Be Ready for Cashion Invasion!

Irviene:



Mariska Estelita, student of Paramadina University is on the block!

Make sure to be ready for Cashion's launching!

CASHION is a platform of fashion consciousness movement that believe fashion as one of the self-expression media belongs to every people in the world. Fashion belongs not just for the one who can buy expensive branded things, but also belongs for the one who doesn’t. 


On the contrary of many people’s thought, CASHION believes that money or cash is not a border to express ourselves in fashion. Cash, surprisingly, is a trigger for fashion exploration. Simply, if we don’t have enough cash to buy fashion items, we could explore what we have now to create it.


We support two basic things: Secondhand shopping and Do-It-Yourself project related to fashion.

Secondhand Shopping
 Secondhand fashion items shopping is a consumer behavior that prefer buying things that not new or secondhand. It allowed us reduce the impact of our wardrobe for environment and of our wallet. It is also an adventurous therapy for those who like the question, “What am I going to find today? Is it going to be my size?” 

Do-It-Yourself Project
Do-It-Yourself project is a project for crafty people that encourage to create new things from any capital they have. It is environment-friendly and also creativity booster. 
____________________________________________________

CASHION adalah media yang memfasilitasi gerakan kesadaran fashion yang percaya bahwa fashion sebagai salah satu media ekspresi diri adalah milik semua orang di dunia. Fashion bukan hanya milik orang-orang yang mampu membeli barang-barang bermerek yang mahal, tetapi juga milik mereka yang tidak mampu melakukannya.

Berkebalikan dengan pemikiran orang-orang umum, CASHION percaya bahwa uang (cash) bukan batasan untuk  mengekspresikan diri melalui fashion. Uang justru menjadi pemicu eksplorasi fashion. Jika kita tidak mempunyai cukup uang untuk membeli fashion items yang kita inginkan, peran kita adalah menciptakannya.

Kami mendukung dua proyek: Secondhand shopping dan Do-It-Yourself Project yang berhubungan dengan fashion.

Secondhand Shopping
Berbelanja barang-barang fashion yang seken adalah perilaku konsumen yang lebih menyukai pembelian barang-barang bekas daripada barang baru. Selain ramah lingkungan dan murah, secondhand shopping juga merupakan terapi yang menantang jiwa petualang Anda. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Barang apa yang akan aku dapat hari ini? Apakah sesuai dengan ukuranku?” menjadi satu pengalaman berbelanja yang berbeda dengan berbelanja biasa.

Do-It-Yourself Project
Do-It-Yourself Project adalah proyek yang diperuntukkan untuk orang-orang kreatif yang menyukai menciptakan barang baru dari segala modal yang sekarang ia punya. Selain ramah lingkungan, proyek ini juga menjadi peningkat kreativitas.


Envy is A Power?

Irviene:

Jujur, saya sebal kalau ada yang mengatakan bahwa IRI HATI ADALAH KEKUATAN.

You know, in my world, seems like so many people say that thing

"Aku iri sama si A, dia bisa ikut konferensi ke Suriname. Aku mau lebih dari dia!"

"Si B udah menang lomba hadiahnya 20 jeti. Kamfret, gue pernah menang apaan? Gue harus lebih keras ikut lomba!"

"Abang C kayaknya kok hidupnya bahagia banget, banyak temen, trus disukain sama semua orang ya? Aku pengen kayak Abang C!"

As far as I know, thought like this is encouraging, but killing you.
Dulu saya sering berpikiran seperti ini. Merasa bahwa rasa iri kepada orang lain yang lebih "tinggi" adalah sesuatu yang harus dipelihara, karena iri adalah kekuatan saya untuk maju jadi orang yang lebih baik. Tapi, saya ternyata salah.

Saya tidak pernah merasa jadi lebih baik. Saya justru sering merasa buruk dengan diri sendiri. 

This is the case:
Back then, years ago, sahabat saya adalah cewek yang putih, manis, disukai temen-temennya, gampang akrab sama siapa aja, pacarnya anak band yang super baik, pintar, lucu, Mario Teguh Golden Way banget kepribadiannya, beda dari yang lain deh. To me, she is perfect. Like a sunshine that always warms us.
Lalu saya mulai merasakan hal itu. Apee nyak dan babe?
IRI.

