Love what you do or do what you love?


Disclaimer: Beberapa percakapan dalam tanda kutip tidak persis sesuai kata-katanya, karena saya lupa-lupa ingat dan juga percakapannya ada yang pakai bahasa Jawa. Tapi intinya insya Allah sama, kok. :)

Beberapa hari yang lalu saya bertemu kawan SMA di kafe dan terlibat dalam pembicaraan cukup menarik. Tentang mau jadi apa kita ke depan. Ini adalah pembicaraan khas fresh graduate dan mahasiswa tingkat akhir. Siapa sih anak umur 20-an yang gak membicarakan ini? :)

Saya berkata, “Aku mau kerja apa aja, yang penting halal.” Lalu tatapan teman saya kemudian menjadi aneh. Well, that’s the truth. Saya memang mau kerja apa saja di Jakarta asalkan halal dan sesuai dengan tingkat gaji yang saya inginkan.

Teman saya tidak setuju dengan saya. Mungkin karena dia tahu saya tipe pemimpi, ia berkata, “Omku kerja di Bank bertahun-tahun dan menyesal.”

Teman saya sendiri (yang saat ini sedang menyusun skripsi) punya rencana yang berbeda. Ia ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari pekerjaan yang ia sukai, lalu mengejar impiannya untuk profesi yang sangat ia idam-idamkan. Dalam bayangan saya, sepertinya ia akan bekerja di perusahaan Event organizer (karena ia suka organize acara), tapi sebenarnya pekerjaan itu adalah milestone-nya untuk jadi.. entahlah. Mungkin musisi. Dia ngga mau bilang, sih. :)

Saya bilang, “Itu bagus. Lanjutkan aja.” Tapi ia tetap tidak setuju dengan rencana yang saya miliki. Lalu saya berkata, “Katamu hidup itu seperti kereta, kan? Kita ada dalam kereta masing-masing, dengan jalur yang berbeda-beda dan jalur itu ternyata mengantarkan kita pada destinasi yang menjadi jauh berbeda. Aku tetap seperti ini, kamu tetap seperti itu. Kita lihat nanti, bagaimana tujuan akhir kita.”

Kita pulang ke rumah masing-masing dan perdebatan itu masih ada dalam kepala saya.
Saya rasa, this is all about passion.

Dalam postingan saya sebelumnya, saya berkata bahwa saat ini setiap orang selalu bilang passion, passion, passion. Ikuti kata hati, ikuti lentera hati. Maka kamu akan sukses dan berkarya secara luar biasa.

Ada banyak sekali contoh orang-orang yang berani mengikuti passion-nya. Wahyu Aditya, Diana Rikasari, Sonia Eryka Moe, Mas Erwin Parengkuan, dan lain-lain. Yes, they are succeed in what they love. The do what they love.

Namun saya pikir, jika itu satu-satunya jalan untuk menjadi bahagia dan sukses, ngga juga.
Mana ada orang muda seperti saya (dan mungkin Anda) yang berkata, “Kebab adalah passion saya”. Tapi pemilik Kebab Baba Rafi bisa sukses menjadi entrepreneur kebab di Asia Pasifik.
“Resleting adalah passion saya…” Saya jamin ngga akan ada. Tapi lihatlah YKK, perusahaan resleting nomor satu di dunia yang bisa besar hanya dari jualan resleting.

Saya rasa, jika semua orang ingin mengejar passion-nya, kebanyakan orang ingin berprofesi sebagai musisi, tukang gambar, guru TK, pekerja seni, pekerja film, artis, traveler, arsitek, fotografer dan profesi-profesi impian banyak orang.

Gimana dengan profesi HRD, sales, technical manager, bankir, sekretaris, PNS, administrator dan profesi-profesi lain yang tampaknya, “What the hell, I don’t care” dan “It’s so boring”? Walaupun tampak boring dan tidak sesuai dengan passion yang dimiliki, admit it, pekerjaan-pekerjaan itu dibutuhkan dan selalu ada pengisinya dalam dunia kerja.

Mungkin karena itu, Tuhan juga menciptakan, “Love what you do” dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Saya pikir, perdebatan saya dan teman saya tidak akan ada habisnya, karena tidak ada yang salah.

Saya memilih jalan mencari profesi yang nantinya akan saya sukai dan berkontribusi di bidang itu. I will “love what you do”, first. Iya sih, saya memang juga akan picky sama pekerjaan saya, tapi pemilihan itu berdasarkan beberapa kriteria yang tidak banyak hubungannya dengan passion saya. Namun, saya juga “do what you love”, bukan dalam bentuk profesi, tapi dalam bentuk hobi. Saya suka musik, menyanyi, dan fashion. Saya pribadi, tidak berkeinginan punya profesi sebagai violinist atau designer, karena simply saya ngga mau main biola atau beli baju unik sambil mikirin duit.

