Tentang Bahagia




“Tiap orang mencari kebahagiaan. Tanpa kecuali. Apa pun cara berbeda yang mereka gunakan, mereka semua cenderung menuju ke sana. Penyebab sebagian orang memaklumkan perang dan sebagian lain menghindarinya berangkat dari hasrat yang sama, namun sudut pandang yang berbeda. Ini motif tiap perbuatan manusia, bahkan (motif) mereka yang gantung diri.” Blaise Pascal

Mengamini ucapan Blaise Pascal, saya percaya bahwa tiap orang, sadar dan tidak, mencari apa yang mereka sebut bahagia. Saya pun, begitu. Saya cukup mengerti bahwa segala yang saya lakukan sekarang bermuara dari suatu pengharapan kehidupan saya yang lebih bahagia di esok harinya.

Skema yang saya temukan dalam presentasi Tony Hsieh, pendiri Zappos, mungkin bisa membantu penjelasan saya.


Apa tujuan-tujuanmu dalam kehidupan pribadi? Punya bisnis sendirikah atau menuju puncak karirkah? Punya pacarkah atau ingin sehatkah? Atau bahkan, apakah kamu ingin menuju surgakah? Berbagai "alat" yang kamu gunakan itu akan bermuara pada kebahagiaan saat kamu mulai bertanya mengapa



Sudah sejak dulu, para cendikiawan berdebat mengenai apa yang membuat manusia bahagia. Beberapa bilang bahwa menjadi terkenal bisa bikin bahagia. Ada juga yang bilang bahwa bahagia ada karena kita beruntung. Manusia memiliki budaya wants dan needs yang harus terpenuhi. Dan biasanya kita akan bilang bahwa terpenuhinya hal-hal yang kita inginkanlah yang dapat membuat kita bahagia. 




Seringnya, manusia adalah makhluk yang suka salah menebak. Termasuk menebak apa yang sebenarnya membuat mereka bahagia. Blog Anthony Robbins menjelaskan hal ini dengan sangat cemerlang. Apa yang sering kita kira membuat kita bahagia namun ternyata bukan adalah menjadi orang yang disegani, kaya, terkenal, dan paling keren sejagad. Tony menjelaskan bahwa para "rockstars" yang ditemui dan bekerja bersamanya selama lebih dari 30 tahun itu bukanlah orang-orang paling bahagia di dunia.

"Inevitably, I get the call where [insert your favorite rock star here] calls and says, “How come I have everything I ever wanted and I’m miserable?”  And the answer is this: getting what you want may give you pleasure, but it doesn’t make you happy. Plenty of people with ample wealth, fancy toys and fast cars still find themselves disillusioned." - Anthony Robbins
 Lalu apa yang sebenarnya membuat kita bahagia? Bagi saya, tiap orang punya formulanya sendiri-sendiri. Namun, saya akan memperkenalkan beberapa framework mengenai kebahagiaan yang dirumuskan oleh para "orang pinter" yang saya tahu (dan jatuh cinta).
Sering melihat segitiga ini? The famous Abraham Maslow mengenalkan lima tingkatan kebahagiaan. Di balik segala pro-kontra tentang framework ini, saya jatuh cinta pada apa yang Maslow tawarkan. Ia berargumen bahwa bahagia dapat diraih jika melewati lima tingkatan dari yang terendah hingga tertinggi, antara lain tingkatan fisiologis, safety, love/belonging, esteem, dan aktualisasi diri.


Framework lain saya dapatkan dari presentasi Tony Hsieh, walaupun bukan murni buatannya. Sayang, saya belum tahu siapa pembuat framework ini. Si pembuat berargumen bahwa jika dikategorikan berdasarkan waktu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang akan ada tiga jenis kebahagiaan yang berbeda bentuk. Jika ingin bahagia dalam jangka pendek, cobalah seeking pleasure dan mencapai sesuatu yang diinginkan. Namun, dalam jangka panjang, bahagia didapat dari menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri. Menjadi manusia yang memberi arti bagi dunia.

Framework ketiga saya temukan dari TED Talks, bahwa ada Three A's to be Awesome, yaitu:
1. Attitude: bersikap memilih untuk move on, terus maju atas segala kesedihan di belakang
2. Awareness: memilih untuk menjadi anak-anak lagi dalam melihat dunia, yaitu melihat segalanya seperti saat pertama kali. 
3. Authenticity: menjadi diri sendiri dan cool about that, mengikuti kata hati.

