DOREMI

I have been officially in love with Budi Doremi's song since it was played in Dahsyat RCTI for the first time.
Today, I play that song over and over, and it really makes me feel good. The pressure of those papers and those similikitiw prikitiw tests are not strong enough to defeat the happiness of this song! yeea. smile again :)
Thanks, Budi!




Video of Business Negotiation

Irviene:
In this semester I have Business Negotiaion Class. This Mrs. Anita class is soo exciting, because we get movie making project about Business Negotiation. This class give me another passion of mine. Be a movie director! Yay!

Enjoy the amateur video of Irviene, Indah, Ema, Vina, Thalita, Fifie, and Mayang :)

Tikus itu saya sendiri

Irviene:
Kalau saya adalah umat Katolik, mungkin saat ini saya sedang berada di gereja, melakukan sakramen atau pengakuan dosa atas apa yang sudah dua puluh tahun ini saya lakukan.


Hari ini, hati ingin berbicara mengenai satu dosa. Namun, sebaiknya saya mulai dengan sedikit bertutur cerita.


Menurut pandangan pribadi terhadap diri sendiri, selama ini saya adalah orang yang cukup lurus. Jalan saya tidak banyak belokan. Hidup sebagai anak sekolah biasa yang menjalani kehidupan umumnya anak seusia saya. Saya tidak pernah membunuh, merampok, mengedarkan pistol secara ilegal, atau narkobaan di tempat dugem. Mungkin sering jalan saya melenceng, selayaknya manusia yang maha khilaf. Namun secara garis besar, belum  ada (dan semoga tidak ada) 'dosa luar biasa' yang membuat saya harus beser bertahun-tahun di penjara.

Satu dosa yang saya akui ini, adalah satu belokan kecil, tetapi saya lakukan bertahun-tahun.

Saya MENYONTEK.
Sejak SMA hingga kuliah.

Dari kelas satu SMA, saya selalu mengandalkan orang atau hal lain dalam mengerjakan ujian saya. Mulai dari bertanya kepada teman, membaca buku paket, membuat rangkuman dengan ukuran font 2 di sobekan kertas, catatan yang fotokopi diperkecil, wah tekniknya ada banyak sekali!

Bagi saya, mata pelajaran di SMA itu mendzholimi. Saya harus mempelajari secara mendalam hal-hal yang tidak menarik minat saya. Saya kurang peduli mengenai bagaimana resistor bisa mempengaruhi arus listrik dalam pelajaran Fisika. Saya tidak bisa tertarik menghapalkan jembatan keledai untuk tabel periodik unsur Kimia. Saya heran seheran-herannya mengapa saya harus belajar begitu banyak mata pelajaran yang bisa membuat kepala saya pecah. Hanya ada tiga hal yang saya sukai waktu SMA: Pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Istirahat. Tapi saya tidak akan lulus SMA jika saya sekolah hanya untuk tiga hal itu.

Saya mau bebas dari segala hapalan-hapalan itu! Tapi saya tidak mau masa depan saya dipertaruhkan oleh penurutan atas kemauan saya.

Akhirnya saya menyontek. Pikiran saya bertitah, "Yang penting lo lulus. Apa yang lo pelajari hari ini, segala tabel periodik dan resistor itu, gak bakal ada di kehidupan yang akan lo jalani nanti."

Kebetulan teman-teman saya banyak yang pintar. Si anu pinter Fisika. Si unu pinter Kimia. Si ono pinter Biologi. Well, saya harus memanfaatkan sumber daya manusia sebaik mungkin demi nilai rapor dan hasil ujian yang maksimal, dong! Namun, khusus untuk mata pelajaran kesukaan saya, saya bisa menyombong dengan memberi contekan kepada teman-teman.
Itulah yang diajarkan pada saya. Bahwa yang penting sekolahmu haruslah menghasilkan satu lembar ijasah "LULUS", and you're gonna be success.

