Melepaskan

Melepaskan itu kata yang simpel tapi luar biasa berat.

Melepaskan adalah isu yang saya miliki selama belasan tahun, dan baru saya sadari sekarang kalau saya memilikinya.

Apa yang terjadi kalau kita melepas baju? Telanjang.

Begitulah rasanya melepaskan diri dari pikiran dan keinginan. Telanjang.

Selama bertahun-tahun saya ingin menjadi Irviene yang lain karena tidak puas dengan Irviene saat ini.

Saya ingin jadi lebih cantik.
Lebih cerdas.
Punya bakat yang cemerlang.
Lebih baik hati.
Lebih disukai.
Lebih langsing.
Lebih percaya diri.
Punya lebih banyak prestasi.
Lebih tidak suka bengong.
Dan banyak lagi.

Saya menyadari bahwa saya penuh dengan kekurangan, karenanya keinginan itu tidak bisa saya lepaskan. Malah daftarnya semakin panjang.

Hari ini saya menyadari, berkat cerita seorang kawan. Ia menikah dengan orang yang mencintainya apa adanya. Dan menurut testimoninya, setelah menikah rasanya sangat bahagia. Ia yang berwatak keras tapi tidak mau jadi dominan menemukan sosok yang langka: Tidak keras tapi dominan. Kecocokan karakteristik itu yang menurut saya membuat mereka bisa saling menerima. Dan akhirnya membebaskan dan membahagiakan. Penerimaan itu membahagiakan.

Saya banyak membaca mengenai hal ini, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda tapi memiliki satu keinginan yang sama: Ingin menjadi diri sendiri yang utuh dan jujur. "Aku melihat diriku di matamu" adalah hal yang krusial pada pernikahan. Dengan menjadi apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, kemunafikan, atau kebohongan. Menjadi rentan di hadapan pasangan menjadi hal yang lumrah, karena kita tidak harus menjadi sesuatu yang bukan kita di hadapan orang yang menerima diri kita apa adanya.

Jika saya melihat pada diri saya sendiri, saya kemudian bertanya: Apa teori itu bisa digunakan tanpa pasangan/kekasih?

Saya jawab: Harus.

Tuhan beri kita masing-masing pengalaman dan DNA yang sama sekali berbeda. Hal itu menyebabkan wajah, bentuk tubuh, dan sifat yang sama sekali berbeda juga. Sering keberbedaan itu membuat kita berkeinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik dari hidup yang saat ini dijalani. Hidup orang lain yang tampaknya lebih-lebih-lebih bersinar.

Yang lebih sukses, yang lebih bahagia, yang lebih kaya.

Saya pun seperti itu, walaupun saya tidak secara spesifik mendambakan hidup seperti milik orang yang saya kagumi, tapi saya ingin "lebih". 

Keinginan ini tanpa saya sadari memenjarakan saya.  Membuat saya merasa, "Aku tidak bahagia kalau aku segini segini saja."

Cerita teman saya menyadarkan bahwa menerima diri yang tidak sempurna adalah pengertian dari mencintai diri sendiri. Bahwa tidak apa-apa menjadi seorang Irviene yang tidak cantik, belum menemukan bakatnya, tidak begitu prestatif, dan sering bengong kalau mendengarkan pelajaran. 

Kita berusaha memperbaiki kekurangan diri sendiri, tapi juga menerima ketidaksempurnaan yang ada. Persis seperti pasangan suami-istri.

Hubungan kita dengan diri sendiri juga patut diberi perhatian berporsi besar. 

Sudahkah kamu berdamai dengan dirimu sendiri?

Menjadi Wanita

Malam ini menulis di blog tidak termasuk dalam daftar prioritas saya, tetapi saya tergelitik untuk menulis tentang topik wanita.

You can't choose life, you live one. Saya tidak memilih untuk menjadi bagian dari wanita Indonesia, but here I am. Mingling with complexity in the new generation of Indonesia.

Jika saya disuruh menilai, lebih mudah mana menjadi wanita atau laki-laki... sepertinya saya pilih abstain. Saya sudah berpengalaman selama 22 tahun menjadi wanita dan itu tidak mudah. Namun, saya juga mengerti bahwa menjadi laki-laki sama tidak mudahnya, dengan tantangan yang sama sekali berbeda.