Dan framework terakhir, sekaligus yang paling saya sukai, juga diperkenalkan oleh Tony Hsieh (yang juga ia implementasikan dalam manajemen sumber daya manusia karyawan-karyawan Zappos). Teori ini menyebutkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, ada empat hal yang harus dipenuhi: Perceived control, perceived progress, connection, dan meaning (create something bigger than yourself). 

NB: Postingan tentang kebahagiaan ini, belum benar-benar berakhir. :)

Published with Blogger-droid v2.0.4

untuk Barcelona

Saya ingin memiliki teman hidup yang bisa memahami perasaan saya.

Yang bisa memeluk mimpi-mimpi saya.

Yang membuat saya tertawa setiap harinya.

Yang ikut mengimajinasikan dunia menjadi hal yang selalu baru bersama saya.

Dan juga selalu saya rindukan keberadaannya walau bahkan ia sedang ada di samping saya.


Saya ingin ia menjadi teman dalam mempelajari Tuhan dan agama.

Saya ingin shalat tahajud bersamanya, kemudian memunculkan ide-ide cemerlang untuk jalan yang kita retas bersama setelahnya.

Saya ingin membangun kebun binatang mini bersamanya. Oh, anjing dan kucing tentunya adalah "anak-anak" kita.

Saya ingin bisa memasak masakan paling sedap untuknya, dan membuatnya bangga di antara teman-teman kantornya.

Dan saya ingin mencicipi berbagai tempat di dunia ditemaninya. Paris adalah salah satunya.


Saya ingin mencintainya setiap hari dan bukan selamanya.

Saya ingin memberinya kejutan-kejutan kecil setiap hari.

Dan saya sangat ingin bisa memberi arti untuk hidupnya, serta membahagiakannya. Saya ingin, ia berkata, "sudah cukup hidup satu kali ini jika kamu tetap bersama saya seperti ini."


Mimpi saya tahun 2020 nanti sederhana saja.

Bukan pencapaian karir, lagi achievement-achievement lainnya.

Saya hanya ingin menjadi istri dan ibu dari suami dan anak-anak yang luar biasa.


Barcelona, tunggu saya.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Jadi Dewasa

Berapa banyak dari kita yang takut jadi tua?

Gampang saja indikatornya: saat kita berkata, "Jadi dewasa itu gak enak. Pengen balik jadi anak-anak lagi"


Saat saya ulang tahun ke 20 tahun lalu, saya galau sekali.

Sudah kepala dua.. sudah kepala dua.. sudah tuaaaaaa.. bentar lagi nikah, gilak.

Itu yang ada dalam pikiran saya.


Sampai sekarang, tiap ulang tahun bukannya senang, malah galau ngga jelas. Intinya tiap ada momen di mana saya merasa semakin tua, saya semakin galau.


Saat saya analisis kata-kata bahwa jadi dewasa itu ngga enak, saya jadi paham kata "karena" di balik itu.


Jadi dewasa gak enak karena kita udah gak bisa maen-maen kaya anak-anak lagi.

Jadi dewasa gak enak karena kita udah punya makin banyak tanggung jawab.

Jadi dewasa gak enak karena kita sering berpura-pura atas nama keselarasan.

Jadi dewasa gak enak karena kita iri sama cara anak-anak ketawa.


Kita ingin jadi anak-anak lagi.


Padahal kita bisa. Saya yakin, kita bisa jadi anak-anak lagi. Asalkan bersedia menerima bahwa nanti kita akan dianggap berbeda.


Walaupun punya banyak tanggung jawab, saya masih menemukan orang dewasa yang bisa melepaskan dirinya layaknya anak-anak. Justru itulah, menurut saya arti kata dewasa.


Memiliki cara pandang anak-anak

Namun memeluk kebijaksanaan tanpa batasan usia.


Jadi tua itu pasti, tapi masihkah kita melihat dunia dengan cara yang luar biasa?


Kalau belum, mungkin Anda belum dewasa.


Well, saya belum juga, kok. :)


Happy aid fitr, y'all!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Five things to fix

Irviene:

Akhir-akhir ini saya banyak berpikir, bahwa ada banyak aspek dalam hidup saya yang masih kurang ideal di mata saya. Dan banyak... adalah banyak.