Dibandingkan dengannya, saya ini item-item munyuk, muka belepotan gak tentu arah, kaki berbulu, jutek banget sama orang yang baru kenal. Masalah jumlah temen? Kalo gak pernah satu kelas atau satu ekskul sama saya, berarti bukan temen saya. Saya gak punya pacar -apalagi ngarep yang anak band, dan satu lagi, kalau guyon jayus banget. 
Saya IRI BANGET. Saya ingin jadi dia. Bahkan, saya ingin melebihi dia. Saya ingin dunia mengakui, bahwa saya juga worth it buat memiliki privilege yang sahabat saya ini punyai. 

Saya dan sahabat saya, bagai Beauty and the Beast
Saya ingin lebih baik dari sekadar Irviene yang item munyuk dan yang jumlah temannya gak lebih dari jumlah ruas jari tangan. Saya mau MAJU.
Akhirnya saya mulai pakai pemutih muka, saya cukur bulu kaki saya (to me back then, bulu kaki itu haram hukumnya), saya ikut ekskul macem-macem biar banyak kenalan, saya catet humor-humor yang lucu buat dijadiin guyonan nanti, saya mulai dressing up, saya latihan biar muka saya bisa senyum otomatis, wah pokoknya banyak sekali pe-er saya. 

Tapi di satu titik, saat saya mengetahui bahwa saya masih kalah darinya, saya merasa buruk. Saya merasa gagal. Saya pecundang.
Dan di satu titik, saat saya mengetahui bahwa saya pada akhirnya lebih baik darinya dari satu segi tertentu, saya merasa menang. Saya merasa ada kata "akhirnyaaaa.." dalam pikiran saya.  Saya merasa memang harusnya saya yang lebih baik. Hal baik darinya memang harus kurang dari hal baik yang saya punyai.

Keduanya adalah dua hal yang saling bertolak belakang. 
Namun, sama-sama tidak memberi saya kebahagiaan.

This power of envy makes my heart unhappy, whatever the result might be.

Mengapa?
Kekuatan iri hati ini, membuat pikiran saya terus-menerus membandingkan diri saya dengan sahabat saya. Dan karena kekuatan iri hati ini grows stronger, kalau pun di suatu sisi saya "lebih" darinya, saya akan membandingkan diri saya dengan orang yang "lebih" dari sahabat saya. This things will go, like, forever. 

Saya berani taruhan, kamu tidak akan pernah merasa puas dengan keadaan dirimu saat kamu menggunakan this power of envy.
Rasa puas terhadap diri sendiri itu penting banget, lho (at least, buat saya). Maaf-maaf aja, saya gak percaya sama kata-kata bahwa "Manusia harusnya tidak boleh cepat puas dengan dirinya kalau mau maju." Bagi saya, puas terhadap diri sendiri adalah suatu masa, waktu yang tepat untuk saya bersyukur atas keadaan saya. Bersyukur pun, tak seharusnya diikuti dengan kata-kata "Alhamdulillah, masih ada yang jauh lebih tidak beruntung dariku.." Saya pribadi merasa aneh sekali dengan kata-kata itu. (Jadi, kamu bersyukur karena masih ada orang yang lebih menderita dari kamu, gitu?)

"Comparation" adalah kuncinya. "Comparation" adalah suatu hal yang harus dibasmi, dalam hidup saya.


Babbling Lady:

This is my pray, now:
Hello, Tuhan. Saya mau maju, karena saya ingin memaksimalkan apa yang Kau berikan untukku. Di agama yang Kau beri untukku, Kau memberi sepercik 99 asmaul husna-mu dalam diriku. Aku mau memaksimalkan itu untuk-Mu dan untuk kebaikan alam semesta. Saat ini, aku bersyukur atas apa adanya diriku dan atas apa adanya manusia lain. Saya percaya, ada tujuan besar Kau menciptakanku dan alam semesta ini sebagaimana adanya. Semoga aku selalu mengingini apa yang kupunyai... 