Teman saya memilih untuk “do what you love”, first. Dan itu sangat bagus, karena ia tidak perlu banyak adaptasi dan akan total mengerjakan hal yang ia sukai. Dan dengan visinya yang sudah ia bangun selagi muda, ia adalah the next raising star.

Kedua jalan tersebut telah terbukti mendatangkan pemenuhan jiwa dan pemenuhan materi. Selama tidak melanggar etika, moral, dan kata hati, saya rasa keduanya akan menjadi jalur berbeda tetapi sama-sama menantang dan menyenangkan. Amen for that. :p

One more thing, you can see the word ‘passion’ as a concept or as a tool. Maksud saya, jika Anda melihat passion sebagai tool, maka hal itu akan menjadi sangat spesifik, dan menjurus pada profesi, contohnya: Biker, Skateboarder, Football player. Namun jika Anda melihat passion sebagai konsep, maka hal itu menjadi sangat luas, contohnya: “Passion saya adalah membuat hidup orang lebih berarti melalui pengajaran yang diberikan”, maka mau jadi tukang sampah pun, sudah bisa memuaskan passion Anda selama Anda memberikan pengajaran cara distribusi sampah pada tukang-tukang sampah junior.

Saya rasa, setiap orang memang punya jalur yang berbeda-beda, tetapi bermuara pada beberapa keinginan terdalam yang sama, seperti kebebasan, kelimpahan, kebahagiaan, keamanan, atau aktualisasi diri. Selama profesi Anda bermuara pada hal-hal tersebut, saya rasa profesi apa pun tidaklah menjadi soal. Teori Maslow hebat dalam menjelaskan hal itu.

Yang penting, mengutip kata Dhani Irawan (yang selalu jadi panduan saya hingga sekarang), “Nikmatilah!” 

Cinta Ibu


Aku ingin mencintaimu layaknya cinta seorang Ibu
Yang tetap mencintai anaknya dengan sepenuh hati apa pun yang terjadi di antara keduanya
Aku tidak ingin mencintaimu seperti seorang anak
Yang selalu ingin merasa dicintai
Sehingga ketiadaan perasaan itu akhirnya hanyalah bisa membuatnyamenderita

Ainun Chomsun, Kartini Masa Kini


Peringatan Hari Kartini selalu mengingatkan Indonesia akan adanya kesetaraan. Perempuan kelahiran Jepara ini adalah seseorang dari kalangan priyayi yang dengan gigih mendirikan sekolah wanita di beberapa daerah di Indonesia di saat di mana wanita memiliki status sosial yang rendah sehingga tidak dianggap pantas untuk mendapat pendidikan yang layak. Tidak hanya itu, buah pikiran Kartini semasa hidupnya juga dibukukan dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini adalah kumpulan surat-surat Kartini pada sahabatnya di Belanda mengenai pemikirannya terhadap kondisi sosial perempuan pribumi. Gugatan dan kritikan dilayangkan pada budaya yang menghambat kemajuan perempuan. Terbitnya buku yang semula berasal dari surat-surat Kartini pada rekannya di Belanda membawa inspirasi bagi masyarakat Indonesia dan dunia mengenai kesetaraan pendidikan. Sebagai seorang yang berjuang dan percaya bahwa perempuan pribumi pantas mendapatkan pendidikan layak di negeri ini, Kartini memang pantas dianugerahi predikat pahlawan nasional Indonesia.


Saya percaya setiap orang memiliki Kartini-nya masing-masing, yaitu para perempuan hebat yang menginspirasi mereka melalui semangatnya dalam memperjuangkan apa yang dianggap benar. Sebagian besar orang, termasuk saya, tentu menganggap bahwa sosok ibu masing-masing adalah Kartini sejati. Ibu adalah simbol dari kasih sayang dan dan tentunya juga simbol atas perjuangan terhadap kesetaraan, bahwa anaknya berhak mendapatkan hidup terbaik melalui aksi-aksi nyatanya yang penuh pengorbanan.


Saya ingin mengenalkan satu buah nama yang saya rasa juga sangat layak disebut Kartini dalam hati Anda selain sosok Ibu. Ialah Ainun Chomsun (@pasarsapi), seorang pejuang kesetaraan pendidikan di Indonesia masa kini. Saya tidak mengenalnya secara personal, tetapi berikut adalah sepak terjangnya dalam membuat pendidikan di Indonesia terasa lebih horisontal untuk semua masyarakat.














