Jadi Dewasa

Berapa banyak dari kita yang takut jadi tua?

Gampang saja indikatornya: saat kita berkata, "Jadi dewasa itu gak enak. Pengen balik jadi anak-anak lagi"


Saat saya ulang tahun ke 20 tahun lalu, saya galau sekali.

Sudah kepala dua.. sudah kepala dua.. sudah tuaaaaaa.. bentar lagi nikah, gilak.

Itu yang ada dalam pikiran saya.


Sampai sekarang, tiap ulang tahun bukannya senang, malah galau ngga jelas. Intinya tiap ada momen di mana saya merasa semakin tua, saya semakin galau.


Saat saya analisis kata-kata bahwa jadi dewasa itu ngga enak, saya jadi paham kata "karena" di balik itu.


Jadi dewasa gak enak karena kita udah gak bisa maen-maen kaya anak-anak lagi.

Jadi dewasa gak enak karena kita udah punya makin banyak tanggung jawab.

Jadi dewasa gak enak karena kita sering berpura-pura atas nama keselarasan.

Jadi dewasa gak enak karena kita iri sama cara anak-anak ketawa.


Kita ingin jadi anak-anak lagi.


Padahal kita bisa. Saya yakin, kita bisa jadi anak-anak lagi. Asalkan bersedia menerima bahwa nanti kita akan dianggap berbeda.


Walaupun punya banyak tanggung jawab, saya masih menemukan orang dewasa yang bisa melepaskan dirinya layaknya anak-anak. Justru itulah, menurut saya arti kata dewasa.


Memiliki cara pandang anak-anak

Namun memeluk kebijaksanaan tanpa batasan usia.


Jadi tua itu pasti, tapi masihkah kita melihat dunia dengan cara yang luar biasa?


Kalau belum, mungkin Anda belum dewasa.


Well, saya belum juga, kok. :)


Happy aid fitr, y'all!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Five things to fix

Irviene:

Akhir-akhir ini saya banyak berpikir, bahwa ada banyak aspek dalam hidup saya yang masih kurang ideal di mata saya. Dan banyak... adalah banyak.

Disclaimer: Dengan postingan ini, buka berarti saya tidak bersyukur atas hidup saya atau saya benci dengan diri saya. Kadang-kadang, memang muncul perasaan-perasaan seperti itu sih, tapi saya tahu itu tidak benar dan saya tahu itu harus dilawan. Saya hanya merasa bahwa be yourself bukan berarti menerima diri kita apa adanya. Menurut saya, be yourself berarti strive as hard as we can in chaging something we don't want, and loving as hard as we can when looking something we can't change.

Pertama, saya belum menemukan bakat saya hingga umur 21 tahun. Dan saya khawatir tidak bisa mencapai 10.000 jam saya sebelum umur 30 tahun seperti target saya.

Kedua, saya sepertinya masih harus re-arrange kepribadian saya yang kurang baik dan mengganggu hidup saya. Saya kurang ini, itu, ini, itu. there's a lot of things I have to fix.

Ketiga, saya gendut. Ah, yang jelas saya harus diet. At least, sebelum saya menikah, saya mau kata "berat badan" dihapuskan dari kamus saya. Yang ada hanya "ringan badan".

Keempat, otak saya tidak berfungsi dengan baik dan saya gemas. Saya mau memperbaiki otak saya. Fix.

Dan kelima, saya masih belum menerima bahwa ada bagian dari diri saya yang tidak bisa sempurna (atau hampir sempurna, lebih tepatnya) seperti layaknya orang-orang luar biasa yang saya temui. Saya masih belum menerima bahwa saya masih kurang bahagia dibandingkan dengan orang lain. Namun, yang paling membuat saya sedih adalah bahwa saya ternyata masih membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. It could kill people. I mean it.

Saya punya target 90 hari mengenai lima hal yang harus diubah ini. 

Paling tidak, kalau saya meninggal sebelum 90 hari ini berlalu, saya tidak menyesal saat arwah saya melayang-layang lepas dari tubuh saya. 

Saya tahu bahwa saya berusaha. That's what matter the most.