Hijabers all over the world, READ THIS!

Irviene:

Several months ago, I knew Maria Elena, from her blog. Maria is a Malaysian blogger and also hijabers that makes the new trend of fashion in veil in Malaysia with her hijaber blogger friends (called The Scarflets). When I first knew her blog, I was like... loving her at the first sight. She is one of my role model. In my eyes, she has a great life, because she is living it with never ending learning. And one thing that I admire from her is... she is very funny in an original way!
Her latest post is the most mesmerizing post of her blog, entitled "Tentang Hijab", about the way Malaysian muslimah have become nowadays (and also, Indonesian muslimah, in my opinion). It's about fashion, that become kind of obsession in hijabers eyes. This post kick me in a very modest way. Enjoy!

fashion becomes an obsession. modelling becomes a passion.beautification becomes a necessity.
muka bogel takde eyeliner pun dah rasa resah. dapat gambar photoshoot, rasa bangga sampai upload merata-rata (blog, tumblr, facebook, twitter, etc) expecting people to tell you how good you're looking. parallel to that, jadi riak, and riak is salah satu attributes yang Allah SWT hina.*slaps myself real hard*
how la like that?
what will happen if the younger generations who wears the hijab terjebak with all this craze and influenced by it, thinking that looking good, being fashionable and photoshoots are more important than learning/improving? how about when they start to crave for fame?i worry that they will spend more energy on being beautiful and getting noticed, hence become more materialistic and self-obsessed than they should be, forgetting the fact that whatever were given naturally, are blessings from Allah SWT. ~MARIA ELENA

Apa Cita-citamu?

Irviene:
Seberapa sering pertanyaan ini diajukan padamu?
Tiga ratus kali? Lima ratus kali? Tak bisa menghitungnya?

Baru kemarin kakak saya menanyakan ini pada saya,
"Kamu pengen jadi apa, Pin?"

Well, saya pengen jadi apa? Saya berpikir terlalu lama, sehingga hanya menjawab suatu profesi yang ingin ia dengar saja. Yah, saya menjawab sekenanya.

Sejak saya masih minum susu Dancow pakai dot, hingga sudah mahasiswi tingkat tiga seperti ini, pertanyaan itu masih membayangi saya.

"Apa cita-citamu, Pin?"

Saya sendiri, terkadang juga menanyakannya pada beberapa teman saya. 
Sekarang, saya merasa seharusnya saya tak menanyakan itu, pada siapa pun.

Di dunia ini, memang segalanya perlu dilabeli suatu takaran, agar manusia lain mengerti apa yang kita mengerti. Saya beri contoh, seperti gambaran neraka dan surga di buku-buku bacaan. Saya masih ingat (tumben), neraka di buku saya waktu saya masih kecil isinya sangat menyeramkan. Si setan yang bermuka monster, bertelinga panjang, berwarna merah sedang menyetrika punggung manusia yang konon dulunya tidak suka sholat lima waktu memakai setrika raksasa (Entah setrikanya disponsori merek apa). Ada lagi gambaran manusia yang dipotong tangannya, lalu tangannya tumbuh lagi, dipotong lagi, tumbuh lagi. Konon dulunya manusia ini suka mencuri. Ada lagi yang memakan sayur busuk terus-terusan karena dulunya suka menghardik anak yatim.

Surga? Wah, tentu saja 180 derajat sama sekali berbeda. Di surga kita semua muda, cantik, dan ganteng. Banyak buah-buahan, air jernih mengalir deras, lalu banyak sekali bidadari yang melayani kemauan kita, dengan baju-bajunya yang indah-indah dan mukanya yang subhanallah itu. Tak lupa di sana kita juga akan bertemu dengan Rasulullah, Nabi Muhammad S.A.W. 

Apa iya surga dan neraka seperti itu? Tentu saja TIDAK!

