Jadi Dewasa

Berapa banyak dari kita yang takut jadi tua?

Gampang saja indikatornya: saat kita berkata, "Jadi dewasa itu gak enak. Pengen balik jadi anak-anak lagi"


Saat saya ulang tahun ke 20 tahun lalu, saya galau sekali.

Sudah kepala dua.. sudah kepala dua.. sudah tuaaaaaa.. bentar lagi nikah, gilak.

Itu yang ada dalam pikiran saya.


Sampai sekarang, tiap ulang tahun bukannya senang, malah galau ngga jelas. Intinya tiap ada momen di mana saya merasa semakin tua, saya semakin galau.


Saat saya analisis kata-kata bahwa jadi dewasa itu ngga enak, saya jadi paham kata "karena" di balik itu.


Jadi dewasa gak enak karena kita udah gak bisa maen-maen kaya anak-anak lagi.

Jadi dewasa gak enak karena kita udah punya makin banyak tanggung jawab.

Jadi dewasa gak enak karena kita sering berpura-pura atas nama keselarasan.

Jadi dewasa gak enak karena kita iri sama cara anak-anak ketawa.


Kita ingin jadi anak-anak lagi.


Padahal kita bisa. Saya yakin, kita bisa jadi anak-anak lagi. Asalkan bersedia menerima bahwa nanti kita akan dianggap berbeda.


Walaupun punya banyak tanggung jawab, saya masih menemukan orang dewasa yang bisa melepaskan dirinya layaknya anak-anak. Justru itulah, menurut saya arti kata dewasa.


Memiliki cara pandang anak-anak

Namun memeluk kebijaksanaan tanpa batasan usia.


Jadi tua itu pasti, tapi masihkah kita melihat dunia dengan cara yang luar biasa?


Kalau belum, mungkin Anda belum dewasa.


Well, saya belum juga, kok. :)


Happy aid fitr, y'all!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Leave a Reply