Apa yang Mereka Sebut Passion

Irviene:

Saya tidak memiliki data statistik, tapi saya rasa dunia sudah berubah. Dunia semakin peduli dengan apa yang mereka sebut passion. Saya rasa, ini adalah bagian dari pergeseran generasi. Sejak generasi X beranjak dewasa, hingga sekarang generasi Z memasuki tingkat remaja awal, saya rasa passion telah menjadi alat yang penting untuk bekerja, atau bahkan untuk hidup.

Saya bukan conference maniac atau nerdy one, tapi saya suka belajar. Dari mana saja. Saya suka nonton TED, saya suka baca buku, saya suka baca blog atau artikel tentang personal development, saya suka saat saya menikmati speech dari high achiever yang presentasi beberapa meter di depan saya. Most of the talks, the tips, the written articles, involving passion issue in it. 

Passion sudah menjadi kesadaran kolektif bagi orang muda, termasuk saya. Sejak saya SMA, saya sudah tahu bahwa saya harus hidup sesuai panggilan hati saya, apa pun itu. 

Saya pikir passion saya adalah menjadi pengusaha. Saya menyenangi bagaimana kekerenan seorang pengusaha sukses. Gak mainstream. They can come up with a brilliant idea, and implement it in reality, being a leader not only to himself, but to other people who are helped financially by him. 

Saya pikir juga, sepertinya passion saya adalah menjadi violinist. Saya bermimpi bisa menjadi violinist sejak melihat seorang pengamen laki-laki yang bermain biola di kopaja. Dandanannya gak beraturan, rambutnya gimbal, tindikan di mana-mana, tapi dia bawa benda indah itu, dan memainkannya dengan sebuah cara yang membuat saya speechless. Saya ingin, suara indah itu keluar dari tangan saya. Saya ingin bermain biola. By the way, saya sangat ingin bertemu dia lagi.


Oh, ya, saya pikir lagi, passion saya adalah menjadi penulis. Saya bukan potongan penulis ilmiah, cerpen, atau puisi. Saya juga gak ahli menulis sampai menang penghargaan ini dan itu. Saya hanya bisa curhat, ya seperti ini aja. Tapi saya bahagia saat apa yang saya curhatkan dapat memberi kebaikan bagi banyak orang yang membacanya. 

Anyway, saya juga tertarik dengan human resource management. Itu konsentrasi saya di kampus. Saya ambil konsentrasi itu karena saya tertarik dengan ilmu manusia. Lagi, saya menduga-duga passion saya adalah secondhand shopping. Simply, saya cinta belanja barang bekas! Hahaha.

Passion saya banyak, dan saya kebingungan untuk fokus. Saya tahu, saya harus fokus untuk bisa berhasil. Namun, saya tidak tahu bagian mana yang harus saya fokuskan. 

Lalu saya membaca artikel @ReneCC di Kompas Karir mengenai Passion. Mas Rene menyadarkan saya bahwa Passion bukanlah jenis pekerjaan yang saya inginkan, seperti pengusaha, violinist, penulis, atau human resource manager, atau malah secondhand shopping enthusiast. Passion bukanlah makhluk yang harus saya kejar, karena ia sudah ada dalam diri saya dan yang saya perlukan adalah belajar mengenalinya. Passion is both activities and object of fascination. 

Mungkin yang saya perlukan adalah merasakan sejenak. Ask 5 whys mengapa saya ingin menjadi ini dan itu. 

Lalu apa passion saya?

I'll tell world more about that next time. :)

- Keep the lights on! -