Apa Cita-citamu?

Irviene:
Seberapa sering pertanyaan ini diajukan padamu?
Tiga ratus kali? Lima ratus kali? Tak bisa menghitungnya?

Baru kemarin kakak saya menanyakan ini pada saya,
"Kamu pengen jadi apa, Pin?"

Well, saya pengen jadi apa? Saya berpikir terlalu lama, sehingga hanya menjawab suatu profesi yang ingin ia dengar saja. Yah, saya menjawab sekenanya.

Sejak saya masih minum susu Dancow pakai dot, hingga sudah mahasiswi tingkat tiga seperti ini, pertanyaan itu masih membayangi saya.

"Apa cita-citamu, Pin?"

Saya sendiri, terkadang juga menanyakannya pada beberapa teman saya. 
Sekarang, saya merasa seharusnya saya tak menanyakan itu, pada siapa pun.

Di dunia ini, memang segalanya perlu dilabeli suatu takaran, agar manusia lain mengerti apa yang kita mengerti. Saya beri contoh, seperti gambaran neraka dan surga di buku-buku bacaan. Saya masih ingat (tumben), neraka di buku saya waktu saya masih kecil isinya sangat menyeramkan. Si setan yang bermuka monster, bertelinga panjang, berwarna merah sedang menyetrika punggung manusia yang konon dulunya tidak suka sholat lima waktu memakai setrika raksasa (Entah setrikanya disponsori merek apa). Ada lagi gambaran manusia yang dipotong tangannya, lalu tangannya tumbuh lagi, dipotong lagi, tumbuh lagi. Konon dulunya manusia ini suka mencuri. Ada lagi yang memakan sayur busuk terus-terusan karena dulunya suka menghardik anak yatim.

Surga? Wah, tentu saja 180 derajat sama sekali berbeda. Di surga kita semua muda, cantik, dan ganteng. Banyak buah-buahan, air jernih mengalir deras, lalu banyak sekali bidadari yang melayani kemauan kita, dengan baju-bajunya yang indah-indah dan mukanya yang subhanallah itu. Tak lupa di sana kita juga akan bertemu dengan Rasulullah, Nabi Muhammad S.A.W. 

Apa iya surga dan neraka seperti itu? Tentu saja TIDAK!

Memang saya tidak bisa memberikan bukti, tapi saya yakin sekali surga dan neraka tidak seperti itu. Menurut saya, itulah kekuatan analogi. Kita, para manusia yang kreatif ini, berusaha menggambarkan rasa sakit luar biasa yang ada di neraka dengan hal-hal yang bisa kita ukur, bisa kita takar. Well, kalau kamu tahu rasa panas setrika di jarimu, kamu akan bisa membayangkan bagaimana setrika itu menggosok-gosok punggung mulusmu, kan? Begitu juga dengan surga. Anggur, bidadari, air jernih, kecantikan, itu semua adalah hal yang membahagiakan. Itulah analogi surga. Sesuatu yang sangat membahagiakan. (padahal, kalau saya di surga saya mah maunya bidadara, bukan bidadari. Huahaha) 

Lalu bagaimana sebenarnya surga dan neraka itu? 
Maaf ye Pak, Bu. Tema hari ini gak ngebahas itu. Hehehe.

Nah, jika analogi ini dihubungkan dengan isu cita-cita, saya menjadi lebih mengerti mengapa manusia menanyakannya pada manusia lain. Mari kita simak sejenak demo ini.

Demo #1:










Kalau kita jawab suatu profesi yang menjamin keamanan finansial, muka Si Penanya Cita-Cita (SPCC) jadi sumringah dan penuh harapan.


Demo #2:










Kalau kita jawab sesuai dengan visi misi hidup, SPCC jadi bingung. Linglung.

Demo #3:










Kalau kita jawab profesi yang aneh dan gak flamboyan, muka SPCC jadi SumpeLoSumpeLoSumpeLo

Demo #4:
 









 Kalau kita gak bisa jawab... SPCC jadi hopeless sama masa depan kita.

SPCC punya kecenderungan menganalogikan profesi yang mapan dan necis dengan cita-cita yang tepat. Bagi mereka, profesi dokter tampak lebih elegan dibandingkan jawaban-jawaban abstrak seperti visi misi atau pekerjaan tak lazim. Dan yang terakhir, bagi yang tidak mengetahui cita-citanya, dianggap sebagai orang kelas dua yang sudah bisa dipastikan gak akan jadi 'orang' di masa depannya nanti.

Kok kesannya jadi menghakimi ya? Apa iya sebegitu pentingnya cita-cita sehingga kita pantas untuk menghakimi? Saat pertanyaan itu saya ajukan kepada diri sendiri, saya jawab... tentu saja TIDAK!


Bagaimanapun nampak indahnya masa depan di mata kita, masa depan masih menjadi hal yang semu. Satu-satunya masa yang kita hadapi bersama sekarang ya...  masa sekarang. 