Memang saya tidak bisa memberikan bukti, tapi saya yakin sekali surga dan neraka tidak seperti itu. Menurut saya, itulah kekuatan analogi. Kita, para manusia yang kreatif ini, berusaha menggambarkan rasa sakit luar biasa yang ada di neraka dengan hal-hal yang bisa kita ukur, bisa kita takar. Well, kalau kamu tahu rasa panas setrika di jarimu, kamu akan bisa membayangkan bagaimana setrika itu menggosok-gosok punggung mulusmu, kan? Begitu juga dengan surga. Anggur, bidadari, air jernih, kecantikan, itu semua adalah hal yang membahagiakan. Itulah analogi surga. Sesuatu yang sangat membahagiakan. (padahal, kalau saya di surga saya mah maunya bidadara, bukan bidadari. Huahaha) 

Lalu bagaimana sebenarnya surga dan neraka itu? 
Maaf ye Pak, Bu. Tema hari ini gak ngebahas itu. Hehehe.

Nah, jika analogi ini dihubungkan dengan isu cita-cita, saya menjadi lebih mengerti mengapa manusia menanyakannya pada manusia lain. Mari kita simak sejenak demo ini.

Demo #1:










Kalau kita jawab suatu profesi yang menjamin keamanan finansial, muka Si Penanya Cita-Cita (SPCC) jadi sumringah dan penuh harapan.


Demo #2:










Kalau kita jawab sesuai dengan visi misi hidup, SPCC jadi bingung. Linglung.

Demo #3:










Kalau kita jawab profesi yang aneh dan gak flamboyan, muka SPCC jadi SumpeLoSumpeLoSumpeLo

Demo #4:
 









 Kalau kita gak bisa jawab... SPCC jadi hopeless sama masa depan kita.

SPCC punya kecenderungan menganalogikan profesi yang mapan dan necis dengan cita-cita yang tepat. Bagi mereka, profesi dokter tampak lebih elegan dibandingkan jawaban-jawaban abstrak seperti visi misi atau pekerjaan tak lazim. Dan yang terakhir, bagi yang tidak mengetahui cita-citanya, dianggap sebagai orang kelas dua yang sudah bisa dipastikan gak akan jadi 'orang' di masa depannya nanti.

Kok kesannya jadi menghakimi ya? Apa iya sebegitu pentingnya cita-cita sehingga kita pantas untuk menghakimi? Saat pertanyaan itu saya ajukan kepada diri sendiri, saya jawab... tentu saja TIDAK!


Bagaimanapun nampak indahnya masa depan di mata kita, masa depan masih menjadi hal yang semu. Satu-satunya masa yang kita hadapi bersama sekarang ya...  masa sekarang. 


Jika cita-citamu adalah musisi, lalu suatu hari tangan kakimu kena strooke sehingga tidak bisa main gitar lagi, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia. 
Jika cita-citamu adalah orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, lalu suatu hari ternyata nusa atau bangsamu perang saudara dan menjadi negara yang terpecah belah, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia.
Bahkan jika cita-citamu adalah seorang tukang sampah penghilang semua kotoran di kampung,  lalu suatu hari kamu diperkosa dan merasa jadi orang paling kotor di kampungmu, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia.


Saya sama sekali tidak bermaksud menyumpahi. Saya pribadi berdo'a agar kebaikan selalu menyertai kita. Namun, seberapa seringkah dalam hidup kita, si masa depan ini menjadi suatu hal yang sama sekali berbeda dengan yang kita bayangkan, karena ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah?


Saya tidak menganjurkan untuk tidak mempunyai cita-cita. Bukan itu tujuan saya menulis hal ini. Saya hanya ingin, agar kita bisa terbuka atas segala kemungkinan yang ada dan menikmati segala fluktuasi hidup yang diakibatkannya. Cita-cita adalah arah yang kita takar sendiri. Mungkin ramuannya terdiri atas passion, kemauan orang tua, pengaruh artis, dan sebagainya. Namun, sepertinya yang harus disadari adalah, tidak ada jalan setapak dalam hidup manusia. Arah tetaplah arah, tetapi itu bukanlah yang sebenarnya. Kenyataannya, mungkin saja kita jadi berbelok, karena memang harus, atau karena memang kita sendiri yang mau berbelok. 


Bagaimana pun, kesadaran ini penting untuk dimiliki, sehingga kita mampu memperjuangkan hal yang bisa kita ubah, menerima hal yang tidak bisa kita ubah, serta mengetahui perbedaan keduanya.


