Envy is A Power?

Irviene:

Jujur, saya sebal kalau ada yang mengatakan bahwa IRI HATI ADALAH KEKUATAN.

You know, in my world, seems like so many people say that thing

"Aku iri sama si A, dia bisa ikut konferensi ke Suriname. Aku mau lebih dari dia!"

"Si B udah menang lomba hadiahnya 20 jeti. Kamfret, gue pernah menang apaan? Gue harus lebih keras ikut lomba!"

"Abang C kayaknya kok hidupnya bahagia banget, banyak temen, trus disukain sama semua orang ya? Aku pengen kayak Abang C!"

As far as I know, thought like this is encouraging, but killing you.
Dulu saya sering berpikiran seperti ini. Merasa bahwa rasa iri kepada orang lain yang lebih "tinggi" adalah sesuatu yang harus dipelihara, karena iri adalah kekuatan saya untuk maju jadi orang yang lebih baik. Tapi, saya ternyata salah.

Saya tidak pernah merasa jadi lebih baik. Saya justru sering merasa buruk dengan diri sendiri. 

This is the case:
Back then, years ago, sahabat saya adalah cewek yang putih, manis, disukai temen-temennya, gampang akrab sama siapa aja, pacarnya anak band yang super baik, pintar, lucu, Mario Teguh Golden Way banget kepribadiannya, beda dari yang lain deh. To me, she is perfect. Like a sunshine that always warms us.
Lalu saya mulai merasakan hal itu. Apee nyak dan babe?
IRI.

Dibandingkan dengannya, saya ini item-item munyuk, muka belepotan gak tentu arah, kaki berbulu, jutek banget sama orang yang baru kenal. Masalah jumlah temen? Kalo gak pernah satu kelas atau satu ekskul sama saya, berarti bukan temen saya. Saya gak punya pacar -apalagi ngarep yang anak band, dan satu lagi, kalau guyon jayus banget. 
Saya IRI BANGET. Saya ingin jadi dia. Bahkan, saya ingin melebihi dia. Saya ingin dunia mengakui, bahwa saya juga worth it buat memiliki privilege yang sahabat saya ini punyai. 

Saya dan sahabat saya, bagai Beauty and the Beast
Saya ingin lebih baik dari sekadar Irviene yang item munyuk dan yang jumlah temannya gak lebih dari jumlah ruas jari tangan. Saya mau MAJU.
Akhirnya saya mulai pakai pemutih muka, saya cukur bulu kaki saya (to me back then, bulu kaki itu haram hukumnya), saya ikut ekskul macem-macem biar banyak kenalan, saya catet humor-humor yang lucu buat dijadiin guyonan nanti, saya mulai dressing up, saya latihan biar muka saya bisa senyum otomatis, wah pokoknya banyak sekali pe-er saya. 

Tapi di satu titik, saat saya mengetahui bahwa saya masih kalah darinya, saya merasa buruk. Saya merasa gagal. Saya pecundang.
Dan di satu titik, saat saya mengetahui bahwa saya pada akhirnya lebih baik darinya dari satu segi tertentu, saya merasa menang. Saya merasa ada kata "akhirnyaaaa.." dalam pikiran saya.  Saya merasa memang harusnya saya yang lebih baik. Hal baik darinya memang harus kurang dari hal baik yang saya punyai.

Keduanya adalah dua hal yang saling bertolak belakang. 
Namun, sama-sama tidak memberi saya kebahagiaan.

This power of envy makes my heart unhappy, whatever the result might be.

Mengapa?
Kekuatan iri hati ini, membuat pikiran saya terus-menerus membandingkan diri saya dengan sahabat saya. Dan karena kekuatan iri hati ini grows stronger, kalau pun di suatu sisi saya "lebih" darinya, saya akan membandingkan diri saya dengan orang yang "lebih" dari sahabat saya. This things will go, like, forever. 

Saya berani taruhan, kamu tidak akan pernah merasa puas dengan keadaan dirimu saat kamu menggunakan this power of envy.
Rasa puas terhadap diri sendiri itu penting banget, lho (at least, buat saya). Maaf-maaf aja, saya gak percaya sama kata-kata bahwa "Manusia harusnya tidak boleh cepat puas dengan dirinya kalau mau maju." Bagi saya, puas terhadap diri sendiri adalah suatu masa, waktu yang tepat untuk saya bersyukur atas keadaan saya. Bersyukur pun, tak seharusnya diikuti dengan kata-kata "Alhamdulillah, masih ada yang jauh lebih tidak beruntung dariku.." Saya pribadi merasa aneh sekali dengan kata-kata itu. (Jadi, kamu bersyukur karena masih ada orang yang lebih menderita dari kamu, gitu?)

"Comparation" adalah kuncinya. "Comparation" adalah suatu hal yang harus dibasmi, dalam hidup saya.