Jika cita-citamu adalah musisi, lalu suatu hari tangan kakimu kena strooke sehingga tidak bisa main gitar lagi, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia. 
Jika cita-citamu adalah orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, lalu suatu hari ternyata nusa atau bangsamu perang saudara dan menjadi negara yang terpecah belah, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia.
Bahkan jika cita-citamu adalah seorang tukang sampah penghilang semua kotoran di kampung,  lalu suatu hari kamu diperkosa dan merasa jadi orang paling kotor di kampungmu, mungkin kamu akan menjadi manusia tersedih di dunia.


Saya sama sekali tidak bermaksud menyumpahi. Saya pribadi berdo'a agar kebaikan selalu menyertai kita. Namun, seberapa seringkah dalam hidup kita, si masa depan ini menjadi suatu hal yang sama sekali berbeda dengan yang kita bayangkan, karena ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah?


Saya tidak menganjurkan untuk tidak mempunyai cita-cita. Bukan itu tujuan saya menulis hal ini. Saya hanya ingin, agar kita bisa terbuka atas segala kemungkinan yang ada dan menikmati segala fluktuasi hidup yang diakibatkannya. Cita-cita adalah arah yang kita takar sendiri. Mungkin ramuannya terdiri atas passion, kemauan orang tua, pengaruh artis, dan sebagainya. Namun, sepertinya yang harus disadari adalah, tidak ada jalan setapak dalam hidup manusia. Arah tetaplah arah, tetapi itu bukanlah yang sebenarnya. Kenyataannya, mungkin saja kita jadi berbelok, karena memang harus, atau karena memang kita sendiri yang mau berbelok. 


Bagaimana pun, kesadaran ini penting untuk dimiliki, sehingga kita mampu memperjuangkan hal yang bisa kita ubah, menerima hal yang tidak bisa kita ubah, serta mengetahui perbedaan keduanya.


Cita-cita? Hanyalah bagian dari perjalanan kita yang tiada duanya ini.


Jika ada lagi yang menanyakan cita-cita kepada saya, saya akan jawab..
"Tak terbatas, teman!"


Babbling Lady:
Susan susan susan, kalau gede, mau jadi apa?
Aku kepingin pinter biar jadi dokter
Kalau, kalau, kalau jadi dokter kamu mau apa?
Aku mau nyuntik orang lewat, njus njus njus...
-Ria Enes & Susan, Aku Punya Cita-cita-


Bahkan Susan bisa lebih realistis daripada kita! :)

10 Responses so far.

  1. Anonim says:

    dilema banget kalo ditanya soal cita-cita..
    contoh dimata anak kecil jadi tentara itu keren, tapi realitanya resiko jd tentara jauh lebih 'keren'..
    sama kayak profesi lainnya, semakin dewasa semakin kita tau faktanya malah jadi bingung mau jadi apa (loh kok curhat?)

    nice post sist :) jadi mikir lagi mau jadi apa, hehe

  2. haha, iya bener izza ..
    kadang, jadi anak kecil yang naif asyik juga ya ..

    thank you for visiting, dear :)

  3. Aliv says:

    Bener. Baca postingan ini jadi kembali mikir buat jalanin cita-cita. Bukan niat nyerah, tapi kadang apa yang kita bisa dan mampu gak ada sangkut-pautnya sama cita-cita. Dilema...

  4. :)
    you know the solution! you always know

  5. Unknown says:

    jadi inget cita-cita pas masih kecil pin, muluk-muluk, ternyata ga gampang. Bener yg kamu bilang,cita-cita emang ga terbatas :)

  6. godeny says:

    rada gimana gitu sekarang mendengar kata cita2,
    beda sekali waktu masih SD haha :D
    ternyata tak semudah bayangan waktu kecil dulu :D

  7. @tacik: :)
    @godeny: hahaha, saat kita sudah gak lagi naive .. :)

  8. Anonim says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  9. Anonim says:

    Pin, tulisan kamu yaa..emang selalu..selalu mengispirasi
    impianmu tak terbatas
    demikian juga impianku
    dunia ini sementara dan aku ingin menikmatinya :)

    oia, pin komen aku tadi dobel dobel lagi tapi bisa kehapus barusan hehe *ngelapor*

    umm, sekalian..
    Minal aidzin wal faidzin ya *sungkem*Pin, tulisan kamu yaa..emang selalu..selalu mengispirasi
    impianmu tak terbatas
    demikian juga impianku
    dunia ini sementara dan aku ingin menikmatinya :)

    oia, pin komen aku tadi dobel dobel lagi tapi bisa kehapus barusan hehe *ngelapor*

    umm, sekalian..
    Minal aidzin wal faidzin ya *sungkem*

  10. "dunia ini sementara dan aku ingin menikmatinya" ==> what an awesome words kak virna :)

    hehe, ini juga masih dobel kak komennya, kenapa yah?
    it means you're special person in my blog, maybe :)

    minal aidzin juga kak .. maaf kalau selama ini pikiran, perkataan, maupun perbuatanku ada bikin kakak sakit hati ...

Leave a Reply