Cita-cita? Hanyalah bagian dari perjalanan kita yang tiada duanya ini.


Jika ada lagi yang menanyakan cita-cita kepada saya, saya akan jawab..
"Tak terbatas, teman!"


Babbling Lady:
Susan susan susan, kalau gede, mau jadi apa?
Aku kepingin pinter biar jadi dokter
Kalau, kalau, kalau jadi dokter kamu mau apa?
Aku mau nyuntik orang lewat, njus njus njus...
-Ria Enes & Susan, Aku Punya Cita-cita-


Bahkan Susan bisa lebih realistis daripada kita! :)

SAYA .


Irviene Maretha. Hanyalah seseorang dengan bekal dari lahir wajah biasa saja, tingkah wajar-wajar saja dan tampilan fisik seadanya. Hidupnya, jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga juga sangat ordinary. Hanya terdiri dari bangun pagi, gosok gigi, kuliah pagi-pagi, tidur malam hari, lalu bangun pagi lagi. Bisa dibilang ia adalah tipikal ‘the girl next door’.  Tipikal yang jika orang-orang bercerita sesuatu tentang dirinya mungkin saja akan diembel-embeli kalimat ‘si anak yang siapa itu ya, namanya... aku lupa’. Namun tidak, orang-orang tidak pernah melabelinya dengan ‘Idiih, si antisosial yang –plis deh- gak tahu dimana Monas’. Ia juga bukan “si pagi-kuliah-malam-dugem” serta stereotype-stereotype lainnya. She’s not a geek, nor an it girl. Ia hanya remaja-beranjak-dewasa yang biasa. Biasa, biasa, dan biasa saja.

Sejarah pendidikannya sama seperti kebanyakan remaja seumurannya. Ia pernah melewati masa-masa taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, SMA,  dan sekarang sedang berusaha keras menyeimbangkan kehidupan eksternal dan internal perkuliahannya agar tetap berada di jalur yang benar. Ia tidak pernah tinggal kelas, tetapi juga tidak pernah meraih predikat bintang kelas. Ia pernah mengikuti beberapa lomba. Sebagian menang, sebagian lagi kalah. Seperti yang sudah disebutkan. Sebenarnya ia hanya biasa, biasa, dan biasa saja.

Ia suka mendengarkan musik. Ia gemar membaca buku. Menyanyi di kamar mandi juga salah satu yang paling disukainya. Ia kadang-kadang masih kalah dengan nafsu ‘menyontek sedikit lalu mendapat nilai lumayan bagus’ daripada ‘jujur tetapi mendapat nilai nol koma lima’. Ia penganut paham bahwa penghargaan diri sendiri sangatlah penting, salah satu media penyalurannya adalah kamera. Ia sangat suka menonton film dan antisinetron. Ia menyukai dan membenci hal-hal yang disukai dan dibenci remaja-beranjak-dewasa seumurannya. Oh... sepertinya ini adalah kali terakhir kalimat ‘Ia biasa, biasa, dan biasa saja’ dilontarkan.

Lalu apa yang membuat ‘si biasa’ ini memberanikan diri menulis profil dirinya?
Karena ada satu hal yang pada akhirnya membuatnya tidak biasa. Satu hal simpel yang dilakukannya, tetapi tidak banyak dilakukan oleh banyak remaja seumurannya, bahkan sering tidak dilakukan oleh orang-orang dengan umur jauh di atas dirinya.
Ia berani bermimpi, berkembang, dan membuat perbedaan yang jauh lebih besar daripada besar tubuhnya. Muluk-muluk memang kata orang-orang. Tapi bukankah mimpi itu bukan hanya sekedar imaji atau bahkan hanya ilusi? Dan bukankah perkembangan adalah hal yang seharusnya diperbolehkan masuk ke dalam kehidupan setiap manusia?

Banyak sekali mimpi yang ada di kepalanya juga hatinya. Banyak juga perkembangan yang ingin ia alami dalam perjalanannya, baik untuk hati, pikiran, tubuh, atau ruhnya. Baik untuk dirinya, manusia di sekitarnya, dan alam semesta. Baik untuk passion-nya maupun untuk hubungannya dengan  Tuhannya. Ia membuat blue print untuk itu semua jikalau suatu saat nanti ia lupa.

