JADI BOS ITU (I’M)POSSIBLE


Sebagai mahasiswa tingkat akhir, gue selalu ikut serta dalam obrolan-obrolan saat ngopi bareng teman-teman. Tema obrolan gak pernah jauh-jauh. Selalu berputar pada, “Setelah lulus lo mau ngapain?” Tema ‘panas’ itu juga akan selalu berujung pada kesimpulan, “Habis lulus ya kerja, dapet gaji, nabung, terus nikah. Amin Yaa Robbal Alamin.” Sejauh ini, cuma gue satu-satunya yang bilang, “Gue mau nerusin berbisnis.” 

Gue gak bilang cari kerja dan jadi karyawan itu pilihan yang buruk. Faktanya, banyak para profesional sukses yang memulai karirnya dari bawah sebagai karyawan, contohnya Hasnul Suhaimi (CEO XL Axiata),  Handry Santiago (CEO General Electric), Emirsyah Satar (CEO Garuda Indonesia), dan lain-lain. Yang gue sayangkan adalah juga banyaknya role model wirausahawan seperti Hendy Setiono (Pemilik Baba Rafi), Bob Sadino (Pemilik Kem Chicks), atau Nina Nikicio (Pemilik clothing line Nikicio) masih belum mampu memberi wake up call bagi teman-teman gue untuk sekadar mempertimbangkan profesi entrepreneur dan jadi bos di usia muda sebagai pilihan karir mereka.

Saat gue tanya kenapa pilih kerja daripada bisnis, ternyata alasan-alasan yang dikemukakan hampir mirip. Ini adalah alasan-alasan paling standar yang teman-teman gue kemukakan.

Alasan #1: “Bisnis itu beresiko banget, Bro. Beda dengan jadi karyawan yang tiap bulan digaji, dapet tunjangan, jamsostek, dan asuransi.”
Gue setuju. Berbisnis itu punya resiko-resiko, antara lain gak punya gaji tetap, bisa ditipu partner bisnis, bisa bangkrut, dan gak bisa bayar hutang. Tapi menurut gue, jadi karyawan juga penuh resiko. Kalau jadi karyawan, gaji memang bakal masuk ke rekening tiap awal bulan, tapi gimana kalau perusahaan tiba-tiba bangkrut? Gimana kalau ada orang baru yang lebih kompeten sehingga kita harus turun jabatan? Gimana kalau kita tiba-tiba di-PHK karena kondisi perusahaan sedang susah? Gak ada yang tahu kapan kita akan pensiun atau dipensiunkan. Siapa yang tahu ternyata di tengah jalan, kita, karyawan yang dulunya cemerlang udah gak dianggap bernilai lagi bagi perusahaan, sehingga harus pensiun dini.

Resiko sebagai karyawan juga akan datang dari terbatasnya waktu. Riset menunjukkan bahwa semakin tinggi jabatan dan gaji, karyawan akan semakin sibuk. Bagaimana dengan waktu untuk orang-orang yang kita sayangi? Sering kita melupakan bahwa Bapak, Ibu, saudara-saudara, calon suami,  atau calon istri juga adalah prioritas. Sering, pengejaran achievement terlalu terlihat indah sehingga waktu gak pernah diluangkan untuk orang-orang yang banyak berjasa dan berarti bagi hidup kita. Menjadi entrepreneur adalah mengejar kebebasan, Sob. Bebas dari segi waktu dan juga bebasdari segi finansial.

Tiap jalan yang dipilih, baik jadi karyawan maupun jadi entrepreneur sama-sama punya resiko. Yang perlu digarisbawahi adalah gimana kemampuan kita mengelola resiko sehingga justru resiko bisa menjadi opportunity untuk tumbuh.  

Alasan #2: “Gue gak ada bakat bisnis, Sob. Dipaksain juga percuma.”
Gue rajin baca majalah wirausaha dan gak pernah ada entrepreneur yang mengaku mereka sukses gara-gara bakat. Gak ada satu pun, Sob! Wirausaha cuma masalah kebiasaan. Kayak kebiasaan bangun kesiangan. Mirip kebiasaan sikat gigi sebelum tidur. Dan exactly kayak kebiasaan lo ngerjain tugas di kala deadline. And what makes habit becomes a habit is persistence. Ketahanan untuk berjuang. Gue gak bilang jadi bos itu mudah. Tapi semakin banyak ‘jam terbang’ kita berbisnis, insting entrepreneur akan diperoleh secara alami. 

