Happiness


Saya tahu ada cukup banyak prioritas yang harus saya lakukan daripada menulis di blog. Tapi sungguh, saya rindu rumah saya ini. Saya rindu menumpahkan pikiran saya yang ruwet ke dalam bacaan yang mungkin bagi banyak orang tak bermutu. Anyway, I don’t care.

Satu hal yang saya yakini sejak dulu, bahwa menulis adalah kebanggaan saya. Bukan karena predikat ini saat melekat bersama saya akan memenangkan berbagai kejuaraan dan penghargaan. Namun, karena dengannya, saya merasa menemukan diri saya sendiri. Rasanya seperti curhat kepada seseorang, lalu mendapatkan advice yang ‘klik’ dengan hati saya. Dengan diri saya sendiri tepatnya, curhat itu dilakukan. Bukankah jawaban itu sebenarnya sudah ada dalam diri? Saya hanya perlu men-trigger-nya saja. Menulis adalah trigger saya.

Sudah berbulan-bulan tampaknya, laptop saya tidak mampu mengetikkan curahan yang saya inginkan. Saya sedang menderita sindrom ‘kesok-terlaluan’. Sok terlalu sibuk. Sok terlalu penting. Sok terlalu stres. Sok terlalu galau. Saya kemudian melupakan apa yang disebut ‘menikmati’. Saya kemudian lupa, bahwa menulis, tertawa terbahak-bahak, dan bermain biola dengan ngawur, adalah tiga hal ternikmat saya yang saat ini jarang saya lakukan. Saya dilingkupi oleh berbagai kepentingan dan berbagai keinginan pencapaian, yang bahkan saya tak menikmatinya.

Bukan berarti mereka tak nikmat. Saat saya berkata bahwa ini nikmat dan itu tak nikmat, sayalah yang sempit. Karena,

“Life is not about waiting the storm to past, it’s about dancing in the rain”

Permasalahan saya adalah, bagaimana saya bisa memiliki pandangan bahwa segala tantangan di depan mata saya –yang sering membuat saya stres- menjadi partner saya untuk menari dengan riangnya. Saya terlalu sibuk memusingkan sudut pandang negatif, sehingga lupa bahwa di sudut bagian sana, si partner menari sedang duduk sendiri, menunggu untuk saya datangi.

Bahwa saya memiliki antusiasme yang terlalu pilih-pilih terhadap bermacam aktivitas di depan saya, bahkan terhadap manusia-manusia di sebelah saya, adalah kesalahan besar.

Life is like a box of chocolate, kata Forrest Gump. Apa yang kita hadapi, mungkin bukan variabel terkontrol. Satu-satunya variabel terkontrol, adalah pikiran, teman. Pikiran.

Happiness is the way of life, and your mind is the footsteps.