Untuk saat ini mimpi itu sedang ia raih, perkembangan itu sedang ia alami. Mungkin karena blue print ini jugalah sekarang pengalaman berarti yang ia alami tak sedikit jumlahnya. Dan itu menuntunnya untuk terus menambah file pengetahuan dan kebaikan yang ada dalam directory-nya. Begitu banyak SKS akan pelajaran-pelajaran hidup karena universitas bernama pengalamannya, mulai dari mata pelajaran komitmen, kekuatan, pilihan, kasih, hingga keberanian. Sampai meninggal nanti, katanya, mungkin ia tidak akan lulus dari mata pelajaran hidup yang ia ambil, tetapi ia tidak pernah menyesal.  

Cukuplah itu saja yang dirasa pantas disebut sebagai prestasi dan kebanggaan dari ‘si biasa’. Tidak kecil tetapi juga sama sekali tidak berlebihan. Satu hal yang membuatnya tetap berada dalam jalur yang benar, sampai sekarang dan Insya Allah hingga meninggal nanti.

Sekian.

Quotes in Mind #5

Irviene:
"Work like you don't need money. Love like you've never been hurt. Dance like no one's watching."


Babbling Lady:
I'll challenge myself to implement this word. If I act like I'm not, you may say to me, "You're such a coward!"
Take my word!

Quotes in Mind #4

Kalau kita ini kambing, penggembala kita ini sungguh tidak biasa. Sang penggembala sudah memagari padang rumputnya menjadi petak-petak rumput. Satu petak untuk satu kambing dengan luas yang sangat adil dan luar biasa presisi. Memang, tiap petak jumlah maupun kualitas rumputnya tidak sama. Ada yang subur dan banyak, ada juga yang sedikit dan gersang. Namun, bukan menjadi masalah jika kambing 1 makan lebih banyak dari kambing 2. Karena tujuan besar Sang penggembala bukan seberapa adil ia bisa menggemukkan kita. Tujuannya adalah seberapa hebat para kambing bisa beradaptasi di mana pun lingkungannya. Yang para kambing tidak banyak tahu, rumput yang banyak atau sedikit, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beradaptasilah, kambing. Maka kau bisa bebas dan berbahagia.



Tenang aja, ngga ada rumput yang palsu seperti di iklan rokok itu, kok. :p

Quotes in Mind #3

"Now I know why I'm not really a fan of Twitter. Twitter allows me to compare the amount of my friend's followers. It makes me comparing someone to another. And it sucks."

My high school boy

Irviene:
Tahu ngga, tanda-tanda seorang penulis lagi galau?
Dia akan mengedit terus tulisannya sebelum mengakhiri titiknya yang pertama.
Dari mana saya tahu? Hahaha, saya sedang mengalami fase itu sekarang.

Feel like remembering the old days when I was young and restless, when I was liking someone in high school without any guts to say to him for almost... two years? Hahaha. At the end, I said to myself it's time to stop. It's time to surrender from this kind of feeling. So, I started to forget him. But, you know, you never really really forget someone if you have a plan to do it. It's like, "Okay, I have to forget him... I have to forget himmm..." but actually your mind kept thinking about his name at the same time you try!

When you want to forget someone, just don't. You'll failed. My experiences guarantee it.

It's okay to feel that thing, even he doesn't like or love you back. Accept that you like him. Accept that your ego doesn't want the feeling of being a girl who like the boy that doesn't like you. Accepting is very important part of releasing. When you accept it, you'll see that condition is become your friend, not your problem.
When I accept that I like him, days gone brighter to me. And many beautiful things come around. Nope, it's not come actually. It's exist for so long, but I ain't recognized it because I was so busy looking my problem, so I can't see my beautiful things around me.

You know what, I said that I liked him when times had gone by and I can release him from my heart. And I feel so sorry to myself. 

Why don't I do that early?

