Melepaskan

Melepaskan itu kata yang simpel tapi luar biasa berat.

Melepaskan adalah isu yang saya miliki selama belasan tahun, dan baru saya sadari sekarang kalau saya memilikinya.

Apa yang terjadi kalau kita melepas baju? Telanjang.

Begitulah rasanya melepaskan diri dari pikiran dan keinginan. Telanjang.

Selama bertahun-tahun saya ingin menjadi Irviene yang lain karena tidak puas dengan Irviene saat ini.

Saya ingin jadi lebih cantik.
Lebih cerdas.
Punya bakat yang cemerlang.
Lebih baik hati.
Lebih disukai.
Lebih langsing.
Lebih percaya diri.
Punya lebih banyak prestasi.
Lebih tidak suka bengong.
Dan banyak lagi.

Saya menyadari bahwa saya penuh dengan kekurangan, karenanya keinginan itu tidak bisa saya lepaskan. Malah daftarnya semakin panjang.

Hari ini saya menyadari, berkat cerita seorang kawan. Ia menikah dengan orang yang mencintainya apa adanya. Dan menurut testimoninya, setelah menikah rasanya sangat bahagia. Ia yang berwatak keras tapi tidak mau jadi dominan menemukan sosok yang langka: Tidak keras tapi dominan. Kecocokan karakteristik itu yang menurut saya membuat mereka bisa saling menerima. Dan akhirnya membebaskan dan membahagiakan. Penerimaan itu membahagiakan.

Saya banyak membaca mengenai hal ini, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda tapi memiliki satu keinginan yang sama: Ingin menjadi diri sendiri yang utuh dan jujur. "Aku melihat diriku di matamu" adalah hal yang krusial pada pernikahan. Dengan menjadi apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, kemunafikan, atau kebohongan. Menjadi rentan di hadapan pasangan menjadi hal yang lumrah, karena kita tidak harus menjadi sesuatu yang bukan kita di hadapan orang yang menerima diri kita apa adanya.

Jika saya melihat pada diri saya sendiri, saya kemudian bertanya: Apa teori itu bisa digunakan tanpa pasangan/kekasih?

Saya jawab: Harus.

Tuhan beri kita masing-masing pengalaman dan DNA yang sama sekali berbeda. Hal itu menyebabkan wajah, bentuk tubuh, dan sifat yang sama sekali berbeda juga. Sering keberbedaan itu membuat kita berkeinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik dari hidup yang saat ini dijalani. Hidup orang lain yang tampaknya lebih-lebih-lebih bersinar.

Yang lebih sukses, yang lebih bahagia, yang lebih kaya.

Saya pun seperti itu, walaupun saya tidak secara spesifik mendambakan hidup seperti milik orang yang saya kagumi, tapi saya ingin "lebih". 

Keinginan ini tanpa saya sadari memenjarakan saya.  Membuat saya merasa, "Aku tidak bahagia kalau aku segini segini saja."

Cerita teman saya menyadarkan bahwa menerima diri yang tidak sempurna adalah pengertian dari mencintai diri sendiri. Bahwa tidak apa-apa menjadi seorang Irviene yang tidak cantik, belum menemukan bakatnya, tidak begitu prestatif, dan sering bengong kalau mendengarkan pelajaran. 

Kita berusaha memperbaiki kekurangan diri sendiri, tapi juga menerima ketidaksempurnaan yang ada. Persis seperti pasangan suami-istri.

Hubungan kita dengan diri sendiri juga patut diberi perhatian berporsi besar. 

Sudahkah kamu berdamai dengan dirimu sendiri?

Menjadi Wanita

Malam ini menulis di blog tidak termasuk dalam daftar prioritas saya, tetapi saya tergelitik untuk menulis tentang topik wanita.

You can't choose life, you live one. Saya tidak memilih untuk menjadi bagian dari wanita Indonesia, but here I am. Mingling with complexity in the new generation of Indonesia.

Jika saya disuruh menilai, lebih mudah mana menjadi wanita atau laki-laki... sepertinya saya pilih abstain. Saya sudah berpengalaman selama 22 tahun menjadi wanita dan itu tidak mudah. Namun, saya juga mengerti bahwa menjadi laki-laki sama tidak mudahnya, dengan tantangan yang sama sekali berbeda.

