Jambore Sahabat Anak XV - Ular Naga's Story

Irviene:


Weekend lalu adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Tanggal 2-3 Juli 2011, saya, Vina, Ika, dan Agung mengikuti acara Jambore Sahabat Anak XV di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Jambore Sahabat Anak adalah program rutin tahunan dari Sahabat Anak. Dengan tema "Bermainlah Sahabatku", JSA XV menjadi sarana bermain bagi 1.100 anak marjinal yang berasal dari jalanan, kaum pemulung, keluarga miskin, kaum urban, dan anak penghuni rumah singgah Dinas Sosial se-Jakarta. 



















Saya dan teman-teman di sana adalah satu dari 550 orang beruntung yang berhak menjadi pendamping masing-masing untuk dua anak jalanan. Saya ini memang suka sekali sama anak-anak, tapi jarang punya kesempatan untuk berinteraksi dengan mereka. Jadi, ini adalah kesempatan emas buat saya. Eh, bukan. Ini bahkan lebih dari emas! Ini kesempatan berlian! 




Dari dulu saya penasaran sekali dalam mencari metode-metode untuk lebih dekat dengan anak jalanan, untuk menjadi sahabat mereka, sehingga saya bisa lebih berkontribusi dalam kehidupan mereka. Dengan interaksi langsung seperti ini, saya akan belajar banyak dari mereka. (Dan memang, sangaaat banyaaaaak, Pak'e, Bu'e!)

This event changed my views of many things.
And I will tell story about it. 


Jadi, 1.100 anak dan 550 pendamping ini dibagi dalam 20-an kelompok yang disesuaikan dengan daerah tempat anak-anak tersebut berasal. Kelompok saya bernama kelompok Ular Naga, dengan anak-anak dari daerah Kota Tua. Dua hari kelompok Ular Naga bersama, dengan Kak Frisca sebagai penanggung jawab dan teman-teman pendamping: Kak Ivan, Kak Otik, Kak Mega, Kak Mela, Kak Mila, Kak Ina, Kak Linda, Kak Melva, Kak Minggu, Kak Biora, Kak Eko, Kak Leo, Kak Jefri, Kak Diah, Kak Doris, Kak Jumi, Kak Isti, Kak Ipah, Kak Ikas, Kak Yemima, dan Kak Mei.


Keluarga Besar Ular Naga


Secara garis besar, jambore ini dikategorikan sebagai all-day-having fun. It's all about playing, playing, and playing with street kids, karena memang itulah tujuan jambore ini diselenggarakan, yaitu memenuhi kebutuhan bermain yang merupakan salah satu dari 10 hak dasar setiap anak. 



Pada hari pertama, kami berkeliling Kebun Binatang Ragunan, bermain team-work-based games, 'mendandani' tenda, dan menonton panggung hiburan, sedangkan pada hari kedua kami bermain games (lagi) dan unjuk aksi. Overall, this event was both well organized and well prepared in every aspect. (Mas dan Mbak Panitia, saya kagum!)



nontok kewan
Ular Naga beraksi
maen gendong-gendongan


Breakdance di Pos Eksis

balap karung

Banyak istirahat! Saya kalah kuat dibanding adik-adik Kota Tua!

Adik yang saya dampingi, karena satu dan lain hal, hanya  ada satu. 14 years old kid named Nova. Sebenarnya, ini tidak sesuai ekspektasi awal saya (di mana saya pikir saya akan mendampingi adik-adik taman kanak-kanak yang unyuu dan kiyut moet), tapi ya sudahlah... ucap Bondan Winarno Prakoso. Well, I'll tell you a secret. Saya tidak belum bisa menghadapi anak kecil, lebih-lebih lagi ABG, kayak Nova ini. Simply, I just don't know what is fun to them, what to say to them, and what subject to be talked! Saya sampai menyiapkan daftar pertanyaan yang akan dibicarakan untuk anak dampingan dari rumah. Haha. Sembah sujud deh, pokoknya saya ini mati kutu kalau berhadapan sama anak-anak!















