dengan cara meminjamkan sejumlah uang untuk orang-orang miskin, yang sebenarnya bukan si tukang putus asa atau tukang derita, tapi si pengusaha kuat, cerdas, dan pekerja yang bangun pagi setiap harinya dan melakukan hal yang membuat hidupnya dan keluarganya menjadi lebih baik. Dengan cara meminjamkan, kita membantu diri kita dari rasa bersalah, dan membantu "mereka" meningkatkan harga diri. This is what she said:

"Bahkan jika saya mampu membawa tongkat sihir dan memperbaiki semuanya, saya mungkin akan membuat banyak kesalahan. Cara terbaik untuk membuat orang mengubah hidup mereka adalah dengan memberikan mereka kontrol dan melakukannya dalam sebuah cara yang mereka percaya adalah terbaik untuk mereka."

Saya terharu mendengar kata-kata ini. Saya ulang-ulang hingga beberapa kali.

Alhamdulillah, saya tahu konsep bersedekah yang lebih baik sekarang. Yang saya lakukan sekarang adalah bereksperimen dalam pencarian medianya.

Bagaimana dengan Anda?


The Babbling Lady:
Meminjamkan uang membuat "Saya" dan "Mereka" setara. Dengan meminjamkan uang alih-alih memberi uang, kita memberi support, perhatian, dan melakukan interaksi lebih lanjut. Ini adalah materi yang jauh lebih berarti daripada hanya sekadar uang yang yang kita berikan kepada pengemis bahkan tanpa melihat wajah pengemis itu. 

Materi ini bernama cinta.

4 Responses so far.

  1. Anonim says:

    sedaaap :)
    iya bener terkadang ada ganjelan dihati saat bersedekah, mau ngasih gitu aja tapi tar ngajarin jadi males juga..hm, dgn metode ini rasanya jauh lebih baik

    ngomong-ngomong, aku tahu dong muhammad yunus siapa..gaul ya berarti ane hha

  2. waah ternyata bukan hanya aku yang merasa kaya gitu :)

    hahaha .. helloooo gaul girl .. salam kenal :p

  3. kerennn. Nice post!
    "kenapa saya merasa sebagian diri saya tidak mau mengeluarkan uang untuk pengemis"
    itu juga yang sering saya pikirkan..

  4. makasih banyak ronaa :)
    yah .. now it's time for us to re-think this problem rona,
    do you want to have that feeling or change it, it's definitely up to you :)

Leave a Reply