Pertama, wanita itu indah. Physically. Yang saya mau sampaikan adalah bahwa keindahan wanita secara fisik sering menjadi bumerang bagi dirinya. Sudah kodratnya menjadi indah menjadi tantangan tersendiri. Punya tubuh seksi atau gendut, bagi saya sama saja penderitaannya. Tubuh seksi harus ditutupi sedemikian rupa untuk menghindari munculnya nafsu dari lawan jenis (which has a bad effect for us). Secara baju-iah, I can say bluntly bahwa hidup wanita jauh-jauh-jauh lebih ribet daripada pria. Punya tubuh gendut pun harus berkutat dengan penilaian-penilaian orang yang negatif. Selain itu, wanita yang memiliki berat badan di atas rata-rata seringkali dianggap tidak menarik dan memiliki kesempatan yang lebih sedikit daripada wanita lain yang standar tubuhnya mendekati barbie

Di samping tubuh, kecantikan wajah pun menjadi tantangan yang cukup menghebohkan di dunia persilatan wanita. Siapa wanita yang nggak ingin wajahnya cantik? Well, bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan wanita ingin cantik dengan berbagai alasan: kesempatan yang lebih banyak, jodoh yang lebih baik, feel better about ourselves. Tentu kita juga tidak bisa memilih mau wajah yang seperti apa (kecuali yang punya uang berlebih sehingga bisa operasi plastik di Korea Selatan). Namun, jika wanita Indonesia boleh memilih, kebanyakan akan memilih wajah putih merona, dengan kulit mulus tanpa jerawat dan komedo, well, mungkin persis seperti di iklan krim pemutih itu (yang sebenarnya merupakan pembodohan, karena muka si artisnya sudah diedit-edit sehingga menjadi artifisial).

Kedua, wanita dianggap sebagai orang yang multitasking. Come on, we all know that research about the bad idea of multitasking. Tapi by nature, we are all juggler. Mungkin otak wanita berevolusi sedemikian rupa sehingga kita bisa menjadi juggler yang lebih baik dari laki-laki. Kenapa begitu? Karena kita cenderung memiliki identitas yang lebih beragam. 

Sering tahu tentang topik dilema wanita karir? 
Saat berkeluarga, wanita akan menjadi ibu. And being a mother means you MUST make your child  as your priority. Penelitian McKinsey tentang wanita karir ini menarik. I forget the number, tapi lebih dari 50% wanita memutuskan untuk berhenti mengembangkan karir mereka for family matters. Because being a mother, wife, daughter, and also part of community can be pretty exhausting. Dilemanya, we realize that sense of achievement is pretty important. And also, we can be a better family member if we an support family financial matters. Karena itu, banyak dari wanita yang memutuskan untuk work harder as a mom and career woman. Ada satu kutipan menarik tentang ini yang saya dapat dari seorang wanita karir yang sukses, "Anak adalah amanah, pekerjaan adalah komitmen, suami adalah pengabdian. Jika ada bola yang jatuh, satu-satunya bola yang boleh jatuh adalah saya."

Ketiga, wanita itu cukup kompleks secara emosional. Berbeda dengan laki-laki, wanita lebih menginginkan perhatian dan kasih sayang daripada pengakuan dan kepercayaan. But, we, Indonesian women, live in a "modesty". Katakanlah, I love a man. I can't be so bluntly say that I love him. There's an unseen rule that a woman should keep her love in her deepest heart. It can be pretty complicated if I may say. Tidak hanya itu, masih banyak contoh kasus lain yang membuat perasaan wanita menjadi complicated. The secret is, sometimes, we just don't know what we want.

Rasa-rasanya menjadi wanita itu pekerjaan yang berat ya? Indeed. 

Tapi bukan berarti saya pesimis dan tidak suka akan kodrat saya menjadi wanita. 

Di balik segala tantangan, berada dalam tubuh wanita ini adalah hal yang sangat saya syukuri. Karena berbagai kesempatan. Kesempatan untuk menjadi ibu, kesempatan untuk menjadi keindahan dalam keluarga, and also becomes a special part in community. Terlebih lagi, kesempatan untuk melihat dunia dengan porsi kasih sayang yang besar. Apalagi di era sekarang, wanita tidak dipandang sebelah mata lagi. Banyak cerita kepemimpinan yang menginspirasi dari wanita-wanita Indonesia. 

Sungguh, sebenarnya jika wanita berfokus pada berbagai kelebihannya, we can be happier and contribute more.

You choose. Whether you worry too much about the weakness, or simply get over it and strengthen your special power as woman. 

If you ask me, I choose to be inspiration, with all things I've got in my imperfect body.
:)

Love what you do or do what you love?