Pertama kali saya berkenalan dengan Nova (foto atas, kanan), saya bingung setengah mati. Nova ini cewek apa cowok ya? Dengan rambut cepak dan gayanya yang taft dan laki banget, saya tidak bisa memilih apakah dia hanyalah cewek yang tomboi atau memang cowok biasa aja. Tapi saya bakal kelihatan oon banget kalau nanya ke orang yang bersangkutan ("Hai Nova, kamu... ehem... cewek kan? eh salah ya..." -Ngga banget.), jadi dengan berucap bismillahirrahmanirrahim saya memutuskan bahwa dia adalah cewek. Dan untungnya...

 BENER sodara-sodara! Hehehe. #legamampus

Saya memulai pembicaraan dengan bertanya beberapa hal mengenai hidup Nova.

Saya (S): Nova, kamu sekolah?
Dia (D): Ngga, kak.
S: Tapi dulu sekolah?
D: Iya, sampai 4 SD.
S: Trus Nova ngapain aja kegiatan sehari-harinya?
D: Gak ngapa-ngapain, Kak. Main aja.
S: Orang tua ada?

D: Ada.
S: Orang tua gak nyuruh sekolah?
D: Nyuruh.
S: Trus kenapa kamu gak sekolah?
D: Ngga mau.
S:...

Okay. Saya jadi kikuk. Pembicaraan saya stuck di sini. Saya ngga nanya-tanya lebih dalam lagi karena takut membuat mood Nova ngga baik. Jadinya saya hanya membicarakan obrolan-obrolan ringan saja.

Saya memberi skema pertanyaan yang sama pada tiga anak seumuran Nova, dan semua menjawab hal yang sama seperti jawaban Nova. Well, saya penasaran sekali. What's wrong with school?

Hingga tulisan ini diposting, saya belum mendapatkan jawaban pastinya. Tapi saya menduga, seperti yang dikatakan oleh seorang Bapak tuna netra luar biasa yang mendirikan Yayasan Pendidik DwiTuna (Sadly, I forget his name) di sesi khusus pendamping di akhir acara JSA...

"Anak-anak marjinal itu tidak miskin harta. Mereka hanya miskin pola pikir."



















Anak binaan Yayasan DwiTuna sedang menghibur para pendamping dengan lagu "Aku Ingin" - Once
Dan, jika boleh menambahkan, satu lagi saya rasa kemiskinan mendasar yang juga dihadapi anak-anak marjinal. 

Miskin perhatian.

Mengapa Sahabat Anak kok kayaknya kurang kerjaan banget, sampai mengadakan lima belas kali Jambore mainan sama anak-anak seperti ini?

Because they understand marginal kids condition nowadays. 

Anak-anak yang disuruh orang tuanya mencari uang di jalanan dengan sejumlah target harian tertentu, anak-anak yang haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak telah direbut oleh lingkungan sekitarnya, anak-anak yang tertawa kurang dari jumlah tawa rata-rata sehari (400 kali), anak-anak ini butuh perhatian kamu!

Mereka hanya butuh sedikit saja waktu dan keberanianmu untuk menyapa mereka. Attention is all they need. Dan saat kamu sudah memberikannya pada mereka, percayalah. Ini bukan hanya sekadar simbiosis komensalisme yang menguntungkan pihak lawan dan tidak memberi benefit apa-apa bagi pihak kita.

When you see the peaceful sleep like this on your  thigh...



And the bright vibrant smile on their face when meeting you... 



You'll know that there's a fireworks that spark in you. Makes you smile all day, not just by your lips, but also by your heart.
The truly happiness. 


Jangan biarkan mereka berjuang sendiri!

"Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada"
-Aku Ingin, Once-

Babbling Lady:

Saya dan teman-teman pendamping kelompok Ular Naga mendapat kado-kado yang sangat indah atas perhatian yang kami berikan dua hari lalu. Ini salah satunya.



Kami akan berusaha semampu kami, untuk mendapatkan kado yang lebih indah lagi dari Nova dan teman-teman. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga.

special thanks to AVIVA insurance who makes this happen

2 Responses so far.

  1. what a really GREAT EXPERIENCE kakkkk! sayang, aku ga bisa ikut berpartisipasi, padahal pas itu udah siap2 mau daftar.

    anak2 memang keren kak, mereka jujur, ekspresif, I love them too! :) bikin acara untuk anak2 yuk kakkk

  2. web builder! semangat!

Leave a Reply