Ainun Chomsun adalah pendiri Akademi Berbagi (@akademiberbagi), sebuah organisasi nirlaba yang berkomitmen untuk menyebarkan pengetahuan dan pendidikan melalui kelas yang terbuka untuk siapa pun yang ingin mendaftar. Ia adalah ‘kepala sekolah’ dari sebuah tempat belajar untuk semua. Tanpa batasan biaya, tanpa batasan strata. Visi dari Akademi Berbagi seperti yang dikutip dalam situsnya adalah: “Menjadi sebuah wadah pembelajaran, yang menghubungkan orang-orang yang berilmu dan berwawasan dengan orang-orang yang ingin belajar dengan mudah, dan akan ada di setiap kota di seluruh Indonesia.” (www.akademiberbagi.com, 2013)

Akademi Berbagi dilatarbelakangi oleh keadaan sekolah Indonesia masa kini yang semakin berjarak dengan dunia karya (atau sering disebut dunia ‘nyata’). Dengan tembok yang tinggi dan pagar yang tertutup, sekolah seakan hanya untuk kalangan orang yang mampu secara intelektual dan finansial. Tidak lulus seleksi, tidak bisa masuk. Tidak punya uang, jangan bermimpi untuk sekolah tinggi-tinggi. Padahal, selepas mengenyam pendidikan formal, seringkali para lulusan menjadi canggung dengan dunia yang akan dihadapinya karena, simpel saja, tidak terbiasa. Malahan, banyak di antara mereka yang bingung mau menjadi apa setelah lulus. Sudah terlalu banyak cerita mengenai jumlah pengangguran terdidik, atau pun pekerja terdidik yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tepat dengan pekerjaannya. Dengan Akademi Berbagi, setiap orang dari berbagai usia dapat belajar secara gratis melalui para ahli di bidangnya masing-masing. Subyek pelajaran yang diajarkan pun bervariasi, mulai dari ilmu periklanan, fotografi, keuangan, teknologi, dan masih banyak lagi.

Awal mula Akademi Berbagi adalah bulan Juni 2010, yaitu pada saat Ainun memiliki keinginan memperdalam ilmu periklanan dan dengan ‘iseng’ me-mention akun Twitter Bapak Subiakto CEO Hotline Advertising untuk mengajarkan Copywriting. Beliau secara mengejutkan membalas, “Saya mau dengan syarat bisa mengumpulkan 10 orang untuk diajari”. Ainun segera mencari teman belajar melalui Twitter dan berhasil mendapatkan 25 rekan. Sejak saat itu, Ainun semakin rajin menggelar kelas gratis dengan mendatangkan praktisi-praktisi terkenal karena passion-nya bahwa pengetahuan adalah milik semua orang. Akademi Berbagi kemudian dibentuk dengan beberapa volunteer yang membantu Ainun. Nama-nama besar seperti Boediono Darsono, Yoris Sebastian, Clara Ng, Anies Baswedan, Handry Santiago, dan Rene Suhardono dengan senang hati membagikan ilmunya di Akademi Berbagi tanpa dibayar. Kebanyakan pemateri di Akademi Berbagi menganggap bahwa kepuasan dari memberikan manfaat bagi orang lain adalah bayaran yang setimpal.

Saat ini, Akademi Berbagi sudah ada di 36 kota dengan ribuan siswa dan ratusan volunteer dengan latar belakang yang sangat beragam. Berkembangnya internet dan media sosial adalah satu titik tolak penting dalam menjadikan Akademi Berbagi menjadi sebesar sekarang. Ainun sendiri mendapatkan berbagai penghargaan berkat komitmennya untuk kesetaraan pendidikan melalui Akademi Berbagi. Salah satunya adalah penghargaan dari Bubu Award sebagai Digital Community Leader pada tahun 2011.

Sosok Ainun Chomsun adalah bukti bahwa semangat RA Kartini untuk menyetarakan pendidikan berkembang begitu pesat berpuluh-puluh tahun setelah ia wafat. Pendidikan sebagai pilar penting bagi kemajuan bangsa patut untuk diperjuangkan masing-masing dari kita dan kontribusi Ainun Chomsun adalah salah satu bagian yang bersejarah bagi perjuangan tersebut.

Menurut saya, saat ini, kita dianugerahi masa yang sangat mendukung kemajuan pendidikan. Internet menjadikan pengetahuan sebagai milik bersama dan dapat diakses siapa pun dan kapan pun. Jika pun belum memiliki waktu dan tenaga untuk kemajuan pendidikan orang lain seperti yang dilakukan Ainun Chomsun, adalah tanggung jawab bagi diri sendiri untuk memiliki pendidikan setinggi-tingginya melalui segala sarana yang dipunya. Bagaimana pun, saya percaya bahwa life is all about learning, then sharing. Jika Anda juga percaya hal ini, lakukanlah... layaknya Kartini dan Ainun.