Disclaimer: Beberapa percakapan dalam tanda kutip tidak persis sesuai kata-katanya, karena saya lupa-lupa ingat dan juga percakapannya ada yang pakai bahasa Jawa. Tapi intinya insya Allah sama, kok. :)

Beberapa hari yang lalu saya bertemu kawan SMA di kafe dan terlibat dalam pembicaraan cukup menarik. Tentang mau jadi apa kita ke depan. Ini adalah pembicaraan khas fresh graduate dan mahasiswa tingkat akhir. Siapa sih anak umur 20-an yang gak membicarakan ini? :)

Saya berkata, “Aku mau kerja apa aja, yang penting halal.” Lalu tatapan teman saya kemudian menjadi aneh. Well, that’s the truth. Saya memang mau kerja apa saja di Jakarta asalkan halal dan sesuai dengan tingkat gaji yang saya inginkan.

Teman saya tidak setuju dengan saya. Mungkin karena dia tahu saya tipe pemimpi, ia berkata, “Omku kerja di Bank bertahun-tahun dan menyesal.”

Teman saya sendiri (yang saat ini sedang menyusun skripsi) punya rencana yang berbeda. Ia ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari pekerjaan yang ia sukai, lalu mengejar impiannya untuk profesi yang sangat ia idam-idamkan. Dalam bayangan saya, sepertinya ia akan bekerja di perusahaan Event organizer (karena ia suka organize acara), tapi sebenarnya pekerjaan itu adalah milestone-nya untuk jadi.. entahlah. Mungkin musisi. Dia ngga mau bilang, sih. :)

Saya bilang, “Itu bagus. Lanjutkan aja.” Tapi ia tetap tidak setuju dengan rencana yang saya miliki. Lalu saya berkata, “Katamu hidup itu seperti kereta, kan? Kita ada dalam kereta masing-masing, dengan jalur yang berbeda-beda dan jalur itu ternyata mengantarkan kita pada destinasi yang menjadi jauh berbeda. Aku tetap seperti ini, kamu tetap seperti itu. Kita lihat nanti, bagaimana tujuan akhir kita.”

Kita pulang ke rumah masing-masing dan perdebatan itu masih ada dalam kepala saya.
Saya rasa, this is all about passion.

Dalam postingan saya sebelumnya, saya berkata bahwa saat ini setiap orang selalu bilang passion, passion, passion. Ikuti kata hati, ikuti lentera hati. Maka kamu akan sukses dan berkarya secara luar biasa.

Ada banyak sekali contoh orang-orang yang berani mengikuti passion-nya. Wahyu Aditya, Diana Rikasari, Sonia Eryka Moe, Mas Erwin Parengkuan, dan lain-lain. Yes, they are succeed in what they love. The do what they love.

Namun saya pikir, jika itu satu-satunya jalan untuk menjadi bahagia dan sukses, ngga juga.
Mana ada orang muda seperti saya (dan mungkin Anda) yang berkata, “Kebab adalah passion saya”. Tapi pemilik Kebab Baba Rafi bisa sukses menjadi entrepreneur kebab di Asia Pasifik.
“Resleting adalah passion saya…” Saya jamin ngga akan ada. Tapi lihatlah YKK, perusahaan resleting nomor satu di dunia yang bisa besar hanya dari jualan resleting.

Saya rasa, jika semua orang ingin mengejar passion-nya, kebanyakan orang ingin berprofesi sebagai musisi, tukang gambar, guru TK, pekerja seni, pekerja film, artis, traveler, arsitek, fotografer dan profesi-profesi impian banyak orang.

Gimana dengan profesi HRD, sales, technical manager, bankir, sekretaris, PNS, administrator dan profesi-profesi lain yang tampaknya, “What the hell, I don’t care” dan “It’s so boring”? Walaupun tampak boring dan tidak sesuai dengan passion yang dimiliki, admit it, pekerjaan-pekerjaan itu dibutuhkan dan selalu ada pengisinya dalam dunia kerja.

Mungkin karena itu, Tuhan juga menciptakan, “Love what you do” dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Saya pikir, perdebatan saya dan teman saya tidak akan ada habisnya, karena tidak ada yang salah.

