Chapter 1: Alien yang Tidak Bisa Pulang

Sekotak Rumah Bestari

Chapter 1: Alien yang Tidak Bisa Pulang

Di dalam koper nilon abu-abu 35 kilogram, Bestari menyelipkan celana panjang terakhirnya dengan paksa. Sulitnya menutup resleting koper, ia memasukkan seluruh pakaian yang bisa muat di dalamnya. 

Koper besar, checked. Ransel kuning, checked. Tas travelling suede hitam, checked. Plastik camilan, checked. Bestari mengamati satu per satu barang bawaannya, kemudian tersenyum lega. Semua sudah lengkap. Seakan juga membuat checklist untuk tubuhnya, Bestari juga mengamati kalau-kalau ada yang masih kurang. Lipstick, checked. Eyeliner, checked, sedikit blush pipi, checked. Sepatu sandal andalan, checked. Oke, Bestari sudah siap. 

"Sudah? Nggak ada yang ketinggalan kan, nduk?" dari dapur terdengar suara ibunya, sedikit teriak. "Nggak ada, Ma," jawab Bestari, lirih. Hari ini, ia menghela napas lebih sering dari biasanya, seakan meminta penguatan di setiap tarikan dan hembusannya. Seorang perempuan keluar dari dapur, berkeringat tipis. Diulurkannya bungkusan plastik bentuk kotak untuk Bestari. 

"Nduk, ini bekal makan di kereta. Kamu hati-hati. Di sana banyak kejahatan. Jadi orang biasa-biasa saja, rak usah mencolok," kemudian perempuan itu mencium pipi dan kening Bestari. Ia membantu Bestari menaikkan barang bawaan ke bagasi sedan Corolla DX berwarna merah, bersama ayahnya. Akhirnya.

Bestari memandangi rumahnya. Rumah di Jalan Kamboja bersatu lantai yang dicat kuning muda itu tampak sayu. Sebagian besar dindingnya berjamur. Pagar yang sudah berkarat berdecit setiap dibuka. Oh, rumah ini, tempat 25 tahun lamanya Bestari hidup. Hidup? Ia risih menggumamkan kata hidup. Apa iya, di sini aku benar-benar hidup?, pikirnya.

Sudah lama Bestari merasa seperti alien. Merasa asing dan terasing dalam rumah sendiri. Ayah dan mamanya pun juga tampak seperti alien-alien dari planet yang berbeda, dan secara kebetulan ditempatkan dalam satu rumah. Memangnya dua makhluk yang berbeda bisa berkomunikasi? Memakai sandi morse pun tak mampu. Bestari bertanya-tanya, akankah kepergiannya akan membuat Bestari ingin kembali pulang ke rumah ini?

"Sudah siap, Bes?" tanya Ayah, membuyarkan lamunan Bestari. "Siap," 

Mobil Corolla milik ayah dinyalakan, terbatuk-batuk. Bestari menatap nanar rumahnya yang semakin menjauh. Kamu tidak bisa pulang, Bes. Oh iya, kamu memang tidak pernah punya tempat untuk berpulang, bukan?

Sekotak Rumah Bestari: Prolog


Prolog

Saya mengetik sedikit, kemudian meng-klik backspace - kejadian yang sama terjadi berulang kali. Tampaknya hampir dua tahun tanpa tulisan yang bermakna membuat tubuh saya resah saat dipaksa memproduksi karya tulisan yang berasal dari hati, didukung dengan rasa kantuk yang sudah berada pada angka 70%. Mati aku. Sungguh, untuk menulis tanpa embel-embel pekerjaan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Jika sering menyelami kata-kata bersama saya, kita mungkin seperti duduk-duduk di kafe terdekat, minum kopi hangat, dan mengobrol tentang berbagai hal random. Namun, kali ini saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Saya ingin bertutur melalui manifestasi tokoh dan kisah mengenai pandangan yang sangat personal mengenai sebuah rumah.

Rumah?

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar kata rumah? Rumah sering diasosiasikan dengan kata hangat - aman - rileks. Definisi umumnya adalah satu atau sekumpulan ruangan dalam satu petak tempat hidup, berlindung, dan berpulang. Memang terdengar biasa saja. Namun, bagi saya rumah adalah kata yang tercantik dalam kamus KBBI. Menurut perspektif saya dalam memandang lanskap dunia, rumah bukan hanya sepetak tanah dan sebangun bidang yang didekorasi supaya terkesan menarik. Apakah rumah di Pondok Indah lebih baik daripada rumah di pinggir stasiun Manggarai? Apakah benar bahwa definisi rumah dari Anda didapat dari iklan properti dan apartemen di televisi? 

Di dalam rumah yang sebenarnya, Anda bisa kentut sekeras-kerasnya tanpa harus khawatir akan penilaian orang terhadap nilai diri setelahnya. Di dalam rumah yang sebenarnya, Anda tidak perlu was-was sebelum tidur karena mengetahui Anda pasti akan mendengkur dengan keras dan membuat orang lain mentertawai Anda. Di dalam rumah, Anda bisa sesuka-suka bernyanyi dangdut koplo dan baik-baik saja jika terlihat kampungan. Di dalam rumah, Anda adalah Anda, seperti yang dikatakan oleh Maya Angelou: “I long, as does every human being, to be at home wherever I find myself.”

Lalu, apakah Anda benar-benar memiliki rumah?

Terkadang, rumah tidak serta-merta dimiliki, tetapi perlu dicari. Sebuah rumah yang sebenar-benarnya, sangat layak untuk menghabiskan waktu Anda mencari dalam perjalanan yang bermakna. Melalui tulisan ini, saya akan mengisahkan pencarian sebuah rumah dari seorang perempuan bernama Bestari.