Lagipula... aku kan gak bener-bener punya semua itu. Aku kan hanya tukang parkir yang dititipi mobil-mobil berharga dari-Mu, yang akan Kau ambil kapan pun Kau berkehendak. Ya, gak? :)

Jambore Sahabat Anak XV - Ular Naga's Story

Irviene:


Weekend lalu adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Tanggal 2-3 Juli 2011, saya, Vina, Ika, dan Agung mengikuti acara Jambore Sahabat Anak XV di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Jambore Sahabat Anak adalah program rutin tahunan dari Sahabat Anak. Dengan tema "Bermainlah Sahabatku", JSA XV menjadi sarana bermain bagi 1.100 anak marjinal yang berasal dari jalanan, kaum pemulung, keluarga miskin, kaum urban, dan anak penghuni rumah singgah Dinas Sosial se-Jakarta. 



















Saya dan teman-teman di sana adalah satu dari 550 orang beruntung yang berhak menjadi pendamping masing-masing untuk dua anak jalanan. Saya ini memang suka sekali sama anak-anak, tapi jarang punya kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka. Jadi, ini adalah kesempatan emas buat saya. Eh, bukan. Ini bahkan lebih dari emas! Ini kesempatan berlian! 




Dari dulu saya penasaran sekali dalam mencari metode-metode untuk lebih dekat dengan anak jalanan, untuk menjadi sahabat mereka, sehingga saya bisa lebih berkontribusi dalam kehidupan mereka. Dengan interaksi langsung seperti ini, saya akan belajar banyak dari mereka. (Dan memang, sangaaat banyaaaaak, Pak'e, Bu'e!)

This event changed my views of many things.
And I will tell story about it. 


Jadi, 1.100 anak dan 550 pendamping ini dibagi dalam 20-an kelompok yang disesuaikan dengan daerah tempat anak-anak tersebut berasal. Kelompok saya bernama kelompok Ular Naga, dengan anak-anak dari daerah Kota Tua. Dua hari kelompok Ular Naga bersama, dengan Kak Frisca sebagai penanggung jawab dan teman-teman pendamping: Kak Ivan, Kak Otik, Kak Mega, Kak Mela, Kak Mila, Kak Ina, Kak Linda, Kak Melva, Kak Minggu, Kak Biora, Kak Eko, Kak Leo, Kak Jefri, Kak Diah, Kak Doris, Kak Jumi, Kak Isti, Kak Ipah, Kak Ikas, Kak Yemima, dan Kak Mei.


Keluarga Besar Ular Naga


Secara garis besar, jambore ini dikategorikan sebagai all-day-having fun. It's all about playing, playing, and playing with street kids, karena memang itulah tujuan jambore ini diselenggarakan, yaitu memenuhi kebutuhan bermain yang merupakan salah satu dari 10 hak dasar setiap anak. 



Pada hari pertama, kami berkeliling Kebun Binatang Ragunan, bermain team-work-based games, 'mendandani' tenda, dan menonton panggung hiburan, sedangkan pada hari kedua kami bermain games (lagi) dan unjuk aksi. Overall, this event was both well organized and well prepared in every aspect. (Mas dan Mbak Panitia, saya kagum!)



nontok kewan
Ular Naga beraksi
maen gendong-gendongan


Breakdance di Pos Eksis

balap karung

Banyak istirahat! Saya kalah kuat dibanding adik-adik Kota Tua!

Adik yang saya dampingi, karena satu dan lain hal, hanya  ada satu. 14 years old kid named Nova. Sebenarnya, ini tidak sesuai ekspektasi awal saya (di mana saya pikir saya akan mendampingi adik-adik taman kanak-kanak yang unyuu dan kiyut moet), tapi ya sudahlah... ucap Bondan Winarno Prakoso. Well, I'll tell you a secret. Saya tidak belum bisa menghadapi anak kecil, lebih-lebih lagi ABG, kayak Nova ini. Simply, I just don't know what is fun to them, what to say to them, and what subject to be talked! Saya sampai menyiapkan daftar pertanyaan yang akan dibicarakan untuk anak dampingan dari rumah. Haha. Sembah sujud deh, pokoknya saya ini mati kutu kalau berhadapan sama anak-anak!