Saya memilih jalan mencari profesi yang nantinya akan saya sukai dan berkontribusi di bidang itu. I will “love what you do”, first. Iya sih, saya memang juga akan picky sama pekerjaan saya, tapi pemilihan itu berdasarkan beberapa kriteria yang tidak banyak hubungannya dengan passion saya. Namun, saya juga “do what you love”, bukan dalam bentuk profesi, tapi dalam bentuk hobi. Saya suka musik, menyanyi, dan fashion. Saya pribadi, tidak berkeinginan punya profesi sebagai violinist atau designer, karena simply saya ngga mau main biola atau beli baju unik sambil mikirin duit.

Teman saya memilih untuk “do what you love”, first. Dan itu sangat bagus, karena ia tidak perlu banyak adaptasi dan akan total mengerjakan hal yang ia sukai. Dan dengan visinya yang sudah ia bangun selagi muda, ia adalah the next raising star.

Kedua jalan tersebut telah terbukti mendatangkan pemenuhan jiwa dan pemenuhan materi. Selama tidak melanggar etika, moral, dan kata hati, saya rasa keduanya akan menjadi jalur berbeda tetapi sama-sama menantang dan menyenangkan. Amen for that. :p

One more thing, you can see the word ‘passion’ as a concept or as a tool. Maksud saya, jika Anda melihat passion sebagai tool, maka hal itu akan menjadi sangat spesifik, dan menjurus pada profesi, contohnya: Biker, Skateboarder, Football player. Namun jika Anda melihat passion sebagai konsep, maka hal itu menjadi sangat luas, contohnya: “Passion saya adalah membuat hidup orang lebih berarti melalui pengajaran yang diberikan”, maka mau jadi tukang sampah pun, sudah bisa memuaskan passion Anda selama Anda memberikan pengajaran cara distribusi sampah pada tukang-tukang sampah junior.

Saya rasa, setiap orang memang punya jalur yang berbeda-beda, tetapi bermuara pada beberapa keinginan terdalam yang sama, seperti kebebasan, kelimpahan, kebahagiaan, keamanan, atau aktualisasi diri. Selama profesi Anda bermuara pada hal-hal tersebut, saya rasa profesi apa pun tidaklah menjadi soal. Teori Maslow hebat dalam menjelaskan hal itu.

Yang penting, mengutip kata Dhani Irawan (yang selalu jadi panduan saya hingga sekarang), “Nikmatilah!” 

Cinta Ibu


Aku ingin mencintaimu layaknya cinta seorang Ibu
Yang tetap mencintai anaknya dengan sepenuh hati apa pun yang terjadi di antara keduanya
Aku tidak ingin mencintaimu seperti seorang anak
Yang selalu ingin merasa dicintai
Sehingga ketiadaan perasaan itu akhirnya hanyalah bisa membuatnyamenderita

Ainun Chomsun, Kartini Masa Kini


Peringatan Hari Kartini selalu mengingatkan Indonesia akan adanya kesetaraan. Perempuan kelahiran Jepara ini adalah seseorang dari kalangan priyayi yang dengan gigih mendirikan sekolah wanita di beberapa daerah di Indonesia di saat di mana wanita memiliki status sosial yang rendah sehingga tidak dianggap pantas untuk mendapat pendidikan yang layak. Tidak hanya itu, buah pikiran Kartini semasa hidupnya juga dibukukan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini adalah kumpulan surat-surat Kartini pada sahabatnya di Belanda mengenai pemikirannya terhadap kondisi sosial perempuan pribumi. Gugatan dan kritikan dilayangkan pada budaya yang menghambat kemajuan perempuan. Terbitnya buku yang semula berasal dari surat-surat Kartini pada rekannya di Belanda membawa inspirasi bagi masyarakat Indonesia dan dunia mengenai kesetaraan pendidikan. Sebagai seorang yang berjuang dan percaya bahwa perempuan pribumi pantas mendapatkan pendidikan layak di negeri ini, Kartini memang pantas dianugerahi predikat pahlawan nasional Indonesia.


Saya percaya setiap orang memiliki Kartini-nya masing-masing, yaitu para perempuan hebat yang menginspirasi mereka melalui semangatnya dalam memperjuangkan apa yang dianggap benar. Sebagian besar orang, termasuk saya, tentu menganggap bahwa sosok ibu masing-masing adalah Kartini sejati. Ibu adalah simbol dari kasih sayang dan dan tentunya juga simbol atas perjuangan terhadap kesetaraan, bahwa anaknya berhak mendapatkan hidup terbaik melalui aksi-aksi nyatanya yang penuh pengorbanan.