Alasan #3: “Gengsi lah. Masa sarjana jualan ayam bakar?!”
 Gak pernah gue baca di kitab kalau berjualan ayam bakar merupakan sebuah dosa. A. Pramono, pemilik Ayam Bakar Mas Mono, punya omset ratusan juta rupiah per bulan dari outlet warung ayam bakarnya. Gak cuma ayam bakar, berdagang apa pun, kata Rasulullah, justru merupakan salah satu pembuka pintu keajaiban rezeki. Deepak Chopra, spiritualis modern, mengatakan, “Our purpose of life is to give and to contribute to the world.” Menjadi wirausahawan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkannya sehingga bisa memberi manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain, Sob. Hidup kita juga menjadi lebih berarti.

 Always remember that at the first step, people will always judge you as an underdog. ketahanan kita untuk terus percaya sama jalan yang dipilihlah yang menentukan kita bisa sukses apa nggak.

Alasan #4: “Gue masih kurang persiapan. Harus banyak riset pasar, riset kompetitor, riset feasibility bisnis, bikin business plan, bikin A, B, C…”
              The secret that lies behind entrepreneurship is as simple as Nike’s quote: “Just Do It”. Rencana itu penting, but overplanned will only makes you paranoid. Gimana kita tahu bisnis itu bisa sukses apa nggak kalau kita gak pernah mulai? Bisnis sampai bisa menghasilkan uang butuh waktu dan ketekunan, seperti ngerjain skripsi. Butuh dorongan yang kuat untuk mulai baca referensi untuk skripsi, mengetik di laptop, atau ketemu dosen pembimbing. Tapi kalau kita gak pernah mulai dan terlalu sibuk memikirkan judul skripsi apa yang paling sempurna, kita gak akan pernah mulai. Ujungnya, kita juga gak akan pernah lulus kuliah, Sob! Bisnis juga harus nyemplung untuk tahu. Tapi jangan ditunda, karena menunda adalah sinonim dari kegagalan.

            Gue juga sering denger istilah “cocktail people”. Cocktail people adalah orang-orang yang terinspirasi kesuksesan orang lain tapi gak pernah melakukan aksi nyata untuk kesuksesan hidupnya sendiri. Harvard Business Review melakukan penelitian pada 30 profesional dengan pertanyaan, “Apa yang akan Anda lakukan pada karir Anda jika dapat memutar waktu kembali di awal karir?”  70% profesional menjawab, “Saya harap saya cukup percaya diri untuk bisa memulai bisnis.”. Salah satu profesional mengaku, “My biggest regret is that I’m a ‘wantrepreneur’. I never got to prove myself by starting something from the scratch.”

            Betapa beruntungnya kita dianugrahi masa muda, Sob. Jadi anak muda yang masih single dan belum punya tanggungan kalau pun gagal wirausaha masih bisa ditoleransi, karena orang menghargai proses trial and error. Semakin tambah umur, semakin banyak tanggungannya. Dampaknya, kita akan semakin sulit memutuskan untuk berwirausaha. Selain itu anak muda dikenal tahan banting, seperti kata Dahlan Iskan, Menteri BUMN,  “Anak muda bisa tidak tidur dua hari dua malam mengejar ambisinya. Kalau saya bisa masuk angin,"

Hidup cuma sekali, Sob. Kita gak pernah tau kapan kita mati. Maka dari itu, coba tanya diri sendiri, “Kalau besok gue mati, apa gue mau ngelakuin apa yang akan gue lakuin sekarang? Maukah gue menghabiskan waktu, usaha, dan tenaga gue untuk membesarkan bisnis orang lain?”

Winning Article for Yellow Pages "Semangat Berbisnis" Competition (http://semangatberbisnis.com)