Selamat Hari Kartini. :)

Living a black and white life

Hidup hitam putih?

Hidup monokrom. Terkotak-kotak. Membosankan. Living in a box. Diam-diam mengecewakan.

Hidup penuh pengandaian. Takut-takut. Malu-malu. Meragu. Dan tidak percaya diri.

Hidup dalam diam. Mempertanyakan hanya di balik resleting. Tidak nyaman dengan diri sendiri. Berharap sebaiknya diri tidak pernah ada di dunia.

Rutinitas yang disesali tetapi tidak berani didobrak.

Hitam putih.

Satu jenis kehidupan yang tidak patut diberi penghidupan. Tak layak berdesakan dalam barisan waktu hidup yang hanya satu kali ini.

Namun, kamu mengalaminya, bukan?

Kamu tahu mana hidup yang benar yang seharusnya pantas kamu jalani, tapi kamu tetap memilih hidup hitam putih?

Para manusia teori, hidup-hidupilah teorimu. 

Beranilah.

Anyway..

Melihat degradasi jumlah postingan blog dari tahun 2011 hingga 2013, bisa dipastikan saya ingin berkomitmen untuk menulis lagi. :)

Bismillah.

Teruntuk sebuah terma


Saya ingin bercerita tentang banyak hal.

Saya bertemu seseorang. Orang pertama yang membuat saya begitu bahagia.

Orang pertama yang membuat saya tersenyum tanpa henti karena membayangkan rasanya menjadi pendampingnya.

Dia orang pertama, yang membuat saya merasa bahwa hidup saya penting artinya untuk orang lain.

Namun, ada begitu banyak kejadian yang membuat saya dan dia sepertinya memiliki jalan yang memang berbeda. Kawan berkata saya terlalu banyak ‘galau’, akhir-akhir ini hanya karena dia sudah tidak bersama saya lagi. Saya rasa saya memang sedang jatuh cinta hingga ketiadaan dirinya membuat saya sering melamun. Jatuh cinta yang membuat saya jatuh.
Hingga ketiadaan saya untuknya membuat saya bersedih hati. Karena saya tak lagi bisa memberi arti untuknya.

Namun, saya percaya, seperti kata Santo Paulus, “Cinta itu selalu sabar dan baik; tidak pernah cemburu; kasar, atau egois; tidak tersinggung dan tidak benci. Cinta tidak mengambil kesenangan dalam kesalahan orang lain tapi senang akan kebenaran; selalu siap untuk memaafkan, untuk percaya, untuk berharap, dan untuk menanggungkan apa pun yang tiba.”

Apakah untuk mencintai kita harus jatuh? Terma jatuh cinta begitu menyebalkan bagi saya, karena keadaan jatuh itu rasa-rasanya tidak pernah membuat gembira.

Love lifts up people’s lives. It is the essence of every human being that evolves in their brain as something that is very essential.

Apakah cinta membuat saya jatuh? Tidak, jika saya ikhlas. Memberi cinta adalah memberi penghidupan pada batin saya. Dan yang terpenting adalah terus memberi. Terus memberi dan memberi. Karena ia sungguh unik. Saat memberi cinta yang ikhlas, yang tak memiliki “keakuan”, yang menganggap diri itu tiada, maka dunia seakan memiliki cara yang indah untuk mengembalikannya secara berkelimpahan pada apa yang kita sebut “diri”.

Saya ingin membangun cinta yang ikhlas dalam batin saya. Tidak hanya untuk seseorang yang saya sebutkan di atas, tapi juga untuk pengemis di depan supermarket, untuk nenek penjual kue pastel di depan rumah, untuk eksekutif muda yang sepersekian detik melewati saya yang sedang membeli jus buah, atau bahkan, untuk semut yang turut menikmati buah pir yang saya kunyah. Untuk semuanya.

Apakah mereka akan membalas cinta saya?

Well, apakah pertanyaan itu penting untuk diajukan?

Saya tahu saya belajar banyak hal. Bahkan dari cinta saya untuk seseorang, yang mungkin bagi banyak orang tidak punya akhir bahagia dan mengasihani saya karenanya. Saya tahu, cerita ini hanyalah awal untuk rasa cinta yang akan saya terima, saya beri, dan saya peluk, yang jauh, jauh, jauh lebih bermakna. :)


*Tulisan random ini dipersembahkan untuk kata dalam kamus KBBI yang bernama "cinta". Tak pernah habis para manusia menguras inspirasi yang datang darinya melalui jutaan karya.