Saya ingin mengenalkan satu buah nama yang saya rasa juga sangat layak disebut Kartini dalam hati Anda selain sosok Ibu. Ialah Ainun Chomsun (@pasarsapi), seorang pejuang kesetaraan pendidikan di Indonesia masa kini. Saya tidak mengenalnya secara personal, tetapi berikut adalah sepak terjangnya dalam membuat pendidikan di Indonesia terasa lebih horisontal untuk semua masyarakat.














Ainun Chomsun adalah pendiri Akademi Berbagi (@akademiberbagi), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen untuk menyebarkan pengetahuan dan pendidikan melalui kelas yang terbuka untuk siapa pun yang ingin mendaftar. Ia adalah ‘kepala sekolah’ dari sebuah tempat belajar untuk semua. Tanpa batasan biaya, tanpa batasan strata. Visi dari Akademi Berbagi seperti yang dikutip dalam situsnya adalah: “Menjadi sebuah wadah pembelajaran, yang menghubungkan orang-orang yang berilmu dan berwawasan dengan orang-orang yang ingin belajar dengan mudah, dan akan ada di setiap kota di seluruh Indonesia.” (www.akademiberbagi.com, 2013)

Akademi Berbagi dilatarbelakangi oleh keadaan sekolah Indonesia masa kini yang semakin berjarak dengan dunia karya (atau sering disebut dunia ‘nyata’). Dengan tembok yang tinggi dan pagar yang tertutup, sekolah seakan hanya untuk kalangan orang yang mampu secara intelektual dan finansial. Tidak lulus seleksi, tidak bisa masuk. Tidak punya uang, jangan bermimpi untuk sekolah tinggi-tinggi. Padahal, selepas mengenyam pendidikan formal, seringkali para lulusan menjadi canggung dengan dunia yang akan dihadapinya karena, simpel saja, tidak terbiasa. Malahan, banyak di antara mereka yang bingung mau menjadi apa setelah lulus. Sudah terlalu banyak cerita mengenai jumlah pengangguran terdidik, atau pun pekerja terdidik yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tepat dengan pekerjaannya. Dengan Akademi Berbagi, setiap orang dari berbagai usia dapat belajar secara gratis melalui para ahli di bidangnya masing-masing. Subyek pelajaran yang diajarkan pun bervariasi, mulai dari ilmu periklanan, fotografi, keuangan, teknologi, dan masih banyak lagi.

Awal mula Akademi Berbagi adalah bulan Juni 2010, yaitu pada saat Ainun memiliki keinginan memperdalam ilmu periklanan dan dengan ‘iseng’ me-mention akun Twitter Bapak Subiakto CEO Hotline Advertising untuk mengajarkan Copywriting. Beliau secara mengejutkan membalas, “Saya mau dengan syarat bisa mengumpulkan 10 orang untuk diajari”. Ainun segera mencari teman belajar melalui Twitter dan berhasil mendapatkan 25 rekan. Sejak saat itu, Ainun semakin rajin menggelar kelas gratis dengan mendatangkan praktisi-praktisi terkenal karena passion-nya bahwa pengetahuan adalah milik semua orang. Akademi Berbagi kemudian dibentuk dengan beberapa volunteer yang membantu Ainun. Nama-nama besar seperti Boediono Darsono, Yoris Sebastian, Clara Ng, Anies Baswedan, Handry Santiago, dan Rene Suhardono dengan senang hati membagikan ilmunya di Akademi Berbagi tanpa dibayar. Kebanyakan pemateri di Akademi Berbagi menganggap bahwa kepuasan dari memberikan manfaat bagi orang lain adalah bayaran yang setimpal.

Saat ini, Akademi Berbagi sudah ada di 36 kota dengan ribuan siswa dan ratusan volunteer dengan latar belakang yang sangat beragam. Berkembangnya internet dan media sosial adalah satu titik tolak penting dalam menjadikan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang. Ainun sendiri mendapatkan berbagai penghargaan berkat komitmennya untuk kesetaraan pendidikan melalui Akademi Berbagi. Salah satunya adalah penghargaan dari Bubu Award sebagai Digital Community Leader pada tahun 2011.

Sosok Ainun Chomsun adalah bukti bahwa semangat RA Kartini untuk menyetarakan pendidikan berkembang begitu pesat berpuluh-puluh tahun setelah ia wafat. Pendidikan sebagai pilar penting bagi kemajuan bangsa patut untuk diperjuangkan masing-masing dari kita dan kontribusi Ainun Chomsun adalah salah satu bagian yang bersejarah bagi perjuangan tersebut.