Pertama, wanita itu indah. Physically. Yang saya mau sampaikan adalah bahwa keindahan wanita secara fisik sering menjadi bumerang bagi dirinya. Sudah kodratnya menjadi indah menjadi tantangan tersendiri. Punya tubuh seksi atau gendut, bagi saya sama saja penderitaannya. Tubuh seksi harus ditutupi sedemikian rupa untuk menghindari munculnya nafsu dari lawan jenis (which has a bad effect for us). Secara baju-iah, I can say bluntly bahwa hidup wanita jauh-jauh-jauh lebih ribet daripada pria. Punya tubuh gendut pun harus berkutat dengan penilaian-penilaian orang yang negatif. Selain itu, wanita yang memiliki berat badan di atas rata-rata seringkali dianggap tidak menarik dan memiliki kesempatan yang lebih sedikit daripada wanita lain yang standar tubuhnya mendekati barbie

Di samping tubuh, kecantikan wajah pun menjadi tantangan yang cukup menghebohkan di dunia persilatan wanita. Siapa wanita yang nggak ingin wajahnya cantik? Well, bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan wanita ingin cantik dengan berbagai alasan: kesempatan yang lebih banyak, jodoh yang lebih baik, feel better about ourselves. Tentu kita juga tidak bisa memilih mau wajah yang seperti apa (kecuali yang punya uang berlebih sehingga bisa operasi plastik di Korea Selatan). Namun, jika wanita Indonesia boleh memilih, kebanyakan akan memilih wajah putih merona, dengan kulit mulus tanpa jerawat dan komedo, well, mungkin persis seperti di iklan krim pemutih itu (yang sebenarnya merupakan pembodohan, karena muka si artisnya sudah diedit-edit sehingga menjadi artifisial).

Kedua, wanita dianggap sebagai orang yang multitasking. Come on, we all know that research about the bad idea of multitasking. Tapi by nature, we are all juggler. Mungkin otak wanita berevolusi sedemikian rupa sehingga kita bisa menjadi juggler yang lebih baik dari laki-laki. Kenapa begitu? Karena kita cenderung memiliki identitas yang lebih beragam. 

Sering tahu tentang topik dilema wanita karir? 
Saat berkeluarga, wanita akan menjadi ibu. And being a mother means you MUST make your child  as your priority. Penelitian McKinsey tentang wanita karir ini menarik. I forget the number, tapi lebih dari 50% wanita memutuskan untuk berhenti mengembangkan karir mereka for family matters. Because being a mother, wife, daughter, and also part of community can be pretty exhausting. Dilemanya, we realize that sense of achievement is pretty important. And also, we can be a better family member if we an support family financial matters. Karena itu, banyak dari wanita yang memutuskan untuk work harder as a mom and career woman. Ada satu kutipan menarik tentang ini yang saya dapat dari seorang wanita karir yang sukses, "Anak adalah amanah, pekerjaan adalah komitmen, suami adalah pengabdian. Jika ada bola yang jatuh, satu-satunya bola yang boleh jatuh adalah saya."

Ketiga, wanita itu cukup kompleks secara emosional. Berbeda dengan laki-laki, wanita lebih menginginkan perhatian dan kasih sayang daripada pengakuan dan kepercayaan. But, we, Indonesian women, live in a "modesty". Katakanlah, I love a man. I can't be so bluntly say that I love him. There's an unseen rule that a woman should keep her love in her deepest heart. It can be pretty complicated if I may say. Tidak hanya itu, masih banyak contoh kasus lain yang membuat perasaan wanita menjadi complicated. The secret is, sometimes, we just don't know what we want.

Rasa-rasanya menjadi wanita itu pekerjaan yang berat ya? Indeed. 

Tapi bukan berarti saya pesimis dan tidak suka akan kodrat saya menjadi wanita. 

Di balik segala tantangan, berada dalam tubuh wanita ini adalah hal yang sangat saya syukuri. Karena berbagai kesempatan. Kesempatan untuk menjadi ibu, kesempatan untuk menjadi keindahan dalam keluarga, and also becomes a special part in community. Terlebih lagi, kesempatan untuk melihat dunia dengan porsi kasih sayang yang besar. Apalagi di era sekarang, wanita tidak dipandang sebelah mata lagi. Banyak cerita kepemimpinan yang menginspirasi dari wanita-wanita Indonesia. 

Sungguh, sebenarnya jika wanita berfokus pada berbagai kelebihannya, we can be happier and contribute more.

You choose. Whether you worry too much about the weakness, or simply get over it and strengthen your special power as woman. 

If you ask me, I choose to be inspiration, with all things I've got in my imperfect body.
:)