Sekotak Rumah Bestari: Prolog


Prolog

Saya mengetik sedikit, kemudian meng-klik backspace - kejadian yang sama terjadi berulang kali. Tampaknya hampir dua tahun tanpa tulisan yang bermakna membuat tubuh saya resah saat dipaksa memproduksi karya tulisan yang berasal dari hati, didukung dengan rasa kantuk yang sudah berada pada angka 70%. Mati aku. Sungguh, untuk menulis tanpa embel-embel pekerjaan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Jika sering menyelami kata-kata bersama saya, kita mungkin seperti duduk-duduk di kafe terdekat, minum kopi hangat, dan mengobrol tentang berbagai hal random. Namun, kali ini saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Saya ingin bertutur melalui manifestasi tokoh dan kisah mengenai pandangan yang sangat personal mengenai sebuah rumah.

Rumah?

Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar kata rumah? Rumah sering diasosiasikan dengan kata hangat - aman - rileks. Definisi umumnya adalah satu atau sekumpulan ruangan dalam satu petak tempat hidup, berlindung, dan berpulang. Memang terdengar biasa saja. Namun, bagi saya rumah adalah kata yang tercantik dalam kamus KBBI. Menurut perspektif saya dalam memandang lanskap dunia, rumah bukan hanya sepetak tanah dan sebangun bidang yang didekorasi supaya terkesan menarik. Apakah rumah di Pondok Indah lebih baik daripada rumah di pinggir stasiun Manggarai? Apakah benar bahwa definisi rumah dari Anda didapat dari iklan properti dan apartemen di televisi? 

Di dalam rumah yang sebenarnya, Anda bisa kentut sekeras-kerasnya tanpa harus khawatir akan penilaian orang terhadap nilai diri setelahnya. Di dalam rumah yang sebenarnya, Anda tidak perlu was-was sebelum tidur karena mengetahui Anda pasti akan mendengkur dengan keras dan membuat orang lain mentertawai Anda. Di dalam rumah, Anda bisa sesuka-suka bernyanyi dangdut koplo dan baik-baik saja jika terlihat kampungan. Di dalam rumah, Anda adalah Anda, seperti yang dikatakan oleh Maya Angelou: “I long, as does every human being, to be at home wherever I find myself.”

Lalu, apakah Anda benar-benar memiliki rumah?

Terkadang, rumah tidak serta-merta dimiliki, tetapi perlu dicari. Sebuah rumah yang sebenar-benarnya, sangat layak untuk menghabiskan waktu Anda mencari dalam perjalanan yang bermakna. Melalui tulisan ini, saya akan mengisahkan pencarian sebuah rumah dari seorang perempuan bernama Bestari.

One Response so far.

  1. Anonim says:

    Salam hangat, Irviene.
    Saya baru saja membaca beberapa tulisan. Jam terbangnya sudah tinggi ya? Menarik cara menulisnya.
    Salam dari Mojokerto

Leave a Reply