Menurut saya, saat ini, kita dianugerahi masa yang sangat mendukung kemajuan pendidikan. Internet menjadikan pengetahuan sebagai milik bersama dan dapat diakses siapa pun dan kapan pun. Jika pun belum memiliki waktu dan tenaga untuk kemajuan pendidikan orang lain seperti yang dilakukan Ainun Chomsun, adalah tanggung jawab bagi diri sendiri untuk memiliki pendidikan setinggi-tingginya melalui segala sarana yang dipunya. Bagaimana pun, saya percaya bahwa life is all about learning, then sharing. Jika Anda juga percaya hal ini, lakukanlah... layaknya Kartini dan Ainun.

Selamat Hari Kartini. :)

Living a black and white life

Hidup hitam putih?

Hidup monokrom. Terkotak-kotak. Membosankan. Living in a box. Diam-diam mengecewakan.

Hidup penuh pengandaian. Takut-takut. Malu-malu. Meragu. Dan tidak percaya diri.

Hidup dalam diam. Mempertanyakan hanya di balik resleting. Tidak nyaman dengan diri sendiri. Berharap sebaiknya diri tidak pernah ada di dunia.

Rutinitas yang disesali tetapi tidak berani didobrak.

Hitam putih.

Satu jenis kehidupan yang tidak patut diberi penghidupan. Tak layak berdesakan dalam barisan waktu hidup yang hanya satu kali ini.

Namun, kamu mengalaminya, bukan?

Kamu tahu mana hidup yang benar yang seharusnya pantas kamu jalani, tapi kamu tetap memilih hidup hitam putih?

Para manusia teori, hidup-hidupilah teorimu. 

Beranilah.

Anyway..

Melihat degradasi jumlah postingan blog dari tahun 2011 hingga 2013, bisa dipastikan saya ingin berkomitmen untuk menulis lagi. :)

Bismillah.

Teruntuk sebuah terma


Saya ingin bercerita tentang banyak hal.

Saya bertemu seseorang. Orang pertama yang membuat saya begitu bahagia.

Orang pertama yang membuat saya tersenyum tanpa henti karena membayangkan rasanya menjadi pendampingnya.

Dia orang pertama, yang membuat saya merasa bahwa hidup saya penting artinya untuk orang lain.

Namun, ada begitu banyak kejadian yang membuat saya dan dia sepertinya memiliki jalan yang memang berbeda. Kawan berkata saya terlalu banyak ‘galau’, akhir-akhir ini hanya karena dia sudah tidak bersama saya lagi. Saya rasa saya memang sedang jatuh cinta hingga ketiadaan dirinya membuat saya sering melamun. Jatuh cinta yang membuat saya jatuh.
Hingga ketiadaan saya untuknya membuat saya bersedih hati. Karena saya tak lagi bisa memberi arti untuknya.

Namun, saya percaya, seperti kata Santo Paulus, “Cinta itu selalu sabar dan baik; tidak pernah cemburu; kasar, atau egois; tidak tersinggung dan tidak benci. Cinta tidak mengambil kesenangan dalam kesalahan orang lain tapi senang akan kebenaran; selalu siap untuk memaafkan, untuk percaya, untuk berharap, dan untuk menanggungkan apa pun yang tiba.”

Apakah untuk mencintai kita harus jatuh? Terma jatuh cinta begitu menyebalkan bagi saya, karena keadaan jatuh itu rasa-rasanya tidak pernah membuat gembira.

Love lifts up people’s lives. It is the essence of every human being that evolves in their brain as something that is very essential.

Apakah cinta membuat saya jatuh? Tidak, jika saya ikhlas. Memberi cinta adalah memberi penghidupan pada batin saya. Dan yang terpenting adalah terus memberi. Terus memberi dan memberi. Karena ia sungguh unik. Saat memberi cinta yang ikhlas, yang tak memiliki “keakuan”, yang menganggap diri itu tiada, maka dunia seakan memiliki cara yang indah untuk mengembalikannya secara berkelimpahan pada apa yang kita sebut “diri”.

Saya ingin membangun cinta yang ikhlas dalam batin saya. Tidak hanya untuk seseorang yang saya sebutkan di atas, tapi juga untuk pengemis di depan supermarket, untuk nenek penjual kue pastel di depan rumah, untuk eksekutif muda yang sepersekian detik melewati saya yang sedang membeli jus buah, atau bahkan, untuk semut yang turut menikmati buah pir yang saya kunyah. Untuk semuanya.