It's not about his acceptance. Actually, he didn't even say any single thing of my confession, because he never like me. Hahaha.
After I do that, I was like, removing a giant rock behind my back that I brought for a loooong time. Knowing his feeling about me, whatever it is, is more relieving than just wondering his feeling, for so long. 
The best part of this act is, you'll feel you're the bravest man on earth...

Releasing you feeling is so damn good for your life and your health, truly.

Hey peeks, if you like someone right now. Say it. It's better knowing the truth than never.
Have a braveheart. a hero always have a braveheart. Be a hero to yourself!

Babbling Lady:
Thanks my high school boy. You know what, in teaching me things... you're so amazing!

Ternyata Dulu Aku...

Irviene:

















Pernah dilamar!
Well, cinta monyet emang selalu meng-ababil-kan laki-laki dan perempuan. :p

Babbling Lady:
Kamu jawab insya Allah, lho Pin. Hayoloh. Hahaha.

Mohon Maaf Lahir Batin?

Irviene:


Bulan Ramadhan saya yang kedua puluh diawali dengan sedikit berbeda. Entah kenapa, ada banyak SMS masuk di awal bulan untuk meminta maaf dalam rangka memulai hari "Ramadhan yang suci" ini. Tahun-tahun lalu sih, SMS seperti ini bakal datang saat hari raya Idul Fitri. 


SMS seperti apa sih?


Ya... sms seperti ini:
"Mohon Maaf kalau ada sikap atau perkataan yang menyakitkan di hati kalian. Semoga Ramadhan kali ini membawa berkah. 
XXX dan keluarga."


atau berpantun,
"Ada gula ada semut. Tapi Anpanman tetep paling kiyut. 
Manusia kadang banyak salah dan luput. Mohon maaf lahir batin ya, semoga dosa kita semakin imut-imut"


atau malah tiba-tiba puitis,
"Lisan kadang tak terjaga, janji kadang terabaikan, hati kadang berprasangka. Khilaf, ini semua khilaf saya, sobat. Marhaban Ya Ramadhan. Mohon Maaf Lahir Batin."


Saya pribadi, senang mendapat SMS seperti ini. Bagi saya, hal ini menunjukkan itikad baik teman, sahabat, atau saudara untuk bersilaturahmi dan memulai bulan yang baik dengan hal yang baik pula. 
Tapi... jujur saja.. dan maaaf sekali...
 Saya tidak terlalu serius menganggap SMS-SMS ini sebagai permintaan "maaf". 


Ini kata Dewi "Dee" Lestari tentang SMS permintaan maaf saat hari raya. 
Apakah kita sempat berhenti sejenak untuk memahami arti "maaf" tersebut? Ketika kita sibuk membalas puluhan bahkan ratusan SMS dengan kata-kata indah yang berintikan maaf, apakah dalam hati kita benar-benar berproses dan memaafkan orang tersebut? Ataukah ini hanya bagian dari ritual dan kebiasaan yang ada dalam suasana saja? Suatu "mata uang" sosial yang kita gunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.


Hei, this woman is so darn right! Saat saya mengetik SMS seperti itu di hari raya lalu, saya tak benar-benar meminta maaf kepada mereka. Yah, saya hanya... ikut-ikut saja! Embrassing, eh?


Ramadhan tahun ini, akan saya mulai dengan belajar kata "meminta maaf" dan "memaafkan"
Apa yang akan kamu pelajari di Ramadhan tahun ini?
Apa pun itu, semoga keberkahan selalu menjadi milik kita! 


Babbling Lady: 
Intermezzo sedikit, saya sangat suka satu SMS yang datang pada saya pada hari itu. Bunyinya kurang lebih identik dengan SMS-SMS yang datang sebelum dan setelahnya. Namun, ada satu perbedaan:


Ia menyapa saya. Memanggil nama saya. Itu hal yang menyenangkan lho, mengetahui bahwa teman saya tidak serta merta mem-forward SMS itu dalam address book handphone-nya, dan lalu sedikit berusaha menambahkan nama panggilan dalam setiap SMS yang ia kirim. Everybody wants to be special, indeed. Terima kasih lho, Mayung.


Yah, you don't need to work hard to fulfill this need. You know, little things always MATTER.