Babbling Lady:

This is my pray, now:
Hello, Tuhan. Saya mau maju, karena saya ingin memaksimalkan apa yang Kau berikan untukku. Di agama yang Kau beri untukku, Kau memberi sepercik 99 asmaul husna-mu dalam diriku. Aku mau memaksimalkan itu untuk-Mu dan untuk kebaikan alam semesta. Saat ini, aku bersyukur atas apa adanya diriku dan atas apa adanya manusia lain. Saya percaya, ada tujuan besar Kau menciptakanku dan alam semesta ini sebagaimana adanya. Semoga aku selalu mengingini apa yang kupunyai... 


Lagipula... aku kan gak bener-bener punya semua itu. Aku kan hanya tukang parkir yang dititipi mobil-mobil berharga dari-Mu, yang akan Kau ambil kapan pun Kau berkehendak. Ya, gak? :)

6 Responses so far.

  1. cool! berani mengatakan apa yang diyaakini dengan jelas dan tentunya bertanggung jawab.. oh iya, IRI, tiga huruf itu memang susah untuk tidak hinggap di diri manusia, seperti aku kak. Tapi menurutku iri itu cuma penyakit hati, aku nggak pernah jadi lebih baik dari mereka yang aku iri-in. Itu sebatas pengalamanku.

    kalo ada yang bilang IRI dengan kelebihan dia lalu ingin jadi lebih baik. Mungkin lebih tepatnya MALU karena mereka saja bisa. Kenapa kita blm bisa? BUKAN IRI *sekalilagimenurutsaya ;)

  2. setuju. Iri itu cuma penyakit hati. Degradasi moralll .. it's not even a poweeeeerrr

    hmmmm iya ron, bisa bisa. bedanya ron, kalo iri itu kita gak akan bisa puas, kalau malu bisa, kalau kita tahu batasan rasa malu kita.
    Jangan malu atas keberhasilan orang lain, tapi malulah atas semangat mereka yang luar biasa dalam menggapai keberhasilan.

    sekali lagi: Life is not about the arrival, it's about the journey.

    Makasih masukannya! :)

  3. Anonim says:

    Saya jadi berpikir ulang tentang iri ini, bener juga ya apa kata dirimu..uuh, saya ini penganut iri, sebelkah ama akuuu??
    Abis saya tuh ya kok mikirnya kalo iri bisa bikin motivasi gtu loh buat nambahin batere diri biar semangat..tapi apa kata mu kok bener juga ya, saya jadi galau #eh??

    Ipin ane mau jujur ya..tulisan ente sungguh luar biasa, ini blog paporit ane dahSaya jadi berpikir ulang tentang iri ini, bener juga ya apa kata dirimu..uuh, saya ini penganut iri, sebelkah ama akuuu??
    Abis saya tuh ya kok mikirnya kalo iri bisa bikin motivasi gtu loh buat nambahin batere diri biar semangat..tapi apa kata mu kok bener juga ya, saya jadi galau #eh??

    Ipin ane mau jujur ya..tulisan ente sungguh luar biasa, ini blog paporit ane dah

  4. Anonim says:

    Lah komen saya kok jadi dobel begitu..maap ya, ini lagi ga beres keknya..ga paham pula mau ngeditnya..kok ga bisa ya :(

  5. halo mbak ... kita bertemu di grup kancut keblenger X)
    apakah kita jodoh? hehe

    hehe, di postingan saya, saya sebal sama perkataan kok mbak, bukan subjek yang mengatakannya. hueheheh.. maaf nih kalo jadi galau gara2 postingan saya, tapi semoga bisa jadi referensi pemikiran yang berbeda ya buat mbak :)

    huaa.. sumpeh kata-kata mbak bikin saya melayang tingkat awan .. makasih banyak feedbacknya, semoga kita semua selalu menginspirasi satu sama lain. :)

  6. pipin...
    T.T
    mungkin aku telat banget ya baru baca postinganmu sekarang,,

    Sepuluh menit sebelum nemu postingan ini, aku sempat blog-walking punya beberapa temen termasuk kamu..dan aku menyadari satu hal, aku merasa tertinggal.
    Well, selama ini aku merasa kayak terlalu asyik ama "dunia"ku sendiri. Terus aku baca2 sekilas,,astaga! i feel,,i walked in my place. kayak semacam nyesel2 nggak jelas karena nggak menggunakan waktu dengan sesuatu yang menghasilkan something great! sempat muncul rasa envy itu..
    tapi rupanya ini cara Tuhan ngingetin aku.
    mataku nggak sengaja menangkap judul postinganmu itu...
    kayak ditegur dengan cara halus banget tapi pas! what a moment!
    :D
    aku selalu dengung2in di kepalaku lagi : "Kalo setiap orang pasti punya kelebihan yang berbeda2 satu sama lain. Tuhan itu adil. Lantas, apa alasan kita untuk nggak mensyukuri apa yang udah Tuhan beri ke kita?"
    thanks ya pin :)
    *bighug* really miss you,,dear

Leave a Reply