Apakah mereka akan membalas cinta saya?

Well, apakah pertanyaan itu penting untuk diajukan?

Saya tahu saya belajar banyak hal. Bahkan dari cinta saya untuk seseorang, yang mungkin bagi banyak orang tidak punya akhir bahagia dan mengasihani saya karenanya. Saya tahu, cerita ini hanyalah awal untuk rasa cinta yang akan saya terima, saya beri, dan saya peluk, yang jauh, jauh, jauh lebih bermakna. :)


*Tulisan random ini dipersembahkan untuk kata dalam kamus KBBI yang bernama "cinta". Tak pernah habis para manusia menguras inspirasi yang datang darinya melalui jutaan karya.

JADI BOS ITU (I’M)POSSIBLE


Sebagai mahasiswa tingkat akhir, gue selalu ikut serta dalam obrolan-obrolan saat ngopi bareng teman-teman. Tema obrolan gak pernah jauh-jauh. Selalu berputar pada, “Setelah lulus lo mau ngapain?” Tema ‘panas’ itu juga akan selalu berujung pada kesimpulan, “Habis lulus ya kerja, dapet gaji, nabung, terus nikah. Amin Yaa Robbal Alamin.” Sejauh ini, cuma gue satu-satunya yang bilang, “Gue mau nerusin berbisnis.” 

Gue gak bilang cari kerja dan jadi karyawan itu pilihan yang buruk. Faktanya, banyak para profesional sukses yang memulai karirnya dari bawah sebagai karyawan, contohnya Hasnul Suhaimi (CEO XL Axiata),  Handry Santiago (CEO General Electric), Emirsyah Satar (CEO Garuda Indonesia), dan lain-lain. Yang gue sayangkan adalah juga banyaknya role model wirausahawan seperti Hendy Setiono (Pemilik Baba Rafi), Bob Sadino (Pemilik Kem Chicks), atau Nina Nikicio (Pemilik clothing line Nikicio) masih belum mampu memberi wake up call bagi teman-teman gue untuk sekadar mempertimbangkan profesi entrepreneur dan jadi bos di usia muda sebagai pilihan karir mereka.

Saat gue tanya kenapa pilih kerja daripada bisnis, ternyata alasan-alasan yang dikemukakan hampir mirip. Ini adalah alasan-alasan paling standar yang teman-teman gue kemukakan.

Alasan #1: “Bisnis itu beresiko banget, Bro. Beda dengan jadi karyawan yang tiap bulan digaji, dapet tunjangan, jamsostek, dan asuransi.”
Gue setuju. Berbisnis itu punya resiko-resiko, antara lain gak punya gaji tetap, bisa ditipu partner bisnis, bisa bangkrut, dan gak bisa bayar hutang. Tapi menurut gue, jadi karyawan juga penuh resiko. Kalau jadi karyawan, gaji memang bakal masuk ke rekening tiap awal bulan, tapi gimana kalau perusahaan tiba-tiba bangkrut? Gimana kalau ada orang baru yang lebih kompeten sehingga kita harus turun jabatan? Gimana kalau kita tiba-tiba di-PHK karena kondisi perusahaan sedang susah? Gak ada yang tahu kapan kita akan pensiun atau dipensiunkan. Siapa yang tahu ternyata di tengah jalan, kita, karyawan yang dulunya cemerlang udah gak dianggap bernilai lagi bagi perusahaan, sehingga harus pensiun dini.

Resiko sebagai karyawan juga akan datang dari terbatasnya waktu. Riset menunjukkan bahwa semakin tinggi jabatan dan gaji, karyawan akan semakin sibuk. Bagaimana dengan waktu untuk orang-orang yang kita sayangi? Sering kita melupakan bahwa Bapak, Ibu, saudara-saudara, calon suami,  atau calon istri juga adalah prioritas. Sering, pengejaran achievement terlalu terlihat indah sehingga waktu gak pernah diluangkan untuk orang-orang yang banyak berjasa dan berarti bagi hidup kita. Menjadi entrepreneur adalah mengejar kebebasan, Sob. Bebas dari segi waktu dan juga bebasdari segi finansial.

Tiap jalan yang dipilih, baik jadi karyawan maupun jadi entrepreneur sama-sama punya resiko. Yang perlu digarisbawahi adalah gimana kemampuan kita mengelola resiko sehingga justru resiko bisa menjadi opportunity untuk tumbuh.  