Pertama kali saya berkenalan dengan Nova (foto atas, kanan), saya bingung setengah mati. Nova ini cewek apa cowok ya? Dengan rambut cepak dan gayanya yang taft dan laki banget, saya tidak bisa memilih apakah dia hanyalah cewek yang tomboi atau memang cowok biasa aja. Tapi saya bakal kelihatan oon banget kalau nanya ke orang yang bersangkutan ("Hai Nova, kamu... ehem... cewek kan? eh salah ya..." -Ngga banget.), jadi dengan berucap bismillahirrahmanirrahim saya memutuskan bahwa dia adalah cewek. Dan untungnya...

 BENER sodara-sodara! Hehehe. #legamampus

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya beberapa hal mengenai hidup Nova.

Saya (S): Nova, kamu sekolah?
Dia (D): Ngga, kak.
S: Tapi dulu sekolah?
D: Iya, sampai 4 SD.
S: Trus Nova ngapain aja kegiatan sehari-harinya?
D: Gak ngapa-ngapain, Kak. Main aja.
S: Orang tua ada?

D: Ada.
S: Orang tua gak nyuruh sekolah?
D: Nyuruh.
S: Trus kenapa kamu gak sekolah?
D: Ngga mau.
S:...

Okay. Saya jadi kikuk. Pembicaraan saya stuck di sini. Saya ngga nanya-tanya lebih dalam lagi karena takut membuat mood Nova ngga baik. Jadinya saya hanya membicarakan obrolan-obrolan ringan saja.

Saya memberi skema pertanyaan yang sama pada tiga anak seumuran Nova, dan semua menjawab hal yang sama seperti jawaban Nova. Well, saya penasaran sekali. What's wrong with school?

Hingga tulisan ini diposting, saya belum mendapatkan jawaban pastinya. Tapi saya menduga, seperti yang dikatakan oleh seorang Bapak tuna netra luar biasa yang mendirikan Yayasan Pendidik DwiTuna (Sadly, I forget his name) di sesi khusus pendamping di akhir acara JSA...

"Anak-anak marjinal itu tidak miskin harta. Mereka hanya miskin pola pikir."



















Anak binaan Yayasan DwiTuna sedang menghibur para pendamping dengan lagu "Aku Ingin" - Once
Dan, jika boleh menambahkan, satu lagi saya rasa kemiskinan mendasar yang juga dihadapi anak-anak marjinal. 

Miskin perhatian.

Mengapa Sahabat Anak kok kayaknya kurang kerjaan banget, sampai mengadakan lima belas kali Jambore mainan sama anak-anak seperti ini?

Because they understand marginal kids condition nowadays. 

Anak-anak yang disuruh orang tuanya mencari uang di jalanan dengan sejumlah target harian tertentu, anak-anak yang haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak telah direbut oleh lingkungan sekitarnya, anak-anak yang tertawa kurang dari jumlah tawa rata-rata sehari (400 kali), anak-anak ini butuh perhatian kamu!

Mereka hanya butuh sedikit saja waktu dan keberanianmu untuk menyapa mereka. Attention is all they need. Dan saat kamu sudah memberikannya pada mereka, percayalah. Ini bukan hanya sekadar simbiosis komensalisme yang menguntungkan pihak lawan dan tidak memberi benefit apa-apa bagi pihak kita.

When you see the peaceful sleep like this on your  thigh...



And the bright vibrant smile on their face when meeting you... 



You'll know that there's a fireworks that spark in you. Makes you smile all day, not just by your lips, but also by your heart.
The truly happiness. 


Jangan biarkan mereka berjuang sendiri!

"Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada"
-Aku Ingin, Once-

Babbling Lady:

Saya dan teman-teman pendamping kelompok Ular Naga mendapat kado-kado yang sangat indah atas perhatian yang kami berikan dua hari lalu. Ini salah satunya.



Kami akan berusaha semampu kami, untuk mendapatkan kado yang lebih indah lagi dari Nova dan teman-teman. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga.

special thanks to AVIVA insurance who makes this happen