Disclaimer: Dengan postingan ini, buka berarti saya tidak bersyukur atas hidup saya atau saya benci dengan diri saya. Kadang-kadang, memang muncul perasaan-perasaan seperti itu sih, tapi saya tahu itu tidak benar dan saya tahu itu harus dilawan. Saya hanya merasa bahwa be yourself bukan berarti menerima diri kita apa adanya. Menurut saya, be yourself berarti strive as hard as we can in chaging something we don't want, and loving as hard as we can when looking something we can't change.

Pertama, saya belum menemukan bakat saya hingga umur 21 tahun. Dan saya khawatir tidak bisa mencapai 10.000 jam saya sebelum umur 30 tahun seperti target saya.

Kedua, saya sepertinya masih harus re-arrange kepribadian saya yang kurang baik dan mengganggu hidup saya. Saya kurang ini, itu, ini, itu. there's a lot of things I have to fix.

Ketiga, saya gendut. Ah, yang jelas saya harus diet. At least, sebelum saya menikah, saya mau kata "berat badan" dihapuskan dari kamus saya. Yang ada hanya "ringan badan".

Keempat, otak saya tidak berfungsi dengan baik dan saya gemas. Saya mau memperbaiki otak saya. Fix.

Dan kelima, saya masih belum menerima bahwa ada bagian dari diri saya yang tidak bisa sempurna (atau hampir sempurna, lebih tepatnya) seperti layaknya orang-orang luar biasa yang saya temui. Saya masih belum menerima bahwa saya masih kurang bahagia dibandingkan dengan orang lain. Namun, yang paling membuat saya sedih adalah bahwa saya ternyata masih membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. It could kill people. I mean it.

Saya punya target 90 hari mengenai lima hal yang harus diubah ini. 

Paling tidak, kalau saya meninggal sebelum 90 hari ini berlalu, saya tidak menyesal saat arwah saya melayang-layang lepas dari tubuh saya. 

Saya tahu bahwa saya berusaha. That's what matter the most.

Apa yang Mereka Sebut Passion

Irviene:

Saya tidak memiliki data statistik, tapi saya rasa dunia sudah berubah. Dunia semakin peduli dengan apa yang mereka sebut passion. Saya rasa, ini adalah bagian dari pergeseran generasi. Sejak generasi X beranjak dewasa, hingga sekarang generasi Z memasuki tingkat remaja awal, saya rasa passion telah menjadi alat yang penting untuk bekerja, atau bahkan untuk hidup.

Saya bukan conference maniac atau nerdy one, tapi saya suka belajar. Dari mana saja. Saya suka nonton TED, saya suka baca buku, saya suka baca blog atau artikel tentang personal development, saya suka saat saya menikmati speech dari high achiever yang presentasi beberapa meter di depan saya. Most of the talks, the tips, the written articles, involving passion issue in it. 

Passion sudah menjadi kesadaran kolektif bagi orang muda, termasuk saya. Sejak saya SMA, saya sudah tahu bahwa saya harus hidup sesuai panggilan hati saya, apa pun itu. 

Saya pikir passion saya adalah menjadi pengusaha. Saya menyenangi bagaimana kekerenan seorang pengusaha sukses. Gak mainstream. They can come up with a brilliant idea, and implement it in reality, being a leader not only to himself, but to other people who are helped financially by him. 

Saya pikir juga, sepertinya passion saya adalah menjadi violinist. Saya bermimpi bisa menjadi violinist sejak melihat seorang pengamen laki-laki yang bermain biola di kopaja. Dandanannya gak beraturan, rambutnya gimbal, tindikan di mana-mana, tapi dia bawa benda indah itu, dan memainkannya dengan sebuah cara yang membuat saya speechless. Saya ingin, suara indah itu keluar dari tangan saya. Saya ingin bermain biola. By the way, saya sangat ingin bertemu dia lagi.


Oh, ya, saya pikir lagi, passion saya adalah menjadi penulis. Saya bukan potongan penulis ilmiah, cerpen, atau puisi. Saya juga gak ahli menulis sampai menang penghargaan ini dan itu. Saya hanya bisa curhat, ya seperti ini aja. Tapi saya bahagia saat apa yang saya curhatkan dapat memberi kebaikan bagi banyak orang yang membacanya. 

Anyway, saya juga tertarik dengan human resource management. Itu konsentrasi saya di kampus. Saya ambil konsentrasi itu karena saya tertarik dengan ilmu manusia. Lagi, saya menduga-duga passion saya adalah secondhand shopping. Simply, saya cinta belanja barang bekas! Hahaha.

Passion saya banyak, dan saya kebingungan untuk fokus. Saya tahu, saya harus fokus untuk bisa berhasil. Namun, saya tidak tahu bagian mana yang harus saya fokuskan. 