Alasan #2: “Gue gak ada bakat bisnis, Sob. Dipaksain juga percuma.”
Gue rajin baca majalah wirausaha dan gak pernah ada entrepreneur yang mengaku mereka sukses gara-gara bakat. Gak ada satu pun, Sob! Wirausaha cuma masalah kebiasaan. Kayak kebiasaan bangun kesiangan. Mirip kebiasaan sikat gigi sebelum tidur. Dan exactly kayak kebiasaan lo ngerjain tugas di kala deadline. And what makes habit becomes a habit is persistence. Ketahanan untuk berjuang. Gue gak bilang jadi bos itu mudah. Tapi semakin banyak ‘jam terbang’ kita berbisnis, insting entrepreneur akan diperoleh secara alami. 

Alasan #3: “Gengsi lah. Masa sarjana jualan ayam bakar?!”
 Gak pernah gue baca di kitab kalau berjualan ayam bakar merupakan sebuah dosa. A. Pramono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, punya omset ratusan juta rupiah per bulan dari outlet warung ayam bakarnya. Gak cuma ayam bakar, berdagang apa pun, kata Rasulullah, justru merupakan salah satu pembuka pintu keajaiban rezeki. Deepak Chopra, spiritualis modern, mengatakan, “Our purpose of life is to give and to contribute to the world.” Menjadi wirausahawan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkannya sehingga bisa memberi manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain, Sob. Hidup kita juga menjadi lebih berarti.

 Always remember that at the first step, people will always judge you as an underdog. ketahanan kita untuk terus percaya sama jalan yang dipilihlah yang menentukan kita bisa sukses apa nggak.

Alasan #4: “Gue masih kurang persiapan. Harus banyak riset pasar, riset kompetitor, riset feasibility bisnis, bikin business plan, bikin A, B, C…”
              The secret that lies behind entrepreneurship is as simple as Nike’s quote: “Just Do It”. Rencana itu penting, but overplanned will only makes you paranoid. Gimana kita tahu bisnis itu bisa sukses apa nggak kalau kita gak pernah mulai? Bisnis sampai bisa menghasilkan uang butuh waktu dan ketekunan, seperti ngerjain skripsi. Butuh dorongan yang kuat untuk mulai baca referensi untuk skripsi, mengetik di laptop, atau ketemu dosen pembimbing. Tapi kalau kita gak pernah mulai dan terlalu sibuk memikirkan judul skripsi apa yang paling sempurna, kita gak akan pernah mulai. Ujungnya, kita juga gak akan pernah lulus kuliah, Sob! Bisnis juga harus nyemplung untuk tahu. Tapi jangan ditunda, karena menunda adalah sinonim dari kegagalan.

            Gue juga sering denger istilah “cocktail people”. Cocktail people adalah orang-orang yang terinspirasi kesuksesan orang lain tapi gak pernah melakukan aksi nyata untuk kesuksesan hidupnya sendiri. Harvard Business Review melakukan penelitian pada 30 profesional dengan pertanyaan, “Apa yang akan Anda lakukan pada karir Anda jika dapat memutar waktu kembali di awal karir?”  70% profesional menjawab, “Saya harap saya cukup percaya diri untuk bisa memulai bisnis.”. Salah satu profesional mengaku, “My biggest regret is that I’m a ‘wantrepreneur’. I never got to prove myself by starting something from the scratch.”

            Betapa beruntungnya kita dianugrahi masa muda, Sob. Jadi anak muda yang masih single dan belum punya tanggungan kalau pun gagal wirausaha masih bisa ditoleransi, karena orang menghargai proses trial and error. Semakin tambah umur, semakin banyak tanggungannya. Dampaknya, kita akan semakin sulit memutuskan untuk berwirausaha. Selain itu anak muda dikenal tahan banting, seperti kata Dahlan Iskan, Menteri BUMN,  “Anak muda bisa tidak tidur dua hari dua malam mengejar ambisinya. Kalau saya bisa masuk angin,"

Hidup cuma sekali, Sob. Kita gak pernah tau kapan kita mati. Maka dari itu, coba tanya diri sendiri, “Kalau besok gue mati, apa gue mau ngelakuin apa yang akan gue lakuin sekarang? Maukah gue menghabiskan waktu, usaha, dan tenaga gue untuk membesarkan bisnis orang lain?”

Winning Article for Yellow Pages "Semangat Berbisnis" Competition (http://semangatberbisnis.com)