Ijasah itu kemudian menjadi momok bagi saya dan teman-teman. Kata "TIDAK LULUS" menjadi aura ketakutan yang berlebihan bagi sekolah saya. Kami melalui berpuluh istighosah, berpuluh try out, beratus kali pertemuan bimbel. Bahkan saat Ujian Nasional, karena ada banyak sekali bocoran kunci jawaban, saya harus menuliskan semuanya agar bisa 'selamat'. Dua bocoran di belakang kartu ujian, dua bocoran dituliskan di meja ujian, dan dua terakhir di-tatto temporer pakai bolpoin di kulit tangan. Saat itu prinsip saya, "Sesudah dosa menyontek gue bisa tobat, tapi kalau gak lulus, tamatlah riwayat di dunia!".

Saya sudah lulus SMA sekarang. Tapi yang dahulu tidak saya sadari, seiring dengan itu, saya juga menjadi Irviene Maretha S.cn. atau dengan kata lain Irviene Maretha Sarjana Contek.


Gelar sarjana contek memberi saya CV yang bagus. Well, bagaimana tidak, hasil ujian nasional enam mata pelajaran saya waktu SMA adalah 52.85 (dengan nilai maksimal 60.00). Which means, nilai saya rata-rata hampir mendekati 9.00. Dan bahkan, pelajaran Fisika dan Kimia yang bagi saya lebih menyeramkan dari Suzanna masing-masing mendapat nilai 9.75!


Shit happens, huh?



Keahlian itu, saya terapkan juga pada tahun pertama kuliah saya di Paramadina. Saya mencontek dan dicontek, walaupun tidak parah. 

Kadang saat benar-benar stuck dengan satu soal, saya bertanya kepada teman sebelah saya. Kadang saat teman saya terlihat kesulitan mengerjakan soal, saya bantu dia dengan tangan terbuka.

Kedoknya sih solidaritas. Tapi sebenarnya hati saya tidak pernah merasa seperti itu. 

Hati saya berkata, "Pin, kamu sering mengolok-olok koruptor, tapi tidakkah kamu sadar kalau tikus yang divisualisasikan dalam stiker-stiker KPK itu adalah kamu sendiri?"

"Pin, kamu mendukung pemberantasan korupsi. Kamu sebal, kan, kalau banyak polisi yang ambil untung di jalan, kamu sebal kan kalau kondisi jalan banyak yang rusak. Tapi kenapa kamu sendiri korupsi nilai ujian?"

Tikus itu saya sendiri.

Kenapa saya korupsi? Saya benci sistem pendidikan berbasis hasil akhir, mungkin karena itu saya korupsi nilai dengan menyontek. Saya balas kedzholiman dengan kedzholiman. Tapi pada akhirnya, saya sendirilah yang tersakiti dua kali. Masa sekarang dan masa depan sayalah yang saya sakiti sendiri. 

Gila, saya tidak percaya saya bisa menangis saat menulis ini.

Saya korupsi sekarang, maka saya akan korupsi nanti. Saat saya jadi pengusaha nanti, mungkin saya akan mendzholimi tiap kendaraan yang berjalan di atas jalan yang rusak karena pajak yang tidak saya bayar. Saya turut andil dalam mendzholimi para Ibu di NTT yang tidak punya akses kesehatan memadai atas anak-anak mereka karena kewajiban yang tidak saya bayar penuh. 

Sekarang saya sedang berusaha kembali menyusuri belokan-belokan kecil yang telah saya lalui di masa lalu, dan mendongak lurus, ke depan. Saya tahu ini pasti akan sulit, sulit sekali. Pada saat saya lemah, mungkin nanti saya bisa berbelok lagi. Tapi saya akan berusaha mengingat tangisan ini saat saya lemah.

"Yang penting lo berproses, apa yang lo pelajari hari ini, segala tabel periodik dan segala resistor, mungkin memang gak bakal ada di kehidupan yang lo jalani nanti. Tapi ada yang lebih penting yang harus lo pelajari saat lo belajar tentang resistor dan tabel periodik. Yaitu








 pelajaran memilih hati nurani."


Babbling Lady:
"Hanya ada satu yang menjadi negaraku. Negara yang dibangun dengan perbuatan, yaitu perbuatanku."