Lalu saya membaca artikel @ReneCC di Kompas Karir mengenai Passion. Mas Rene menyadarkan saya bahwa Passion bukanlah jenis pekerjaan yang saya inginkan, seperti pengusaha, violinist, penulis, atau human resource manager, atau malah secondhand shopping enthusiast. Passion bukanlah makhluk yang harus saya kejar, karena ia sudah ada dalam diri saya dan yang saya perlukan adalah belajar mengenalinya. Passion is both activities and object of fascination. 

Mungkin yang saya perlukan adalah merasakan sejenak. Ask 5 whys mengapa saya ingin menjadi ini dan itu. 

Lalu apa passion saya?

I'll tell world more about that next time. :)

- Keep the lights on! -

Rumah Dua Lantai


Saya rumah dua lantai
di tengah kota

di antara gedung-gedung pencakar langit

Gedung sebelah kiri adalah kantor IT terbesar di Indonesia
Gedung sebelah kanan adalah kantor LSM
Gedung di depan adalah perusahaan multinasional
Eh, gedung di belakang adalah Mall megah baru dibangun

Saya rumah dua lantai
tampak kecil di antara gedung itu

Saya rumah dua lantai
harusnya saya bertengger di pinggiran kota bersama rumah dua lantai lain
Tapi pindah tak semudah mainan bongkar pasang

Hmm..
AHA!
Saya rumah dua lantai
Saya tetap akan jadi rumah dua lantai
Tetap di tengah gedung pencakar langit

Tapi, saya baru ingat
Saya kan rumah kesayangan Pak Presiden!

- Jakarta, 30 Juni 2012
Let's embrace difference, hey human :)

Happiness


Saya tahu ada cukup banyak prioritas yang harus saya lakukan daripada menulis di blog. Tapi sungguh, saya rindu rumah saya ini. Saya rindu menumpahkan pikiran saya yang ruwet ke dalam bacaan yang mungkin bagi banyak orang tak bermutu. Anyway, I don’t care.

Satu hal yang saya yakini sejak dulu, bahwa menulis adalah kebanggaan saya. Bukan karena predikat ini saat melekat bersama saya akan memenangkan berbagai kejuaraan dan penghargaan. Namun, karena dengannya, saya merasa menemukan diri saya sendiri. Rasanya seperti curhat kepada seseorang, lalu mendapatkan advice yang ‘klik’ dengan hati saya. Dengan diri saya sendiri tepatnya, curhat itu dilakukan. Bukankah jawaban itu sebenarnya sudah ada dalam diri? Saya hanya perlu men-trigger-nya saja. Menulis adalah trigger saya.

Sudah berbulan-bulan tampaknya, laptop saya tidak mampu mengetikkan curahan yang saya inginkan. Saya sedang menderita sindrom ‘kesok-terlaluan’. Sok terlalu sibuk. Sok terlalu penting. Sok terlalu stres. Sok terlalu galau. Saya kemudian melupakan apa yang disebut ‘menikmati’. Saya kemudian lupa, bahwa menulis, tertawa terbahak-bahak, dan bermain biola dengan ngawur, adalah tiga hal ternikmat saya yang saat ini jarang saya lakukan. Saya dilingkupi oleh berbagai kepentingan dan berbagai keinginan pencapaian, yang bahkan saya tak menikmatinya.

Bukan berarti mereka tak nikmat. Saat saya berkata bahwa ini nikmat dan itu tak nikmat, sayalah yang sempit. Karena,

“Life is not about waiting the storm to past, it’s about dancing in the rain”

Permasalahan saya adalah, bagaimana saya bisa memiliki pandangan bahwa segala tantangan di depan mata saya –yang sering membuat saya stres- menjadi partner saya untuk menari dengan riangnya. Saya terlalu sibuk memusingkan sudut pandang negatif, sehingga lupa bahwa di sudut bagian sana, si partner menari sedang duduk sendiri, menunggu untuk saya datangi.

Bahwa saya memiliki antusiasme yang terlalu pilih-pilih terhadap bermacam aktivitas di depan saya, bahkan terhadap manusia-manusia di sebelah saya, adalah kesalahan besar.

Life is like a box of chocolate, kata Forrest Gump. Apa yang kita hadapi, mungkin bukan variabel terkontrol. Satu-satunya variabel terkontrol, adalah pikiran, teman. Pikiran.

Happiness is the way of life, and your mind is the footsteps.